Denting Piano Tua di Rumah Kapitan.

Rumah tua yang berada di belakang Hotel Lion, Jalan Sumatera kota Bagan Siapiapi terlihat kusam. Pintu setinggi 3 meter terbuat dari kayu miring dengan bagian depan yang tertutup debu, lantai kayu yang saya pijak di beberapa titik berderit. Terlihat rentang waktu panjang telah dilewati rumah ini. Langgam arsitektur rumah ini Tionghoa tempo dulu. Menurut keterangan ahli waris rumah, sudah mendekati 150 tahun rumah ini berdiri. Rumah tua ini dikenal dengan sebutan Rumah Kapitan.

Halaman depan rumah kapitan Tionghoa
Rumah Kapitan Tionghoa di Kota Bagan Siapiapi, Kabupaten Rokan Hilir. 
pintu masuk rumah Kapitan Tionghoa, Bagan Siapiapi
Bagian depan Rumah Kapitan Tionghoa, Kabupaten Rokan Hilir. 

Berdasarkan literatur  “ Revenue Farming in The Netherlands East Indies, 1816-1925” oleh Howard Dick, Michael Sullivan, dan Jhon Butcher. Pada tahun 1904, 25,9 juta ton ikan asin dan 10,1 juta ton terasi diekspor hingga Singapura dan Penang. Pada tahun inilah kota Bagan Siapiapi disebut sebagai penghasil ikan no 2 di dunia setelah Norwegia. Kejayaan industri perikanan ini tidak lepas dari para perantau Tionghoa yang sudah menetap sejak abad ke 18 (tahun 1860-an). Mereka ikut membangun Bagan Siapiapi bersama masyarakat Melayu dan Belanda.

01_14
pintu tua yang berada di Rumah Kapitan, kota Bagan Siapiapi.

 

pintu rumah yang miring
pintu tua dari Rumah Kapitan, Kota Bagan Siapiapi. 

Saat industri perikanan menjadi tulang punggung kota. Pembangunan infrastruktur di Bagan Siapiapi sangat pesat. Water leeding/ pdam, rumah sakit, pembangunan listrik, unit pemadam kebakaran, pelabuhan, bank, dan kantor Kontroleur adalah beberapa bangunan yang dibangun oleh Belanda untuk mendukung kota. Sekarang, bangunan-bangunan ini menjadi bagian dari sejarah kota Bagan Siapapiapi.

Masyarakat Tionghoa juga memberikan peran dalam perkembangan kota. Pada tahun 1930, berdasarkan sensus yang dilakukan oleh Belanda, masyarakat Tionghoa mendominasi Bagan Siapiapi, mereka berjumlah 11.993 jiwa. Jumlah ini naik sangat pesat dibandingan pada tahun 1900, saat kontroleur Belanda dipindahkan ke Bagan Siapiapi dari Tanah Putih. Untuk memudahkan mengontrol dan memonopoli masyarakat Tionghoa, Belanda menunjuk seorang Kapitan. Kapitan bermarga Ang bersama dengan patcher/pengepul dan tauke membuat sebuah perjanjian saling menguntungkan dalam membangun industri perikanan di kota Bagan Siapiapi.

 

Ukiran di pintu depan rumah kapitan
bagian bawah dari pintu yang ada di rumah Kapitan, Bagan Siapiapi. 

 

meja altar dan sepeda tiga roda yang berada di bagian dalam rumah
meja altar dan sepeda roda tiga yang berada di dalam rumah Kapitan Tionghoa, Bagan Siapiapi. 

Pagi itu, pintu setinggi 3 meter yang sudah miring di rumah Kapitan dibuka, biasanya pintu ini tertutup, saya cukup beruntung pagi ini. Bau tajam dari kotoran burung walet tercium saat saya masuk ke dalam rumah. Lantai kayu berderit terinjak kaki saat saya berada di ruang tamu rumah. Di bagian depan rumah tepatnya di ruang tamu, saya melihat sebuah pemandangan yang mengejutkan. Terdapat piano tua pada sudut ruangan, piano ini dibuat di tahun 1920 bermerek Zeitter and Winkelmann dari kota Braunschweig, Jerman. Pabrik piano ini sudah hancur saat perang dunia ke dua di bom oleh Sekutu. Saat saya menyentuh salah satu tut yang terbuat dari gading terdengar nada “ ting” yang lirih dan sumbang. Menurut cicit ahli waris rumah, Piano ini dibawa langsung oleh sang Kapitan dalam perjalanan pulang dari Singapura.

paino tua dan kursi tua yang di ruang tamu rumah Kapitan di Bagan Siaapiapi
Piano tua yang berada dipojok ruangan dari Rumah Kapitan

 

piano tua yang berasal dari Jerman
piano tua dari Jerman yang dibawa dari Singapura oleh Kapitan Tionghoa

Saat pelabuhan ikan di kota Bagan Siapiapi ramai maju, kapal-kapal dagang seminggu sekali singgah ke Bagan Siapiapi. Salah seorang patcher/pengepul ikan di Bagan, menjadi agen kapal KPM/ Koninklijke Paketvaart Maatschappij, KPM merupakan perusahaan pelayaran yang berasal dari Belanda. Seminggu sekali, kapal KPM berangkat menuju Singapura, membawa hasil olahan ikan dan manusia. Di Singapura, para Tionghoa kaya ini menikmati kehidupan kota Singapura. Saat kembali, mereka membawa cerita kemajuan Singapura ke Bagan Siapiapi. Akibatnya, pada tahun 1930-an, Bagan Siapiapi sudah memiliki pub, bioskop, dan hiburan malam lainnya. Menurut catatan kontroler Belanda, pada tahun 1930-an Bagan Siapiapi mendapat julukan Via Lumiere, kota Cahaya karena kehidupan malamnya yang semarak. Musik-musik Barat diperdengarkan di pub dan film-film diputar di Bioskop.

detail dari piano Zeitter dan Winkelmann yang beraasal dari Jerman
detail dari piano Zeitter & Winkelmann, Brauschweig. Jerman yang ada di rumah Kapitan Tionghoa, Bagan Siapiapi. 
bagian dalam piano yang butuh di restorasi
detail dari piano Zeitter & Winkelmann, Brauschweig. Jerman yang ada di rumah Kapitan Tionghoa, Bagan Siapiapi. 
detail bagian dalam piano
detail dari piano Zeitter & Winkelmann, Brauschweig. Jerman yang ada di rumah Kapitan Tionghoa, Bagan Siapiapi. 

Dari ruang tamu, saya dibawa ke bagian tengah rumah, terlebih dahulu saya melewati pintu penghubung setinggi 3 meter. Frame foto berukuran 60 x 40 cm kosong yang berada di atas pintu mejadi saksi bisu bahwa dahulu ada foto Kapitan Tionghoa disini. Di bagian tengah rumah, saya bisa melihat detail menarik dari plafon rumah, plafon rumah ini dipahat dengan detail sulur bunga. Menurut cucu ahli waris rumah yang juga seorang pemain barongsai. Tukang kayu untuk memahat rumah ini didatangkan dari Tionghoa. Secara tidak langsung, dirumah ini, kita bisa lihat masuknya musik barat di pesisir timur Sumatra.

bagian plafon dari rumah Kapitan
detail plafon dari rumah Kapitan Tionghoa, Bagan Siapiapi. 

Rumah tua Kapitan Tionghoa, menjadi saksi bisu cerita Bagan Siapiapi tempo dulu.

Advertisements

4 thoughts on “Denting Piano Tua di Rumah Kapitan.

  1. Menarik sekali ceritanya, Pak. Setidaknya masih ada sisa kejayaan bagan siapi-api di rumah Kapitam Tionghoa ini. Kira-kira mengapa Bagansiapiapi tidak malah bertambah maju ya Pak?

  2. Ngiler lihat detail dari rumah kapitan Tionghoa di Bagansiapiapi yang masih utuh seperti itu. Ukiran pintu kayunya, pianonya, ahhh sayang sekali belum berfungsi sebagai museum peranakan atau sebagai ruang yang bisa dinikmati oleh wisatawan yang tertarik dengan sejarah yah. Selain kunjungan mas Bayu, pemilik rumahnya terbuka dengan kedatangan orang asing yang hendak melihat rumah tersebut nggak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s