Belajar Keberagaman di Masjid Jami’ Muntok

Sinar matahari yang masuk dari jendela memberikan efek garis garis berwarna kuning kemerahan di atas sajadah berwarna hijau di depan saya.  Disebelah kanan, seorang pengurus mesjid terlihat sedang menarik kabel dari mesin penyedot debu, kemudian, suara mesin penyedot debu membelah keriuhan suara anak anak yang sedang bermain di halaman samping mesjid. Sore itu, mesjid ini ramai.

1
Tampak depan dari Masjid Jami, Muntok.
2
Bagian dalam mesjid Jami Muntok, kayu hitam yang menyangga mesjid bantuan dari Mayor Tionghoa.

Mesjid Jami’ Muntok, Bangka Barat adalah tujuan saya. Mesjid yang berdiri sejak tahun 1883 merupakan salah satu bukti perkembangan agama islam di kota yang di zaman Belanda menjadi kota industri timah yang maju. Selain sebagai simbol perkembangan agama islam, mesjid ini menjadi saksi pembauran antara tionghoa dan melayu di Bangka sejak abad ke 18.

3
Bagian atap masjid Jami Muntok.
4
Pintu dengan kaligrafi arab yang berada di masjid Jami, Muntok.

Menurut ceritanya, mesjid Jami’ dibangun pada masa pemerintahan H.Abang Muhammad Ali wakil Kesultanan Palembang yang  bergelar Tumenggung Karta Negara II.  Pembangunan mesjid ini dibantu oleh tokoh masyarakat Muntok, H. Nuh dan H. Yakub. Masjid Jami’ memiliki ukuran 21 meter x 23 meter. Dengan tinggi masjid 6 meter, diukur dari lantai masjid yang posisinya lebih tinggi dari permukaan tanah 160 sentimeter.

5
Tiang yang bergaya ionia di Masjid Jami Muntok.

Masjid Jami’ Muntok memiliki lima pintu, yang mengartikan lima rukun Islam. Ketiga pintu utama masjid setinggi 2,7 meter memiliki lubang angin berbentuk kaligrafi ayat-ayat al-Qur’an.  Dengan ukuran pintu yang besar, kondisi di dalam mesjid menjadi lebih sejuk karena sirkulasi angin yang keluar masuk lancar. Selain itu, lantai marmar berwarna putih keabuan yang berukuran besar menambah kesan sejuk dari masjid ini.  Di depan pintu masuk masjid, terdapat enam pilar. Karena dibangun pada tahun 1883, ada sentuhan aliran neo klasik pada mesjid ini, Aliran neo klasik adalah aliran arsitektur yang dibawa oleh Gubernur Hindia Belanda yang ke 36, Maarschalk en Gouverneur Generaal Herman William Daendels yang memerintah dari tahun 1808 sampai dengan 1811. Gaya aliran ini bisa dilihat pada enam pilar bergaya ionic yang berada di bagian depan mesjid.  Enam pilar ini merupakan penggambaran dari enam rukun iman.

Bagian luar dari masjid Jami Muntok, Kota Bangka.

Di saat pembangunan masjid, masyarakat melayu dan para pekerja timah yang sebagian besar adalah  warga  Tionghoa bergotong royong membangun. Selain dibantu  para pekerja timah yang saat itu dikenal dengan sebutan orang parit. Seorang major Tionghoa juga ikut membantu dalam pembangunan mesjid ini. Mayor yang bernama Tjoeng A Thiam  merupakan perwakilan dari Belanda yang mengatur warga Tionghoa, para pekerja timah. Mayor Tjoeng A Thiam yang memerintah di pulau Bangka pada tahun 1863 sampai 1896 memberikan bantuan dalam bentuk sumbangan empat kayu hitam/ kayu ulin yang berfungsi sebagai tiang utama penyangga atap masjid. Bantuan para pekerja timah dan Mayor Tionghoa dalam membangun mesjid memperliatkan wujud keberagaman yang sudah dari dahulu ada di  kota yang berjuluk Sejiran Setason ini.

7
Bagian atap dari mesjid Jami, kota Muntok.
8
Klenteng Kong Fuk Miao yang berdampingan dengan mesjid Jami, kota Muntok.

Dibagian atap masjid, ada insipirasi dari bentuk limasan masjid- masjid yang ada di pulau Jawa. Dari halaman masjid, saya melangkahkan kaki ke bangunan yang berada di sebelah kiri masjid. Sebuah jalan beraspal menjadi pemisah antara dua bangunan ini. Bangunan ini bernama Klenteng Kong Fuk Miao. Klenteng ini dibangun sebelum mesjid.  Kira-kira  83 taun sebelum mesjid didirikan. Salah seorang pengunjung mesjid dengan bangga menjelaskan kepada saya      “ inilah contoh dari keberagaman di Pulau Bangka pak, klenteng dan masjid bisa berdampingan”. Hari itu, halaman Klenteng Kong Fuk Mioa, sepi, tidak ada kegiatan sama sekali.

9
Mesjid Jami yang menjadi cagar budaya kota di Kota Muntok
10
Pintu penguhubung antara Klenteng Kong Fuk Miao dan mesjid Jami, kota Muntok.Mesjid dan Klenteng ini merupakan simbol keberagaman di Kota Muntok.

Karena sudah berumur lebih dari lima puluh tahun, mesjid Jami dan Klenteng Kong Fuk Miao menjadi benda cagar budaya di kota Muntok. Hal ini sesuai dengan UU no 11 tahun 2011. Mesjid Jami Kota Muntok dan Klenteng Kong Fuk Miao, salah satu wujud keberagaman  di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s