Museum Timah Bangka dan Kisah Sultan Ismail Siak.

Silahkan masuk Pak”,suara ramah dari Taufik, petugas meseum menyapa saya. “ Selamat datang di museum Timah, Bangka Belitung”.  Baju seragam dengan emblem PT Timah yang digunakan lelaki berperawakan sedang ini terlihat mencolok, saat dia menyambut kedatangan saya.  Pulau Bangka dan Belitung yang berada di timur Sumatera Selatan ini, selain memiliki pantai yang indah, kuliner yang menggoda lidah, adalah pulau penghasil timah terbesar di dunia. Pulau Bangka, pulau Belitung, bersama dengan pulau Kundur, Singkep, dan Anambas di Kepulauan Riau tergabung dalam gugusan sabuk timah/ tin belt yang sejak abad ke 17 sudah dieksplorasi..

1
Tampak depan dari museum Timah, Bangka.
DSC_0080
Replika dari prasasti batu kapur .

Meseum timah, menempati gedung administrasi dari Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning ( BTW ) yang berada di jalan Ahmad Yani no 179, Pangkal Pinang. Museum ini menyimpan sejarah perjalanan timah yang ada di Pulau Bangka. Museum ini dahulunya adalah rumah singgah dari Soekarno dan Agus Salim.  Pada tahun 1949, museum ini menjadi tempat perundingan Soekarno dengan UNCI (United Nations Commission for Indonesia) sehingga lahirlah perundingan Roem-Royen tanggal 7 Mei 1949.  Di tahun  1959, rumah ini dijadikan museum dengan tujuan mencatat sejarah pertimahan di pulau Bangka Belitung dan memperkenalkannya di masyarakat. Museum ini resmi dibuka sekaligus diresmikan pada 2 Agustus 1997.

2
Lokomotif buatan Inggris yang dahulu digunakan sebagai alat transportasi pengangkatan timah.
4
Logam tanah langka yang sekarang dipertahankan oleh pemerinah. Logam logam ini menjadi bahan baku pembuatan komponen elektronik dll.

Taufik menjelaskan kepada saya, sejarah penemuan Timah di pulau Bangka, dimulai sekitar tahun 1709 di Sungai Olin, Kecamatan Toboali, Bangka Selatan, oleh orang-orang Johor  yang saat itu juga sudah menambang timah di Semenanjung Malaka. Dengan temuan timah ini,   pelan-pelan pulau Bangka disinggahi  kapal-kapal dari China maupun Eropa untuk membeli komoditas ini. Saat tambang timah semakin maju, Sultan Palembang, Sultan Muhammad Mansur Jayo Ing Lago ( 1706-1714 ) mengutus orang orangnya ke negeri China untuk mencari tenaga tenaga kerja ahli dalam mengolah timah.

3
Buket/ timba yang digunakan oleh kapal keruk timah di laut sekitar Pulau Bangka dan Belitung.
9
Peta persebaran potensi geologi pulau Bangka di museum Timah.

Setelah melihat hasil timah di Pulau Bangka yang saat itu mulai menjanjikan, sekitar tahun 1722 VOC mengadakan perjanjian  monopoli  perdangangan timah dengan  Sultan Ratu Anum Kamaruddin.  Pada tahun 1700-an ini, penambangan timah di Bangka masih bersifat sederhana. Mengandalkan alat alat sederhana berupa cangkul, bor kayu, dan saringan tanah. Meskipun begitu, dalam perjalanannya, timah yang berasal dari pulau Bangka ini menjadi komoditas andalan. Bahkan para bajak laut yang dahulu berada di gugusan pulau tujuh, kepulauan Riau, ikut mengincar timah-timah ini.

5
Alat alat tambang sederhana yang digunakan di abad ke 17.
8
Alat survei Geologi yang digunakan di PT TImah.

Dalam buku Contesting Malayness: Malay Identity Across Boundaries, sub judul Raja Ismail and Siak Violence, Siak and the transformation of Malay Identity in the Eighteen Century yang ditulis oleh Timothy P Barnard. Dijelaskan, Sultan Ismail atau yang dikenal dengan nama Sultan Ismail Abdul Jalil Syah yang merupakan sultan ketiga dan keenam dari kerajaan Siak.  Sebelum dinobatkan menjadi raja adalah  bajak laut yang ditakuti di Semenanjung Malaka. Pada tahun 1767, Sultan Ismail mendapatkan bantuan dari Sultan Palembang sebesar 1000 pikul perak. Satu pikul perak saat itu seberat 67.5 kg, Sultan Ismail mendapatkan bantuan sebesar 67500 kg perak. Perak ini adalah imbalan kepada Sultan Ismail sebagai uang jaminan karena armada laut Sultan Ismail menjaga perairan disekitar pulau Bangka dari serangan para bajak laut. Selain mendapatkan imbalan, Sultan Palembang juga mengizinkan bangsawan kerajaan Siak, untuk membuka tambang tambang timah di Pulau Bangka.

11
Taufik menjelaskan diorama dari orang orang parit, atau para pekerja timah yang didatangkan langsung dari China pada abad ke 17.
10
Timah batangan hasil dari PT Timah,

Dari koridor pertama yang  menjelaskan perjalanan timah di Pulau Bangka. Taufik membawa saya ke koridor tengah museum. Di koridor ini terlihat alat-alat yang dahulu digunakan oleh penambang timah. Mereka dinamakan orang-orang parit. Istilah ini berasal dari  para pekerja timah dari China yang berkerja di saluran saluran tambang timah yang berukuran seperti parit atau selokan. Para pekerja ini  menggunakan alat alat sederhana seperti cangkul dan serok yang terbuat dari kayu.  Di koridor ini, saya juga melihat bor Bangka, bor ini merupakan bor temuan dari ahli Geologi Belanda, J. E Akkeringga.  Dia seorang geolog dari perusahaan Belanda, Banka Tin Winning ( BTW ). Alat temuan dari J. E Akkeringga menjadikan alat bor tusuk dari Tiongkok tergantikan.

7
Foto foto perjalanan dari kapal keruk timah.

Selain alat bor, di koridor tengah juga terdapat alat survei geologis yang sudah maju. Bagian  paling menarik dari koridor tengah ini adalah bahan-bahan tanah jarang atau logam tanah jarang yang merupakan hasil sampingan dari industri timah.  Bahan-bahan seperti zirkon dan monasit dengan gamblang diperlihatkan dalam rak yang ditutup oleh kaca. Menurut Taufik, bahan bahan ini yang sekarang berusaha diselamatkan oleh negara. Bahan tanah jarang memiliki potensi yang besar. Zirkon dan monasit merupakan bahan baku untuk industri elektronik seperti pembuatan papan sirkuit, komponen elektronik, bahkan bisa menjadi sumber bahan baku industri radio aktif. Jika tidak diamankan dan diolah di smelter, bahan tanah jarang ini akan keluar begitu saja menuju ke negara negara  industri elektronik. Taufik menjelaskan kepada saya, sambil tersenyum lebar, “Bahan bahan ini, sebelum diselamatkan seperti sekarang, hanya bernilai kurang dari Rp 50.000,- per kg nya. Padahal di luar negeri bisa mencapai jutaan rupiah per kg”, entah apa maksud dibalik senyum Taufik.

DSC_0052
Timah timah yang dijadikan suvenir di Museum Timah, Bangka.

Koridor ketiga yang merupakan koridor terakhir dari museum, terdapat sebuah diorama yang menceritakan perjalanan orang orang parit selama di Bangka. Para pekerja laki laki yang berasal dari Tionghoa ini dibawa Belanda saat mereka mulai diberikan izin monopoli industri timah. Menurut buku Coolie Labour in Colonial Indonesia, jumlah populasi orang orang parit ini pada tahun 1921 dipulau Bangka saja sebanyak 21.000 jiwa.  Mereka datang dan berkerja sebagai buruh di perusahaan Belanda. Baik itu di Banka Tin Winning ( BTW ) dan juga di Gemmenschappelijke Mijnbouwwonderneming Billiton ( di Pulau Belitung ). Orang orang parit yang datang ke Pulau Bangka ini dibawa dari Hongkong menggunakan kapal ke Singapura. Di Singapura, mereka akan “disalurkan” ke Bangka. Para pekerja ini membawa hutang yang harus mereka bayar kepada para “ sponsor “ sebesar 51.20 Gulden,bahkan di tahun 1920, nilai ini meningkat menjadi 176 gulden. Sesampainya di Bangka, mereka tidak dibayar dengan uang melainkan dengan candu dan perempuan. Orang orang parit inilah cikal bakal akulturasi  antara Melayu dan Tionghoa di Provinsi Bangka Belitung. “Itulah mengapa, kami orang orang Bangka terlihat mirip orang Tionghoa” Ujar Taufik.

Sebelum meninggalkan museum, Taufik mengajak saya melihat replika dari mesin penggalian timah yang sejak tahun 1892 sudah beroperasi di perairan Bangka dan Belitung. Mesin besar yang bekerja 24 jam dengan sistem shift per delapan jam, dibuat di Werf Condrad & Stock Hiijsch ( Harlem, Belanda), J & K Smit ( Kinderjik, Belanda ), dan Verschure & Co ( Amsterdam, Belanda). Dengan ukuran timba yang besar sampai 14 kubik feet. Timb-timba ini mengeruk timah dari Pulau Bangka dan sampai hari ini. Replika mesin penggali timah yang ada di museum ini bernama Kundur satu.

Meninggalkan museum yang dikelola oleh PT Timah, memberikan pertanyaan pada diri saya. Jika di Sawah Lunto ada museum orang orang rantai, di Bangka ada museum Timah, apakah mungkin di Riau, ada museum minyak bumi dan romusha?.

Advertisements

6 thoughts on “Museum Timah Bangka dan Kisah Sultan Ismail Siak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s