Balai Kerapatan Tinggi Siak, Saksi Sejarah yang Terlupakan.

bagian belakang dari Balai Kerapatan Tinggi kerajaan Siak.
Di lantai dua Balai Kerapatan Tinggi. Bagian tengah ini adalah tempat dimana Sultan Siak bersidang.

Bangunan ini berada di lima puluh meter kearah barat dari mesjid Syahabudin. Berdiri  kokoh dengan kolom kolom berukuran sepeluk manusia dewasa, kolom kolom di bangunan ini perpaduan antara kolom bergaya ionic, Yunani sebagai kolom utama  dan kolom kayu berukuran kecil.  Bangunan ini dibangun dengan langgam Indische Empire Style/ Neo klasik, pada zamannya kegiatan yang berlangsung dibangunan ini adalah penobatan raja, musyawarah pembesar kerajaan, dan persidangan. Aliran neo klasik adalah sebuah aliran arsitektur yang berkembang di Indonesia pada zaman Hindia Belanda, aliran ini dikenalkan oleh Gubernur Hindia Belanda yang ke 36, Maarschalk en Gouverneur Generaal Herman William Daendels yang memerintah dari tahun 1808 sampai dengan 1811.  Bangunan dua lantai ini dibangun pada tahun 1886, tiga tahun setelah gunung Krakatau meletus di Selat Sunda, di bawah pemerintahan Sultan Hassim Abdul jalil  Saifuddin, sultan yang kesebelas dari sebuah kerajaan yang dahulunya adalah kerajaan besar di pesisir timur Sumatera. Bangunan ini bernama Balai Kerapatan Tinggi. Salah satu bangunan yang berumur lebih dari seratus tahun di kota Siak.

Foto persidangan Sultan Siak, di balai Kerapatan Tinggi, dengan latar belakang adalah singasana Sultan Siak.
ruangan sidang Sultan Siak di Balai Kerapatan Adat.

Balai kerapatan tinggi dibangun dengan cara gotong royong yang melibatkan penduduk  yang mendiami wilayah Datuk Empat Suku, yaitu Datuk Suku Tanah Datar, Datuk Suku Pesisir, Datuk Suku Lima Puluh, dan Datuk Suku Kampar. Ditahun 1937, balai ini direnovasi oleh pemerintah Hindia Belanda. Pintu masuk dari bangunan berbentuk persegi empat dengan ukuran 30.8 x 30.2 meter persegi  berupa tangga yang terbuat dari beton, dengan letak pintu masuk balai kerapatan tinggi berada di tepi sungai Siak, dahulu sungai Siak dikenal sebagai sungai terdalam di Indonesia. Pintu keluar dari balai adalah dua buah tangga yang  berbeda. Tangga besi berada di sebelah kanan, sedangkan tangga kayu berada di sebelah kiri. Tangga kayu dan besi ini memiliki makna. Jika kita dinyatakan tidak bersalah dalam persidangan, kita akan  turun dari tangga besi. Sedangkan jika dinyatakan bersalah dalam persidangan, kita akan turun dari tangga kayu.

Rak rak penyimpan koleksi kebudayaan Siak, yang masih belum di isi.
Tangga turun yang terbuat dari besi. Pada zaman dahulu, jika kita terbukti tidak bersalah,maka kita akan turun dari tangga ini dari ruangan sidang.
Salah satu koleksi di Balai Kerapatan Adat, berupa parang
koleksi permainan rakyat zaman dahulu berupa layang layang dan perahu kecil/jong katil yang berada di lantai satu balai kerapatan adat Siak.
Surat surat lama dari zaman Belanda yang sudah diperbesar dan dipamerkan di lantai dua Balai Kerapatan Adat Siak.
Foto lama dari Sultan Siak pada saat penobatan ratu Wilheljulia di Belanda pada tahun 1800-an akhir.
Salah satu pintu di lantai dasar Balai Kerapatan Adat Siak.

Seratus tahun kemudian bangunan ini dijadikan sebagai  museum budaya dan warisan Siak. “Masuk lah, tak perlu bayar. Buka sendalnya terlebih dahulu”, sambut penjaga gedung. Sepertinya, bangunan ini kalah pamor dari istana Siak.  Hanya saya sendiri pengunjung siang itu. Gedung kerapatan sendiri terdiri atas dua lantai, lantai pertama terdiri dari tiga ruangan yang  dahulunya berfungsi sebagai kantor dan ruang Tuan Kadi kerajaan. Sekarang,tiga ruangan ini difungsikan sebagai ruangan penyimpan koleksi museum. Di ruangan tengah, yang merupakan ruang terbesar di lantai satu, terdapat koleksi parang dan alat penggiling karet menjadi lempengan. Selain itu, terdapat koleksi alat penangkap ikan seperti bubu yang digantung pada tembok bangunan yang dicat krem. Koleksi permainan rakyat yang dahulu dimainkan oleh anak-anak juga bisa dilihat di lantai satu. Congklak dan layang layang adalah beberapa koleksi permaian yang ada di museum ini. Sayangnya, saat saya datang. Koleksi koleksi dari  museum ini belum ditata dengan rapi, selain itu, rak rak kayu pada ruangan di sebelah kiri dan kanan di lantai satu masih kosong, belum diisi dengan koleksi museum. Sebelum berpindah ke lantai dua, ada sebuah pemandangan yang menarik di lantai satu. Di bagian atas dinding dinding museum. Terdapat foto-foto kegiatan dari Sultan Siak kesebelas,ayah dari sultan Syarif Kasim II,  Sultan Hassim Abdul jalil  Saifuddin yang sedang berkunjung ke Belanda saat penobatan ratu Belanda Wilhelmina di tahun 1889 bersama raja Kutai Kertanegara dan Raja Solo, selain itu juga terdapat foto dari sultan Siak kedua belas, Sultan Syarif Kasim II yang menggunakan baju kebesarannya.

salah satu surat yang berasal dari Belanda yang menceritakan pergantian pejabat Siak di masing masing daerah seperti Sungai Pakning, Pekanbaru, Kubu,
Tiang tiang besar yang bergaya Ionia dari arsitektur Balai Kerapatan Adat Siak.
Bagian puncak dari Balai Kerapatan Adat Siak.

Suasana di lantai dua balai kerapatan adat pengap. Kaca kaca yang ada diruangan  lantai dua ditutup semua. Akibatnya, keringat bercucuran di kening bahkan membasahi ketiak. Jika di lantai satu dari museum menggunakan lantai granit, di lantai dua terbuat dari kayu. Saya naik melalu tangga besi yang sudah dicat berwarna kuning. Pada bagian tengah lantai dua terdapat sebuah ruang utama yang menyimpan  singgasana kerajaan  Siak serta replika dari mahkota kerajaan Siak. Di depan singasana kerajaan, terdapat kursi kursi kayu yang disusun menyerupai sebuah ruangan persidangan. Foto hitam putih  yang diletakkan diatas pigura di depan singasana sudah menggambarkan bagaimana zaman dahulu, saat  Sultan Siak bersidang di lantai dua balai ini.

Selain koleksi kursi kursi tua kerajaan, terdapat koleksi yang mencuri perhatian di lantai dua. Pada koridor di lantai dua, terdapat koleksi dari surat surat pada  zaman kerajaan Siak masih berdiri. Surat surat ini dicetak diatas kertas mengkilap yang  berukuran  1 m x 50 cm. Surat surat berbahasa  Belanda dan ejaaan lama ini bertahun 1927 sampai dengan 1936. Sebagian besar isi surat ini menceritakan kegiatan Sultan, seperti undangan menghadiri pasar malam di Deli Serdang, pelantikan  kotroler di Pekanbaru, pemindahan kontroler Belanda di Siak dan Sungai Pakning, serta kontrak hasil bagi pertanian di Siak.  Saya langsung membayangkan pada zaman dahulu dengan menggunakan penerangan lampu lilin, Sultan Syarif Kasim II membalas surat dari kerajaan Deli Serdang. Suara derak tangga kayu saat turun menjadi penutup  perjalanan  di Siak. Balai Kerapatan Tinggi kerajaan Siak, salah satu saksi kejayaan kerajaan Siak yang patut untuk dikunjungi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s