Nyete dan Kopi Lelet

Jika kita ke Lasem. Setelah  menyusuri lorong- lorong desa yang penuh dengan bangunan tua peninggalan kejayaan masyarakat Tionghoa,  setelah mata dimanjakan oleh detail -detail dan warna merah menyala dari batik lasem. Saat nya kita beristirahat sejenak untuk meluruskan pinggang. Tempat yang tepat untuk  beristirahat di kota ini adalah warung kopi. Kenapa? Karena di warung kopi kita akan melihat  sebuah tradisi unik di kota Lasem. Tradisi ini berhubungan dengan kopi, rokok dan batik.

DSC_0203

DSC_0204

Saat berada di warung kopi, kita bisa memesan segelas kopi. Kopi lelet adalah ritual ngopi khas kota Lasem. Kopi yang digunakan dalam ritual ini bertekstur halus, kental dan agak asam, kopi yang digunakan adalah kopi robusta. Keunikan kopi  lelet adalah setelah segelas kopi yang diminum tandas.

DSC_0206

Tradisi ini dikenal   dengan nama  nyete. Nyete adalah kegiatan membatik di atas rokok. Tradisi ini agak berbeda dengan tradisi yang ada di warung-warung kopi. Biasanya, di warung kopi sebagai teman minum segelas kopi adalah obrolan panjang dengan tema tema yang ringan sampai berat. Di Lasem, ritual ini berganti dengan membatik. Ritualyang sama bisa ditemukan di warung warung kopi di Kota Rembang.

DSC_0208

Bagaimanakah cara nya nyete/ membatik ini? Terlebih dahulu ampas kopi yang halus  akan di keluarkan dari gelas kopi dan diletakkan ke tatakan gelas.  Setelah berada di atas tatakan ditambahkan  sedikit  susu kental manis. Susu kental manis berfungsi  sebagai perekat antara kertas rokok dan bubuk kopi. Setelah dirasa cukup kental. Dengan menggunakan tusuk gigi bahkan benang, proses membatik dimulai.

DSC_0208

Tidak ada motif yang mengikat dalam membatik ini. Masing masing orang  memiliki motif sendiri. Ada yang sederhana  berupa pola garis garis, dan ada yang bermain dengan motif-motif batik Lasem. Dengan penuh konsentrasi mereka berkreasi, Ada yang menganalogikan nyete seperti mereka membatik di atas kain. “ Beda media nya saja” ujar salah seorang pemuda Lasem di warung kopi.

DSC_0219

Setelah membatik selesai, hasil karya berupa sebatang rokok yang penuh dengan gambar sudah siap di hisap. Menurut para pemuda yang berada di warung kopi , rasa rokok yang mereka hisap. “ Mantap “.  Ada sedikit pahit dari kopi yang masuk kedalam rokok. Pak Karjin, pemilik warung kopi tempat saya ngopi menuturkan bahwa kunci kenikmatan nyete berada pada ampas kopi. Menurutnya, “untuk mendapatkan ampas kopi yang halus. Kopi ini harus di giling berkali kali. Bisa enam sampai tujuh kali penggilingan”. Hasil dari penggilingan adalah bubuk kopi halus yang bisa digunakan untuk nyete. Untuk mendapatkan ampas yang halus, membutuhkan sebuah pengorbanan. Dibutuhkan biji kopi dengan jumlah yang banyak. Sebagai gambaran, dari satu kilogram biji kopi setelah mengalami proses penggilingan berkali kali, berubah menjadi 500 gram bubuk kopi. Penyusutan yang terjadi dalam proses penggilingan cukup besar. Namun, dari bubuk halus ini tradisi nyete ada.

DSC_0228

Selain menyajikan kopi lelet. Di warung kopi yang berada di Lasem, kita juga bisa mencari makanan ringan seperti mie rebus, mie goreng bahkan jajanan pasar bisa kita temui disini.  Warung kopi di Lasem adalah pilihan yang tepat untuk beristirahat setelah mengelilingi kota tua ini. Selain kita bisa melihat tradisi unik Lasem. Kita juga bisa melihat wujud akulturasi antara tionghoa dan pribumi di kota ini. Tua, muda, China,Pribumi, bergabung dan larut dalam batik, kopi dan rokok mereka.

DSC_0233

Advertisements

9 thoughts on “Nyete dan Kopi Lelet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s