Desa Tenun Kaliuda yang Hening.

“Nggggggg”, motor yang saya kendarai meraung, tanjakan panjang dan menikung ke kiri harus saya lewati. “ Ckrak”, transmisi motor saya pindahkan ke satu, suara raungan motor semakin panjang. Sudah saatnya memikirkan untuk diet.

DSC_0030
Suasana dalam perjalanan menuju Kaliuda
DSC_0039
Benang yang akan di tenun, warna biru dan hijau adalah batas dari motif yang sudah dikerjakan sebelumnya.

Dalam perjalanan menyusuri jalur timur kota Wangaipu ini. Meskipun jalanannya mulus, namun, kondisi jalan sangat sepi. Jangankan mobil, motor saja masih bisa dihitung keberadaannya. Hanya kambing, kuda, dan sapi yang ramai terlihat. Sebelum tiba di desa tujuan saya selanjutnya, pada warung mie ayam di Kecamatan Melolo yang dikelola oleh perantau dari Solo, si mbak penjual menjelaskan kepada saya “ Masnya nantik setelah di Rende, jalan satu km, ada tanjakan panjang. Berhenti di puncak tanjakan dan lihat kebelakang. Rende terlihat indah dari atas”.  Sepertinya cerita mbak itu hiperbolis, pohon pohon tinggi menghalang pemandangan saya untuk melihat keindahan Rende dari atas. Hanya puncak atap  rumah yang terbuat dari ijuk yang terlihat. Puncak puncak atap rumah ini mencolok diantara rimbunan pohon.

DSC_0067
Rumah yang berada di desa Tenun Kaliuda
DSC_0047
Tenun Kaliuda yang akan diwarnai.
DSC_0051
Penenun desa Kaliuda yang sebagian besar adalah perempuan.

Dari desa Rende, saya akan menempuh perjalanan yang berjarak sekitar satu jam dengan kendaraan bermotor. Saya menuju sebuah desa tenun yang namanya sudah dikenal hingga keluar. Panas terik matahari terasa membakar kulit. Dan seperti kata bapa yang memberikan tempat berteduh ke saya saat menuju Rende. “Dorang datang saat musim hujan. Coba saat musim kemarau”  di sebelah timur, awan mendung hitam bergerombol. “ Berteduh lagi ni”.

Proses penggulungan benang yang akan ditenun menjadi tenun Sumba.

Saya menuju Kaliuda. Kaliuda  merupakan salah satu desa adat yang berada di Sumba Timur, desa ini berjarak 120 km dari kota Wangaipu, ibukota Kabupaten Sumba Timur.  Kaliuda  dikenal sebagai desa penenun. Tenun Sumba yang berasal dari Kaliuda sudah terkenal hingga ke manca negara. Jepang, Amerika, Belgia, Norwegia adalah beberapa negara tempat kain ini berlabuh.

DSC_0070
Motif kuda perang yang menjadi andalan tenun Sumba dari desa Kaliuda.
Hiasan kuda pacu dan kerbau pada kuburan yang berada di halaman depan rumah di desa Kaliuda, kuda pacu adalah motif andalan dari tenun desa Kaliuda

Setelah satu jam perjalanan dari kecamatan Melolo, saya sudah tiba di halaman desa adat Kaliuda. Kondisi desa sepi. Asumsi yang saya bangun dalam perjalanan lenyap. Di pikiran saya, desa ini akan ramai dengan suara gelak tawa perempuan Sumba, diselingi dengan suara beradunya alat tenun tradisional dari bambu yang digunakan oleh para penenun ini. “ Dorang cari apa kah?” seorang pemuda kampung menyapa saya. Dorang merupakan panggilan di Sumbawa untuk menanyakan anda. “ Ini Desa Kaliuda kah?” ujar saya. “ Betul, mari naik ke halaman rumah , kalo mau lihat lihat” ujarnya sembari tersenyum. Dari delapan rumah yang ada di desa Kaliuda, hanya satu ruma yang sibuk menenun. Sepertinya saya belum beruntung.

Motif kain sarung berupa kuda pacu,
DSC_0117
Proses penenunan kain sarung di desa Kaliuda, karena masih manual, proses pembuatan sepasang kain tenun sumba akan berlangsung lama. Sehingga harga kain tenun Sumba mahal.
DSC_0129
Proses menenun kain sarung sumba di desa Kaliuda yang masih tradisional.

Di halaman rumah bapa tua ini, saya bisa melihat proses pembuatan kain tenun Sumba dari Kaliuda yang terkenal itu. Anak perempuan sang bapa menjelaskan kepada saya. Warna dari kain tenun sumba ditentukan oleh musim, kemarau atau hujan. Jika masuk musim hujan, maka warna biru menjadi lebih pekat. Karena tanaman Indigo yang menjadi dasar warna biru ini tumbuh subur pada musim hujan, dan jika kain dibuat pada musim kemarau, maka warna yang menjadi pekat adalah warna merah, warna merah ini berasal dari akar mengkudu. Dia juga  menjelaskan kepada saya, warna warna dari kain tenun sumba yaitu merah, biru, dan kuning sudah memiliki pelanggan tersendiri. Sebagai contoh, warna coklat kemerahan ini  adalah kesenangan dari pembeli yang berasal dari Bali.

Proses pembuatan kain tenun sumba yang masih manual.
DSC_0100
karena tidak menggunakan tenaga mesin, maka proses pembuatan kain tenun Sumba berlangsung lama.
DSC_0136
Benang yang bewarna merah, benang ini dibeli di kabupaten Wangaipu, berjarak dua jam perjalanan dari desa Kaliuda.
DSC_0139
Kuburan bangsawan desa Kaliuda. Dengan hiasan motif tenun Sumba Kaliuda.

Selain itu, anak perempuan bapa juga menjelaskan kepada saya, bahwa motif dari masing masing kampung yang bertenun beda, bahkan motif antar rumah yang tinggal berdekatan saja berbeda. “Motif tenun Kaliuda adalah motif  kuda pacu ”  ujar anak perempuan bapa sembari menenun. Proses pembuatan tenun Sumba bisa berlangsung lama karena proses pemintalan benang, pewarnaan, dan menenun dilakukan secara manual. membutuhkan waktu kurang lebih seminggu untuk membuat satu set kain Sumba. Sehingga adalah wajar jika harga tenun Kaliuda bisa mencapai tiga juta rupiah untuk kain sarung. Rasa capek setelah dua setengah jam dari Kota Wangaipu menjadi hilang setelah melihat tenun Sumba dari Desa Kaliuda.

Advertisements

2 thoughts on “Desa Tenun Kaliuda yang Hening.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s