Keraton Solo dan Menara Sanggabuwana.

Setelah melewati pintu kayu berukuran besar, saya masuk ke bagian dalam bangunan. Saya datang terlalu cepat, petugas kebersihan masih sibuk menyapu halaman  dan koridor. Komplek bangunan ini masih sepi.

DSC_0012

Keraton Surakarta Hadiningrat nama dari bangunan ini. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwana II pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743. Istana terakhir Kesultanan Mataram ini didirikan di Desa Sala (Solo). Istana  menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kesultanan Mataram oleh Susuhunan Pakubuwana II kepada VOC pada tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini dijadikan sebagai istana resmi bagi Kasunanan Surakarta. Kompleks bangunan masih berfungsi sebagai tempat tinggal Sri Sunan dan rumah tangga istana yang masih menjalankan tradisi kerajaan hingga saat ini.

DSC_0020

DSC_0028

Keraton Surakarta dibuka dari pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIb. Keraton ini menyimpan benda benda bersejarah peninggalan Kesultanan Mataram.  Dari pintu masuk besar yang terbuat dari kayu,  koridor sebelah kiri menjadi tujuan pertama saya. Di sini terdapat  koleksi istana berupa diorama perlawanan panglima Diponegoro dalam melawan penjajah. Sayangnya, diorama meletusnya perang Jawa (1825-1830 berada dalam keadaan yang penuh dengan debu. Di depan diorama, terdapat joli jemponno.  Joli jempono merupakan alat transportasi berupa tandu yang  digunakan oleh putri raja saat jadi pengantin atau bepergian, selain itu juga terdapat  kremun yang digunakan untuk mengangkut peralatan keraton, jolen yang digunakan untuk mengangkut benda sakral, dan gawangan yang digunakan untuk menggantungkan sesaji.

DSC_0014

DSC_0045

Masih di koridor kiri, terdapat ruangan yang menyimpan kereta kencana raja raja Solo. Disini terdapat kereta kereta kencana seperti Kereta Kyai Garuda (persembahan VOC kepada Pakubuwono II pada tahun 1726), Kereta Kyai Garuda Putra (kereta yang digunakan dari masa Pakubuwono VII sampai Pakubuwono X), dan Kereta Kyai Morosebo (kereta kerajaan yang dipakai oleh Pakubuwono III).

DSC_0049

DSC_0072

Dari koridor kiri, saya berpindah ke koridor kanan. Di koridor kanan, terdapat ruangan yang berisikan kursi tua peninggalan dari Pakubuwono IV. Beliau adalah raja ketiga Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1788 – 1820, ia dijuluki sebagai Sunan Bagus karena naik tahta dalam usia muda dan berwajah tampan. Diatas dinding putih dari ruangan tempat menyimpan kursi ini terdapat lukisan raja raja Solo. Dari ruang pertama, masih dalam koridor yang sama, terdapat ruangan yang menyimpan arca arca. Sisi-sisi ruang arca dihiasi lemari berlapis kaca yang memamerkan arca perunggu seperti Buddha, Buddha Avalokiteswara, serta berbagai alat upacara. Koleksi lain yang juga ada di ruang ini adalah arca batu peninggalan zaman purbakala.

DSC_0190

DSC_0209

Dari ruangan yang menyimpan arca, tujuan selanjutnya adalah Sasana Sewaka, bangunan ini merupakan peninggalan pendapa istana Kartasura , tempat ini pernah mengalami kebakaran pada  tahun 1985. Sebelum memasuki halaman Sasana Sewaka, terlebih dahulu saya menggunakan kain batik yang disampirkan ke pinggang serta melepaskan alas kaki saya.  Sasana Sewaka adalah kawasan yang disucikan. Pada  halaman Sasana Sewaka terdapat pasir halus yang berwarna abu abu kehitaman. Pasir ini merupakan pasir yang berasal dari Gunung Merapi dan Pantai Parangkusumo. Seorang Abdi Dalem yang ikut menemani saya mengatakan bahwa pasir yang berada di halaman sasana tidak boleh diambil. Ada sebuah kepercayaan bagi sebagian masyarakat bawa pasir yang berada di halaman Sasana Sewaka mengandung berkah sehingga ada yang  mengambil pasir untuk dibawa pulang.

DSC_0231

DSC_0240

Disebelah kiri Sasana Sewaka berdiri sebuah panggung tua. Panggung ini bernama Panggung Sanggabuwana. Menurut sejarahnya, bangunan yang memiliki ketinggian kira-kira 30 meter dibangun dengan tujuan untuk mematai matai Belanda yang berada di benteng Vastenburg. Ada sebuah kepercayaan dari masyarakat Solo, bahwa bangunan-bangunan yang berdiri di kota Solo tidak boleh melebihi tinggi dari panggung Sanggabuwana. Mereka percaya jika ada  bangunan yang melanggar pantangan ini  maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tetapi, sekarang,  kota Solo mulai dikepung oleh apartemen apartemen dengan tinggi diatas bangunan Sanggabuwana, apakah mitos ini masih ada?. Selain berfungsi sebagai tempat gintaian, panggung ini juga  berfungsi  sebagai tempat raja bersemedi.  Konon kabarnya, raja Solo dan Ratu Kidul  bertemu di dalam panggung ini. Sang Abdi Dalem yang tidak mau disebut namanya menjelaskan kepada saya bahwa tokoh tokoh partai politik sering berkunjung kedalam panggung Sanggabuwana untuk menyepi.

Dengan harga tiket Rp 10.000,- . Keraton Surakarta adalah tempat wisata yang memiliki banyak cerita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s