Desa Adat dan Tenun Rende.

Sudah satu jam menaiki motor, savana dan bukit kering masih menjadi pemandangan yang dominan,  hanya beberapa rumah yang terlihat di tepi jalan serta rombongan sapi, kuda dan domba yang merumput dengan nyaman. Mereka melirik dengan tatapan penasaran. Seolah oleh bertanya “ siapa kah orang ini, yang berkendara ditengah terik matahari”. Di sebelah, selatan awan hitam, mulai bergerak kearah perbukitan. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun. Kecepatan motor ditambah, karena motor yang saya sewa tidak memiliki jas hujan.

Suasasana di sepanjang perjalanan menuju Rende. Sumba Timur.
Savana di sepanjang perjalanan menuju Rende.

Perjalanan ini berhenti sebentar di sebuah rumah yang berada di tepi  jalan. Hujan turun tepat saat motor yang saya naiki berusaha melewati tanjakan. Pemilik rumah dengan ramah membukakan pintu kiosnya agar saya bisa berteduh dengan nyaman. Dari pemilik rumah, saya mendapatkan informasi bahwa tujuan saya berjarak tiga puluh menit lagi. “ Dorang jalan terus, sampai Melolo, dari Melolo sudah dekat” ujar si bapak sembari mengelus kepala anjingnya yang sedari tadi sibuk mengendus endus saya. Sepertinya, perpaduan bau matahari dan keringat terlihat seksi.

Savana dalam perjanalan menuju Rende.
Sapi yang merumput dalam perjalanan menuju Rende.

“Dorang datang saat musim hujan di sini, coba saat musim kering“ sambungnya. Setelah hujan reda, saya melanjutkan perjalanan. Tiga puluh menit dari tempat saya berteduh, plang nama Kecamatan Melolo sudah terlihat,namun, tujuan saya masih berjarak sepuluh menit berkendara dari kecamatan Melolo. Tempat yang saya tuju bernama Rende.

Rumah terakhir Raja Rende.

Rende merupakan salah satu desa adat yang berada di Sumba Timur, desa ini berjarak satu jam setengah dari kota Wangaipu, ibukota Kabupaten Sumba Timur.  Rende merupakan desa yang masih memeluk agama leluhur, agama ini dikenal dengan Marapu. Di Rende saya bisa melihat rumah rumah adat dari masyarakat Sumba, selain itu, saya juga bisa melihat tenun Sumba Timur yang terkenal itu.

Kuburan batu di Rende, Sumba Timur.
Rumah di Rende yang sudah beratap seng.

Setelah mengisi buku tamu, saya dipersilahkan melihat rumah rumah tua yang sudah berumur mendekati 200 tahun dan kubur batu dari bangsawan Rende. Tradisi di masyarakat Sumba adalah menguburkan orang yang meninggal di halaman depan rumah. Di Rende, saya melihat kubur batu yang berukuran sangat besar. Batu batu penyusun kuburan ini berasal dari bukit disekitar Rende dengan berat kurang lebih satu ton, ada detail yang menarik dari kubur batu ini. Di bagian atas kubur batu, terdapat penji atau menara terbuat dari batu yang dipahat berbentuk simbol simbol dari bangsawan Rende. Simbol seperti kura kura, burung kakak tua, buaya, dan kuda pacu bisa dilihat pada bagian atas kuburan yang berbentuk seperti rumah dengan empat pilar. Simbol simbol ini memiliki arti, seperti burung kakak tua yang menggambarkan kerukunan. Kubur batu raja pertama dari Rende menggunakan simbol kerbau pada bagian atas kuburnya. Kuburan ini terdiri dari kuburan bangsawan dan para pendampingnya.

Rumah adat Sumba yang berada di Rende. Rumah adat ini masih menggunakan atap alang alang.
Rambu Intan dan tenun Sumba di Rende.

Di sebelah kiri dari kubur batu, terdapat rumah dua lantai dengan kondisi yang sudah rapuh. Rumah ini adalah rumah raja terakhir kerajaan Rende. Rumah ini berdinding kulit kerbau. Melihat kondisi rumah yang sudah rapuh, rasanya sungkan untuk meminta masuk melihat kondisi dalam rumah. Jangan sampai saya masuk berita harian lokal yang berjudul“ rumah  Raja Rende rusak parah karena berat badan tamu yang berkunjung”.

Benang yang nantinya akan di tenun dan diwarnai.
tenun dengan motif bunga dan berwarna biru. Tenun ini menjadi tenun yang disenangi oleh turis Jepang.

Di bagian kanan dari kubur batu, terdapat rumah adat sumba yang beratapkan alang alang. Seorang wanita berumur kurang lebih 60 tahun menyapa saya.  “Naiklah”, ujarnya. Saya disambut oleh seorang penenun yang juga merupakan keturunan Kerajaan Rende. Dia bernama Rambu Intan. Dari beliau, saya mendapatkan penjelasan pewarnaan dari kain tenun Sumba Timur. Warna dari kain tenun sumba ditentukan oleh musim, kemarau atau hujan. Jika masuk musim hujan, maka warna biru menjadi lebih pekat. Karena tanaman Indigo yang menjadi dasar warna biru ini tumbuh subur pada musim hujan, dan jika kain dibuat pada musim kemarau, maka warna yang menjadi pekat adalah warna merah, warna merah ini berasal dari akar mengkudu.  Rambu Intan menjelaskan kepada saya, warna warna dari kain tenun sumba yaitu merah, biru, dan kuning sudah memiliki pelanggan tersendiri. Sebagai contoh, warna biru adalah kesenangan dari tamu tamu yang berasal dari Jepang.

Tenun yang bewarna merah kecoklatan. Tenun berwarna merah adala tenun yang sering dibeli tamu tamu lokal dari Jakarta, Surabaya, Bali, dll.

Selain itu, Rambu Intan juga menjelaskan kepada saya, bahwa motif dari masing masing kampung yang bertenun beda, bahkan motif antar rumah yang tinggal berdekatan saja berbeda. “ Motif tenun Rende, biasanya kura kura, monyet, dan buaya” ujar perempuan yang sudah pameran tenun hingga ke Jepang dan Amerika ini.  Proses pembuatan tenun yang lama, motif yang rumit, dan masih menggunakan pewarnaan alami adalah beberapa alasan kenapa kain tenun Sumba memiliki harga yang mahal. “ Nanti bertemu ya di Inacraft, Jakarta” ujar Rambu Intan sebelum saya meninggalkan Desa Rende.

Tenun Sumba Timur di Kampung Rende.

Desa Rende, sebuah desa adat di Sumba Timur, tempat yang menarik untuk mempelajari tenun Sumba Timur.

Advertisements

6 thoughts on “Desa Adat dan Tenun Rende.

  1. Sayah harus menjura dan kagum sama tulisan ente om. Bisa dengan bagus mentransformasikan gambar kedalam kata yang begitu runut..

    Bakal rajin mampir sayah untuk cari inspirasi menulis perjalanan

    – Ardner – Peninta.Com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s