Kedamaian Telaga Dewi Gunung Singgalang

Hawa dingin langsung menyergap saat saya tiba di pos pemancar stasiun tivi. Pos pemancar merupakan pintu masuk menuju gunung, sebelumnya, rombongan kami sudah melapor pada base camp pendakian. Base camp ini sangat sederhana, berukuran kecil seperti pos ronda, tidak ada penjelasan lebih lanjut dari dua orang penjaga base camp mengenai apa yang bisa dan apa yang tidak bisa kami lakukan saat nanti berada di atas sana. Suasana yang agak berbeda dengan base campbase camp yang biasa saya temui di pulau Jawa. Cukup dengan membayar Rp7500,- dan mencatatkan nama nama peserta pendaki di buku tamu, maka rombongan kami sudah bisa mendaki.

Perjalanan menuju Telaga Dewi

Dari base camp, rombongan kami harus melanjutkan perjalanan sejauh dua kilometer dengan kontur yang menanjak, jalan yang tadinya aspal mulus, sekarang berubah menjadi jalan makadam dengan pemandangan di kiri kanan adalah ladang sayur dari masyarakat. Cabe, kol, kentang, adalah beberapa komoditas yang bisa saya lihat secara langsung.

Bunga di jalur pendakian

Kali ini, saya menuju ke Gunung Singgalang, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat. Gunung Singgalang merupakan gunung yang bertipe strato volcano, strato adalah gunung yang tersusun dari batuan hasil letusan dengan tipe letusan berubah-ubah sehingga dapat menghasilkan susunan yang berlapis-lapis dari beberapa jenis batuan, sehingga membentuk suatu kerucut besar (raksasa), kadang-kadang bentuknya tidak beraturan. Gunung Singgalang memiliki ketinggian 2877 meter diatas permukaan laut/mdpl. Untuk menuju gunung Singgalang, terlebih dahulu saya akan melewati Kenagarian Pandai Sikek. Jalur Pandai Sikek merupakan jalur yang paling sering digunakan oleh para penikmat gunung untuk berkunjung ke Singgalang, Desa Pandai Sikek merupakan desa tempat pembuatan songket yang terkenal di Sumatera Barat, songket ini dikenal dengan nama songket Pandai Sikek.

Gunung Marapi terlihat dari cadas

Setelah melewati tower stasiun televisi, jalur pendakian gunung Singgalang memberikan kejutan kepada saya. Kejutan ini berupa jalur yang di kurung oleh tumbuhan pimpiang, pimpiang adalah nama yang diberikan oleh masyarakat desa terhadap rumput yang berukuran seperti tebu, jalur masuk pendakian gunung Singgalang di dominasi oleh tanaman ini. Pimpiang tumbuh hingga saling berkait membentuk terowongan alam yang memiliki ketinggian satu meter hingga satu setengah meter.Merunduk dan merangkak adalah cara yang paling tepat melewati jalur ini, kejutan ini semakin bertambah saat jalur tanah yang saya pijaki semakin keatas semakin berubah bentuk menjadi cerukan alur air. Dibutuhkan waktu satu jam dari pos pemancar menuju pos satu.

Gunung Marapi tertutup awan terlihat dari cadas

Gunung Singgalang mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous atau hutan gunung.Karena tutupan hutan msih terjaga dengan baik, gunung Singgalang memiliki mata air yang melimpah. Pos pos yang ada di gunung ini berdekatan dengan mata air, sehingga memudahkan bagi para penikmat gunung untuk mengisi kembali logistik mereka setelah berjuang melewati jalur yang ada. Setelah mengisi kembali logistik berupa air pada pos satu, perjalanan kembali saya lanjutkan.Tujuan selanjutnya adalah pos dua. Dalam perjalanan menuju pos dua, kemiringan jalur masih normal, sekitar 30 derajat. Hujan yang turun dari awal kedatangan menambah serunya perjalanan. Sama seperti pada pos satu, pos dua memiliki sumber mata air, terdapat sungai di sebelah kanan jembatan kayu. Lama perjalanan dari pos satu menuju pos dua adalah satu jam perjalanan.

Pohon di atas cadas

Inti dari perjalanan di Gunung Singgalang, adalah dari pos dua menuju pos tiga. Dari pos dua, metode scrambler/mendaki dengan menggunakan tangan akan banyak digunakan pada jalur pendakian. Kondisi jalur dari pos dua menuju pos tiga memiliki kemiringan 45 derajat, akar akar pohon yang tumbuh di kiri, kanan, dan tengah jalur menjadi pijakan kaki. Perjalanan menjadi semakin seru saat di beberapa titik pada jalur ini terkena longsor yang bersifat lokal. Sehingga, terbentuklah tebing dengan ketinggian dua hingga tiga meter pada jalur menuju pos tiga, Saya harus memanjat melewati akar akar pohon yang menonjol dari tanah untuk melewati tebing ini. Dibutuhkan waktu dua jam dari pos dua menuju pos tiga.

Tumbuhan paku dalam perjalanan menuju puncak

Pos tiga merupakan tempat istirahat sementara yang ideal, pos tiga ini dekat dengan sumber mata air, jarak sumber mata air, lima menit turun ke arah lembah. Pos tiga bisa menampung enam tenda untuk lima orang. Namun, jarak dari pos tiga menuju puncak Gunung Singgalang, masih jauh, dibutuhkan waktu tiga jam berjalan kaki dari pos tiga menuju puncak. Setelah pos tiga, pos empat sudah menunggu kedatangan saya, jalan menuju pos empat relatif lebih landai dibandingkan dari pos dua menuju pos tiga. Kemiringan jalur menjadi tiga puluh derajat. Akar akar pohon masih menjadi pijakan pada jalur ini. Pemandangan di jalur pos empat memanjakan mata. Lumut lumut tumbuh menyelimuti pohon pohon dengan diameter dua pelukan manusia dewasa yang tumbuh di kiri kanan jalur, selain itu,anggrek liar terlihat tumbuh menggerombol pada bagian kanopi pohon.Saat saya memutar badan kebelakang, menghadap kearah timur, Sosok Gunung Marapi akan terlihat dari sela sela hutan Gunung Singgalang. Dua Gunung ini, Marapi dan Singgalang adalah dua gunung yann menjadi ikon kota Bukittinggi.

Hutan lumut di dekat puncak gunung Singgalang

Karena masih memiliki hutan yang rapat, dari pos satu hingga pos empat, pohon pohon dengan berukuran dua pelukan manusia dewasa menjadi teman perjalanan, ujung dari pos empat adalah sebuah kawasan terbuka yang dinamakan cadas. Cadas adalah kawasan perbukitan yang tersusun dari batuan yang bewarna kekuningan, vegetasi pada kawasan ini mulai berubah. Cadas didominasi cantigi/ Vaccinium varingiaefolium, tamanan perdu, serta lumut janggut /Usnea yang berwarna putih. Sayangnya saya tidak membawa altimeter, sehingga ketinggian dari cadas tidak bisa direkam.

Hutan lumut dalam perjalanan menuju puncak Singgalang

Dari cadas, dibutuhkan satu jam untuk menuju puncak Gunung Singgalang, dalam perjalanan menuju puncak. Saya akan melewati terlebih dahulu hutan lumut. Hijau nya lumut yang meyelimuti kayu kayu dalam perjalanan menuju puncak ini seolah olah menarik saya dalam setting film kolosal dari novel J.R.R. Tolkien. Lord Of The Ring.

Hutan lumut dalam perjalanan menuju puncak Singgalang

Ujung perjalanan panjang saya adalah puncak dari Gunung Singgalang, pada bagian puncak gunung Singgalang, terdapat sebuah telaga. Telaga ini bernama Telaga Dewi, telaga dewi terbentuk dari hasil letusan yang terjadi ribuan tahun yang lalu di Gunung Singgalang. Jika ingin melihat puncak sejati dari gunung ini, dari telaga, berjalan kearah kanan menyusuri danau, tower radio yang ada diujung danau adalah puncak dari Gunung Singgalang. Tenangnya telaga dewi membuat betis yang sudah mulai panas, terlupakan.

Hutan di puncak Singgalang
Telaga Dewi di Puncak Gunung Singgalang
Telaga Dewi di puncak Gunung Singgalang
Advertisements

10 thoughts on “Kedamaian Telaga Dewi Gunung Singgalang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s