Jalan Jalan ke Desa Adat Batu Songgan

Makai apa tadi, robin atau jhonson?” kalimat ini datang dari salah seorang pemuda desa yang menyambut kedatangan saya di tepi sungai setelah satu jam lima belas menit mengarungi sungai Subayang. Awalnya, saya tidak mengerti dari mana asal muasal istilah ini, ternyata jhonson dan robin merupakan istilah dari tipe mesin dan perahu yang digunakan masyarakat yang tinggal di tepi sungai sebagai alat transportasi mereka. Jhonson untuk perahu yang memiliki daya angkut sampai dengan satu ton, sedangkan robin untuk perahu yang memiliki daya angkut hingga 500kg.

Selamat Datang di Desa Batu Songgan

Perahu yang saya tumpangi berangkat dari Desa Gema, Kecamatan Lipat Kain, Kabupaten Kampar. Gema merupakan desa terakhir untuk menuju ke bagian hulu Sungai Kampar Kiri. Saya berperahu menuju sebuah desa adat yang ada di hulu Sungai Subayang, anak dari sungai Kampar. Desa ini bernama desa adat Batu Songgan, Batu Songgan adalah salah satu desa dari kekhalifahan Batu Songgan. Kekhalifahan adalah sistem pemerintahan adat yang digunakan di desa. kekhalifahan Batu Songgan berada pada zona inti dari Suaka Margasatwa Rimbang Baling, Provinsi Riau. Jauh sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai Suaka Marga satwa, masyarakat sudah terlebih dahulu tinggal dan menetap di tepian sungai Subayang. Pada tahun 1985 saat kawasan hulu dari sungai Kampar ditetapkan sebagai suaka margasatwa, masyarakat yang sudah menetap ratusan tahun di dalam zona inti menjadi terkurung dalam hutan yang sejak dahulu sudah mereka jaga.

Desa Gema yang merupakan pintu masuk menuju Desa Adat Batu Songgan

Terdapat enam desa adat yang berada di dalam kekhalifahan Batu Songgan, mereka adalah Tanjung Beringin, Gajah Bertelut, Aur Kuning,Batu Songgan, Terusan, Salo, dan Pangkalan Serai. Keenam desa adat ini diperintah oleh seorang khalifah, menurut Ulil Amri, salah seorang anggota pokja ekowisata Batu Songgan, dalam struktur pemerintahan adat batu Songgan, datuk khalifah adalah seorang pemimpin tertinggi dari masyarakat adat. Jika diambil analogi pemerintahan yang selama ini kita kenal, datuk khalifah merupakan seorang Presiden. Kekhalifahan Batu Songgan dipimpin oleh Lahasimo yang bergelar Datuk Godang Kekhalifahan Batu Songgan, beliau ditunjuk secara adat sejak tahun 1988.

Salah Satu Pemandangan pada di tepi sungai Subayang

Batu Songgan memiliki arti batu tempat piring, penamaan ini berasal dari sebuah hikayat yang diceritakan secara turun temurun. Alkisah, pada zaman dahulu kala. Tersebutlah seorang putri yang sangat cantik jelita, putri ini bernama putrid Lindung Bulan, kecantikan dari putri Lindung Bulan tersebar hingga ke seantero negeri. Tersebutlah seorang Hulu Balang kerajaan Portugis yang bergelar Gagak Jao, Dia diutus oleh Raja untuk membawa sang putrid, sang putri akan dijadikan permaisuri oleh Raja. Gagak Jao, berangkat menuju bagian hulu Sungai Kampar. Mengetahui dia akan diculik oleh sang Hulu Balang, putri Lindung Bulan melarikan diri kearah hilir dari Sungai Subayang. Saat Gagak Jao melewati sebuah negeri yang bernama Bagan Koto Tanjung, ada seorang pemuda yang sedang membuat songgan, songgan memiliki arti sebagai tempat piring dan mangkok untuk dicuci. Karena takut dengan wujud Gagak Jao, pemuda ini melarikan diri , songgan yang tadi sedang dibuat oleh pemuda ini, direndam ke dalam sungai. Setelah mendapatkan kabar bahwa Gagak Jao sudah mati, maka kembalilah sang pemuda ke Bagan Koto Tanjung, saat dia akan mengambil songgan yang tadinya direndam di dalam air, terkejutlah ia, songgan yang direndam tadi sudah berubah menjadi batu. Maka,berubahlah nama dari Bagan Koto Tanjung menjadi nama Batu Songgan.

Suasana desa Batu Songgan, Kampar Kiri Hulu

Desa adat Batu Songgan masih menjunjung tinggi hukum adat yang ditetapkan secara turun temurun di desa mereka. Diantara hukum adat yang masih mereka junjung adalah, mereka masih mengakui keberadaan datuk/ harimau yang berperan sebagai penjaga hutan mereka. Masyarakat adat Batu Songgan percaya bahwa jika mereka melanggar sumpah adat, dalam pengelolaan hutan. Maka mereka akan mati diterkam oleh harimau yang menjaga hutan mereka. Sedangkan untuk pengelolaa sungai, mereka percaya dengan adanya lubuk larangan. Lubuk Larangan adalah sebuah metode yang dilakukan oleh masyarakat adat kekhalifahan Batu Songgan dalam memanen ikan di Sungai Subayang, dengan hukum adat yang disetujui oleh masyarakat adat, mereka “menutup” lubuk- lubuk yang ada di sungai. Lubuk ini akan dibuka setahun sekali, Tujuannya adalah agar mereka bisa mendapatkan ikan secara maksimal. Untuk kebutuhan sehari hari mereka, mereka memancing di tempat tempat yang sudah ditetapkan sebagai kawasan memancing ikan. Konservasi alam secara tidak sadar sudah berlangsung ratusan tahun di desa ini.

Suasana sore hari di Batu Songgan, Kampar Kiri Hulu

Jika ingin mencoba keunikan masakan dari Kampar Kiri Hulu, Batu Songgan adalah tempatnya, saya dapat dikatakan beruntung, kedatangan saya di kampung ini saat musim durian. Masyarakat Batu Songgan, saat musim durian akan mengolah durian menjadi sambal durian asam atau yang dikenal dengan sebutan tempoyak. Durian Kampar yang terkenal manis dan legit, diubah menjadi sambal untuk makan nasi. Disini, saya mencoba sebuah sambal khas dari Kampar Kiri Hilir, mereka menyebutnya dengan sambal campur. Sebetulnya sambal ini sederhana, menggunakan tempoyak, dicampur dengan ikan sungai goreng yang sudah disuir suir, dan cabe. Perpaduan asam durian, pedasnya cabe, dan gurihnya ikan suir membuat mulut ini tidak berhenti menyuap nasi panas yang dihidangkan didepan saya. “Sebenarnya, dulu kami menggunakan minyak yang tebuat dari biji karet” ujar Ulil Amri, “ Tetapi, sekarang kami memilih menggunakan minyak sawit karena lebih mudah didapatkan” ujarnya.

Pagi hari di Batu Songgan

Selain keunikan kuliner, Batu Songgan merupakan salah satu desa penghasil perahu. Jika ingin melihat proses pembuatan perahu tradisional Kampar Kiri, desa ini adalah salah satu tempatnya. Ada keunikan dari perahu yang berasal dari Kampar Kiri. Biasanya, pada bagian ujung dari perahu hanyalah berupa bagian tumpul. Sedangkan di Kampar Kiri, mereka menggunakan ukiran, ukiran ini bernama pompang. “ Inilah tanda perahu kami” ujar Ulil Amri. Sayangnya tidak ada penjelasan yang jelas mengapa mereka menggunakan hal ini sebagai detail dari perahu mereka. Untuk mendapatkan sebuah perahu Kampar Kiri yang berukuran sedang, cukup dengan lima juta rupiah, saya sudah bisa memesan kepada masyarakat di Batu Songgan. Seminggu lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membuat sebuah perahu yang utuh.

Suasana pagi di Batu Songgan

Selain pembuatan perahu tradisional, kuliner, hutan yang asri dan sungai berbatu yang jernih. Batu Songgan masih memiliki tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tempat ini bernama Air terjun Batu Belah. Air terjun bertingkat enam ini berada sejauh kurang lebih lima belas menit berperahu, dilanjutkan dengan berjalan kaki kurang lebih satu jam menyusuri punggungan bukit Batu Belah untuk menaiki tingkatan tingkatan dari air terjun. Untuk menuju air terjun kita harus menggunakan pemandu lokal yang berasal dari pokja ekowisata Batu Songgan, tujuannya adalah agar kita tidak salah jalan dan tersesat saat menyusuri hutan perawan di Bukit Batu Belah. Keramahan, keindahan, dan nikmatnya makanan khas dari Batu Songgan menjadikan desa ini merupakan salah satu tujuan wisata alternatif yang ada di Riau.

Pembuatan perahu tradisional di Batu Songgan
Pompang yang merupakan ciri khas dari perahu Kampar Kiri Hulu
Pemasangan damar sebagai penambal perahu tradisional
Pembuatan perahu tradisional di Kampar Kiri Hulu
Perahu tradisional di Kampar Kiri Hulu
Advertisements

4 thoughts on “Jalan Jalan ke Desa Adat Batu Songgan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s