Enam Tingkat Air Terjun Batu Belah.

Suaka marga satwa Rimbang Baling merupakan salah satu kawasan hutan di Propinsi Riau yang masih tersisa, kawasan ini berada di Hulu kiri dari Sungai Kampar. Rimbang Baling adalah merupakan kawasan konservasi harimau Sumatera dan juga kawasan resapan untuk sungai Kampar yang sekarang terancam oleh pembukaan hutan untuk dijadikan kawasan perkebunan kelapa sawit.

Di dalam zona inti dari kawasan Suaka Marga satwa ini terdapat kampung- kampung adat, kampung ini sudah ada ratusan tahun di dalam kawasan Rimbang Baling, jauh sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan suaka margasatwa pada tahun 1986.

Batu Belah di Sungai Subayang. Kampar Kiri Hulu

Terdapat enam kampung adat yang berada di zona inti kawasan suaka margasatwa ini. Keenam kampung tersebut adalah, Tanjung Beringin,Batu Songgan, Gajah Betalut, Aur Kuning, Terusan, Salo dan Pangkalan Serai. Keenam kampung adat ini tergabung dalam kekalifahan adat Batu Songgan yang dipimpin oleh Lahasimo, yang bergelar Datuk Godang Kekalifahan Batu Songgan. Dengan aturan adat yang ketat, masyarakat di yang tergabung dalam kekalifahan Batu Songgan mampu menjaga kelestarian hutan mereka.

Selama ini, Batu Songgan dikenal sebagai salah satu desa dimana lubuk larangan berada. Lubuk larangan adalah kearifan lokal dari masyarakat adat Kampar Kiri dalam menangkap ikan. Selama setahun mereka tidak akan memancing ikan ikan yang ada pada lubuk-lubuk yang sudah ditetapkan. Tujuan mereka menerapkan aturan lubuk larangan ini agar ikan ikan yang mendiami sungai mereka bisa terjaga dan tidak ditangkap berlebihan. Pada saat lubuk larangan ini dibuka dan masyarakat diizinkan memancing, desa Batu Songgan akan ramai didatangi oleh para penggila mancing/ mancing mania. Ikan ikan sungai dengan berat diatas tiga kilogram akan mudah didapatkan.

Perjalanan menuju Batu Belah di Sungai Subayang, Kampar Kiri Hulu

Selain tradisi lubuk larangan, ternyata masih ada sebuah tempat yang bisa datangi di desa adat Batu Songgan ini, tempat tersebut adalah sebuah batu yang berada di pinggir sungai Subayang. Mereka menamakan batu ini dengan batu belah. Di dalam hikayat yang diceritakan secara turun temurun oleh masyarakat desa Batu Songgan, mereka percaya bahwa batu ini adalah batu yang dibelah oleh Hulu Balang dari Kerajaan Majapahit yang masuk ke desa, pada saat mencari seorang putri yang kecantikannya sampai hingga ke Pulau Jawa. Putri ini bernama putri Lindung Bulan. Ternyata, perjalanan hulu balang ini sudah diketahui oleh sang putri. Bersama orang orang kampung, putri Lindung Bulan lari meninggalkan kampung, karena kesal tidak bisa menemukan sang putri. Hulu Balang Kerajaan Majapahit membelah batu yang berada di pinggir sungai, dan batu ini menjadi saksi perjalanan pencarian putri Lindung Bulan.

Pagi itu, saya diajak oleh pokja ekowisata yang dibentuk oleh pemuda-pemuda batu Songgan untuk melihat batu belah. Dengan menggunakan perahu bermesin robin, saya dan tiga orang pemuda batu songgan menyusuri sungai Subayang. Malam sebelumnya, kampung Batu Songgan diguyur hujan yang sangat deras, akibatnya kondisi sungai saat itu banjir. Kami berperahu ke arah hulu sungai Subayang. Tidak terlalu lama waktu yang dibutuhkan dari kampung, untuk menuju batu belah. Dua puluh menit waktu yang dibutuhkan dari kampung menuju batu belah. Di pinggir sungai, Ulil Amri, salah seorang anggota pokja menunjuk sebuah batu yang terlihat dipotong sempurna, Batu berdiameter satu setengah meter terlihat sudah dibelah dengan benda tajam yang berukuran besar. “Dapat dibayangkan betapa besar pedang yang digunakan” ujar Ulil.

Batu tertutup lumut di Bukit Batu Belah, batu Sanggan, Kampar Kiri Hulu

Petualangan saya sebenarnya baru dimulai, tiba tiba saja ada ajakan dari salah seorang anggota pokja untuk masuk kedalam bukit yang berada di depan batu belah. “ Yok bang, lihat air terjun”. Ujarnya. Tentu saja ajakan ini tidak bisa ditolak.

Sebelum tiba di air terjun, rombongan kami terlebih dahulu menyusuri anak sungai dari bukit tempat dimana air terjun berada. Batu- batu besar yang diselimuti lumut tebal menjadi pijakan saya untuk menuju ke air terjun. Licin. Lima belas menit berjalan dari tepi sungai, rombongan kami tiba di air terjun setinggi tiga meter. Karena musim hujan, debit di air terjun ini besar, batu batu alam berwarna hitam yang menjadi alur dari air terjun ini seolah olah terpahat dengan sempurna.

Tingkat pertama dari Air Terjun Batu Belah, Batu Sanggan, Kampar Kiri Hulu

“Ini baru tingkat pertama bang” ujar salah seorang anggota Pokja.” Baru pintu kesatu” sambungnya. Ternyata, air terjun pada di bukit batu belah ini terdiri dari beberapa tingkat. Untuk mengetahui berapa jumlah dari tingkatan air terjun ini, anggota pokja mengajak saya untuk memanjat air terjun yang menjadi pintu masuk dari tingkatan selanjutnya.

Dinginnya air yang dari tadi menyentuh kulit kaki dan tangan , tidak terasa saat rasa penasaran untuk mengetahui bentuk air terjun diatas pintu masuk. Sepuluh menit berjalan,

rombongan kami tiba di sebuah lubuk yang terbentuk secara alami. Di depan lubuk sedalam tiga meter ini, terdapat air terjun dengan ketinggian tiga meter yang juga merupakan jalan untuk menuju tingkatan selanjutnya dari air terjun. Sinar matahari yang masuk dari sela sela daun dari hutan yang masih terjaga membuat jernihnya air pada lubuk ini semakin terlihat.

Tingkat dua dari air Terjun Batu Belah, Desa Batu Sanggan, Kampar Kiri Hulu

Dengan tujuan menghindari lubuk, saya memilih melewati bukit yang berada di sebelah kiri dari lubuk, bukit ini setinggi 20 meter dengan jalur yang menantang. Tanah yang lembab dan gembur dengan jalur pendakian semiring 30 meter menjadi suguhan saya saat ini. Adrnaline mengalir deras saat saya mencari pijakan mana yang aman. Batu batu berwarna hitam yang berdiri kokoh menanti saya di bawah.

Jalur yang saya lewati ini adalah jalur menuju tingkat tiga dari air terjun, selanjutnya saya akan tiba di tingkat tiga, empat dan lima dengan jalur yang tidak seekstrim tingkat dua. Sayangnya, Perjalanan saya terhenti di tingkat lima. Untuk alasan keamanan, saya harus berhenti pada tingkat lima, karena untuk menuju tingkat enam, saya harus menggunakan tali sebagai pengaman. Tebing setinggi delapan meter harus saya panjat terlebih dahulu untuk tiba di tingkat enam. Salah seorang anggota pokja yang sudah terlebih dahulu naik ke tingkat enam memperlihatkan pemandangan ditingkat enam dari telepon genggam yang dia bawa. “ Ini foot saat kami survei bang” ujarnya.

Namun, air terjun pada tinggkat lima tidak kalah menarik. air terjun setinggi delapan meter dengan dua tingkat menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Deburan air terjun menjadi suara alam yang menambah indahnya suasana.

Tingkat lima dari Air Terjun Batu Belah, Desa Batu Sanggan, Kampar Kiri Hulu

Perjalanan yang penuh perjuangan menuju air terjun batu belah, terbayarkan dengan pemandangan indah yang disuguhkan dari air terjun enam tingkat batu belah desa Batu Songgan.

Advertisements

7 thoughts on “Enam Tingkat Air Terjun Batu Belah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s