Cerita dari Lubuk Torok dan Air Terjun Teko

Hujan dari maghrib hingga tengah malam membuat sungai yang terletak dua meter dibawah rombongan kami memasang tenda meluap. Batu batu besar yang sebelumnya tampak berdiri dengan kokoh, sekarang tertutup oleh derasnya air yang datang dari hulu. Malas rasanya untuk keluar dari tenda, perjalanan panjang berjalan kaki menyusuri kebun karet masyarakat dan punggungan bukit selama dua jam membuat betis sedikit panas pagi itu.

Bukit Barisan di menuju Lubuk Torok

Namun, obrolan di depan tenda yang ditemani segelas kopi panas, mengenai air terjun lebih menggoda daripada memikirkan hujan yang kembali turun membasahi camping ground. Mike, salah seorang panitia dari rombongan perjalanan kali ini menyebut nama air terjun yang akan kami datang, air terjun ini bernama air terjun Teko. Kurang lebih dua jam kami akan kembali berjalan kaki, menyusuri perbukitan kearah dalam pegunungan Bukit Barisan.

Kebun karet masyarakat dalam perjalanan menuju Lubuk Torok

Camping ground kami adalah sebuah tempat yang bernama Lubuk Torok. Lubuk Torok merupakan sebuah lubuk yang terletak di sungai Mudik, desa Siabu. Untuk menuju Lubuk Torok, dari Pekanbaru dibutuhkan perjalanan dua jam menggunakan kendaraan bermotor kearah kantor Bupati Kampar, setelah melewati tugu batu belah dan pintu gerbang dari batu yang bertuliskan “ Selamat Datang Di desa Siabu”. Setengah jam dari pintu gerbang belok kanan dari pertigaan pertama, tibalah saya di desa Siabu, desa terakhir menuju Lubuk Torok.

Kebun Karet masyarakat dalam perjalanan menuju Lubuk Torok

Dari Siabu, saya harus berjalan kaki selama dua jam. Menyeberangi sungai jernih yang berbatu, menyusuri jalan kebun masyarakat serta punggungan bukit bertekstur tanah liat berbatu merupakan suguhan menu perjalanan kali ini. Sebuah pondok kayu dua lantai sudah berdiri menunggu meyambut kedatangan kami, pada saat rombongan menyeberangi sungai. Pondok yang dibuat oleh Pak De Yanto merupakan pertanda bahwa kami telah tiba di Lubuk Torok.  Lubuk Torok merupakan tempat yang ideal untuk berkemah, bukit tempat dimana pondok pak De Yanto berdiri mampu menampung sepuluh tenda.Sedangkan gubuk itu sendiri bisa menampung kurang lebih dua puluh orang pada bagian atas dan bawahnya. Mata akan dimanjakan oleh hijaunya tutupan tanaman pada bukit yang mengapit dikiri kanan lubuk. Jangan pusing dengan ketersediaan air bersih yang ada, sungai Mudik yang mengalir di bawah camping ground merupakan sumber air ideal untuk masak dan mandi. Memasak air untuk membuat segelas kopi adalah pilihan terbaik. Namun, Lubuk Torok bukanlah akhir dari perjalanan. Kami akan menuju air terjun yang berada di hilir dari Lubuk Torok. Air terjun ini bernama air terjun Teko, bagi sebagian orang yang pernah sampai ke air terjun, air terjun ini mendapat julukan air terjun helikopter. Julukan ini berasal dari suara gemuruh air terjun yang mirip dengan dengung suara kipas helikopter.

Sungai Mudik yang menjadi pintu masuk menuju Lubuk Torok

Perjalanan menuju air terjun Teko dapat dikatakan sebagai perjalanan penuh aksi. Jika menuju Lubuk Torok, saya akan melewati perbukitan yang landai. Maka perjalanan menuju ke air terjun, saya harus melewati perbukitan yang terjal. Perjalanan dimulai dengan menyusuri anak sungai disebelah kiri dari bukit, batu batu licin yang dilapisi lumut tebal menjadi pijakan kaki dalam perjalanan ini. Bukit terjal sudah menanti diujung dari sungai yang saya susuri, akar akar dari tanaman hutan yang tumbuh pada lereng bukit menjadi pijakan kokoh dalam perjalanan menuju air terjun. Drama dari perjalanan ini ditambah oleh meningkatnya debit air sungai karena hujan deras yang berlangsung kemarin. “ Biasanya tidak sebetis bang, dua bulan yang lalu masih semata kaki” ujar Mike saat saya harus menyeberang sungai untuk berpindah kebukit selanjutnya. Kontur sungai yang kami seberangi ada yang sedalam betis dan ada yang menyentuh dagu saya.

Camping Ground dari Lubuk Torok

Dari bukit kedua, perjalanan menuju air terjun dihabiskan dengan menyusuri tepian sungai. Karena debit air yang meningkat, terdapat terjunan pada sungai Mudik yang kami lewati. Saya meghitung ada tujuh terjunan yang kami seberangi dalam perjalanan ini. Bukit hijau yang mengapit sungai, sungai jernih, dan terjunan. Mengingatkan saya akan Cukang Taneuh atau yang dikenal dengan nama Green Canyon yang terletak di Pangandaran, Jawa Barat, Green Canyon dikenal sebagai tempat bermain body rafting. Jika sungai Mudik yang membelah kawasan Bukit Barisan ini diekplorasi lebih jauh, bukan tidak mungkin body rafting bisa dikenalkan pada kawasan ini.

Suasana pagi di Lubuk Torok

Setelah melewati terjunan terakhir dengan menggunakan tali, tibalahlah rombongan kami pada lubuk dimana air terjun Teko berada. Untuk menuju air terjun, terlebih dahulu saya harus berenang menyusuri tebing dari lubuk air terjun berada . Terdapat dua pintu pada air terjun Teko ini, Suara gemuruh dari air terjun menjadi jeda dalam obrolan rombongan kami ditepian lubuk. Dua jam perjalanan berjalan kaki menyusuri bukit barisan terobati saat saya berendam di tepi lubuk. Pegunungan Bukit Barisan yang ada di Propinsi Riau masih memilliki banyak tempat tersembunyi yang menarik. Lubuk Torok dan Air Terjun Teko salah satu nya.

Anak sungai menuju air Terjun Teko
Menuju air Terjun Teko
Lubuk tempat air Terjun Teko berada
Advertisements

3 thoughts on “Cerita dari Lubuk Torok dan Air Terjun Teko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s