Rumah Tenun Siak Hasnah Munodo

Alkisah, pada zaman pemerintahan Sultan Syarif Ali Abdul Jalil Baalawi yang merupakan sultan ke VII dari kerajaan Siak, tersebutlah seorang perempuan dari Kerajaan Trengganu yang bernama Wan Siti binti Wan Karim yang ditugaskan oleh Sultan untuk mengajari para bangsawan Siak bagaimana caranya menenun. Tujuannya kegiatan ini untuk mendapatkan kebutuhan busana dari para bangsawan kerajaan khususnya bagi para Sultan dan keluarganya. Bagi Sultan dan bangsawan kerajaan, kain tenun yang mereka pakai ini merupakan simbol kewibawaan dan keagungan.

Rumah Tenun Hasnah Munodo, rumah tua yang terletak di tepi sungai Siak ini merupakan salah satu sentra kerajinan tenun Siak yang berada di Pekanbaru.

Tenun yang diajarkan oleh Wan Siti adalah tenun tumpu yang kemudian berganti dengan menggunakan alat yang disebut “kik”. Kik adalah alat tenun sederhana yang terbuat dari bahan kayu berukuran 1 x 2 meter. Karena ukuran alat yang kecil, untuk membuat satu kain sarung, seorang penenun harus menyambung dua kain menjadi satu. Kain yang dihasilkan dari proses penyambungan dua kain ini dinamakan dengan kain berkampuh. Seiring berjalannya waktu, Kain yang digunakan oleh para bangsawan Kerajaan Siak dikenal dengan nama kain tenun Siak dan sekarang menjadi kain “kebangsaan” orang Melayu Riau.

Alat Tenun Bukan Mesin atau ATBM yang berada di dalam rumah tenun Hasnah Munodo, dahulu terdapat delapan alat tenun di rumah ini. Sekarang hanya tersisa tiga.

Kain tenun Siak bisa didapatkan di Kabupaten Siak dan juga di Pekanbaru. Tenun ini dibuat di rumah rumah yang sejak zaman dahulu memang berfungsi sebagai tempat untuk belajar dan membuat tenun. Salah satu rumah di Pekanbaru yang masih tetap menjaga tradisi menenun adalah rumah tenun Hasnah Munodo. Rumah ini berjarak 500 meter dari jembatan Siak Tiga yang belum selesai dibangun. Letak dari rumah ini berada di samping SPBU. Wujud dari rumah ibu Hasnah adalah rumah panggung tua yang dicat hijau. Dari tangga batu kusam penghubung antara halaman rumah dengan pintu masuk, tibalah saya di dalam rumah ibu Hasnah. Suara “trak,trak,trak “ dari alat tenun bukan mesin atau ATBM mengalihkan perhatian saya. “Ini dah dipesan orang bang, Saye bikinnya sepasang” kalimat ini terucap dari mulut Syarifuddin. Pemuda dari Selat Panjang ini adalah salah seorang pegawai dari Ibu Hasnah yang masih tersisa. “Sekarang, hanya tinggal kami bertiga saja yang masih bertahan menenun di rumah ini.” ujarnya.

Gulungan benang pada alat tenun bukan mesin di rumah tenun Hasnah Munodo. Dibutuhkan waktu empat sampai lima hari untuk mengubah gulungan benang ini menjadi satu kain tenun yang utuh.

Syarifuddin bercerita kepada saya, dibutuhkan waktu kurang lebih lima sampai enam hari untuk membuat dua meter kain tenun Siak. Namun, hal ini tergantung dari motif yang kita inginkan. Semakin rumit motif yang diinginkan maka akan semakin lama waktu pengerjaan. Secara umum motif dari tenun Siak terbagi atas motif flora,fauna, alam sekitar dan kombinasi dari ketiga motif ini. Motif flora terdiri dari motif pucuk rebung,kembang sepatu, tampuk manggis. Motif hewan terdiri atas motif semut beriring, siku keluang, naga nagaan, itik sekawan dan lain sebagainya. Masing masing motif memiliki filosofi yang dalam. Sebagai contoh, motif siku keluang, motif ini memiliki makna untuk memegang janji dan setia kawan, motif pucuk rebung, motif ini menggambarkan hati yang suci. Karena kuatnya makna filosofi dalam motif motif tenun siak, tidak sembarangan bagi kita untuk memilih motif yang kita inginkan di dalam kain yang kita pesan.

Benang emas yang di impor dari Singapura, selain rumitnya motif, mahalnya bahan baku menjadi salah satu alasan kenapa tenun Siak menjadi mahal.

Bagi orang yang baru belajar dalam mengoleksi kain, kain tenun Siak selalu dianggap sebagai kain yang mahal. Sebetulnya, jika kita bisa menelaah. Mahalnya kain tenun ini karena dua faktor. Pertama karena rumitnya motif yang dikerjakan, dan kedua, adanya bahan baku yang harus di impor. Benang emas yang digunakan untuk motif tenun ini dibeli di Singapura. Sehingga, adalah wajar jika harga jual dari tenun siak yang dibuat pada rumah tenun ibu Hasnah memiliki harga dari Rp 800.000 sampai dengan Rp 2.500.000.

Torak yang merupakan alat untuk meletakkan benang sedang dipersiapkan oleh Syarifuddin.

Dari delapan alat tenun yang dimiliki oleh Ibu Hasnah, hanya tinggal tiga saja yang masih bekerja. “Sudah jarang anak anak muda tertarik untuk belajar menenun” ujar Syarifuddin. Alasan tidak tertariknya anak anak muda dalam belajar menenun karena lamanya proses belajar untuk membuat kain tenun Siak. Dibutuhkan waktu satu tahun untuk dapat dikatakan mengerti menenun. Selain itu, karena kain tenun Siak hanya bisa untuk acara seremonial dan acara adat saja maka permintaan akan kain tenun tidak sebanyak kain kain yang lain. Dibutuhkan keterlibatan pemangku kebijakan dan industri kreatif agar keberlangsungan Tenun Siak yang menjadi ciri khas Melayu Riau ini dapat bertahan.

Syarifuddin memperbaiki benang hitam yang nantinya akan menjadi tenun Siak.

Syarifuddin yang merupakan salah seorang anak didik dari ibu Hasnah sedang menggulung benang untuk membuat tenun Siak. (3)

Syarifuddin menyisip benang dalam proses pembuatan tenun Siak. Untuk membuat tenun Siak dibutuhkan waktu empat sampai lima hari.

Dibutuhkan waktu empat sampai lima hari untuk membuat kain tenun Siak. DI rumah tenun Ibu Hasnah Munodo, hanya tersisa dua orang penenun saja.

Kain tenun yang sudah jadi. Dengan motif pucuk rebung, kain kain yang dijual di rumah tenun Hasnah Munodo memiliki harga dari Rp 800.000 sampai Rp 2.000.000

Advertisements

6 thoughts on “Rumah Tenun Siak Hasnah Munodo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s