Goyang Lidah ala Sup Tunjang Tribuana

“Kak, nasinya tambah satu” ujar pelanggan disebelah saya, “ Tambah supnya juga semangkuk lagi kak” Ujar nya. Jam makan siang merupakan jam sibuk untuk rumah makan di Pekanbaru. Para pelanggan yang sebagian besar berasal dari kawasan perkantoran menyebar dan mencari warung makan yang menjadi favorit mereka. Salah satu hidangan yang selalu dicari oleh mereka adalah sup tulang kaki sapi, orang Pekanbaru menyebutnya sup tunjang. Di Pekanbaru ada beberapa warung yang secara khusus menjual sup tunjang. Salah satunya adalah warung sup tunjang Tribuana.

Sup Tunjang Tribuana Pekanbaru. Setiap hari dibutuhkan 60 sampai dengan 70 kg tulang sapi  yang nanti nya akan dijadikan sup. (2)

Warung sup tunjang Tribuana dapat dikatakan sebagai salah satu warung yang berumur di Pekanbaru. “Sudah lima belas tahun warung ini berdiri, dan sudah selama itulah sup tunjang menjadi menu andalan kami” ujar Ipung anak dari ibu Pujiati yang merupakan pendiri dari warung. Nama Tribuana berasal dari nama GOR tempat dimana warung ini berada. GOR ini berada di pusat kota Pekanbaru, tepatnya di Jalan Diponegoro. Warung ini buka dari siang pukul 11.00 WIB hingga sore hari pukul 15.00 WIB, dengan catatan sup tunjang masih tersedia. Pada jam makan siang, kursi kursi di warung ini penuh dengan para pengunjung. Hanya tersisa satu meja dengan dua buah kursi yang terbuat dari rotan saat saya masuk kedalam warung. Tanpa pikir panjang sup tunjang dipesan.

Godaan dari Sup Tunjang. Tidak lengkap rasanya menikmati semangkuk sup ini tanpa nasi panas dan minuman dingin. (2)

Sup tunjang adalah sup yang terbuat dari tulang kaki sapi. Didalam pembuatan sup, kaki sapi akan direbus bersama dengan bumbu bumbu seperti merica, daun bawang, bawang putih, dan penyedap rasa. Sebelum dijadikan sup, tulang kaki dengan daging yang masih menempel akan direbus terlebih dahulu. Waktu untuk merebus tulang bisa tiga hingga empat jam. Tujuan nya adalah untuk membuat kaldu dan agar daging menjadi lembut. Setelah dirasakan empuk, bumbu bumbu ditambahkan kedalam rebusan.

Godaan dari Sup Tunjang. Tidak lengkap rasanya menikmati semangkuk sup ini tanpa nasi panas dan minuman dingin.

Karena ramainya para pengunjung, saya menunggu agak lama untuk dapat menikmati sepiring nasi dan sup tunjang. Perasaan lama menunggu terobatkan pada saat semangkuk sup dihidangkan. Bau harum dari bawang putih menyeruak masuk kedalam hidung. Ada yang unik dari semangkuk yang dihidangkan, sup ini memiliki kuah yang berwarna keruh. Keruhnya kuah ini berasal dari kentalnya kaldu tulang sapi. Saat menghirup kuah sup, lidah saya digelitik oleh pedasnya merica yang digunakan sebagai bumbu di dalam sup. Rasa yang khas dari bawang putih tanpa malu-malu ikut serta bersama merica. Perpaduan kedua bumbu ini menimbulkan sensasi pada lidah. Saat saya menggigit daging yang terdapat pada tulang. Lidah saya dimanjakan dengan lembutnya daging. Rasa segar dari daun bawang yang ditaburkan keatas sup seakan tidak mau kalah untuk menunjukkan kebolehannya. Sensasi rasa kuah dan lembutnya daging adalah duet maut yang memancing saya untuk terus menyuap nasi ke dalam mulut. Benar apa yang dikatakan mas Ipung “Tulang ini dimasak dengan menggunakan bahan bakar kayu. Sehingga rasa sup nya lebih merata”. Nikmat.

Dapur dari warung sup Tunjang Tribuana, setelah di rebus diatas tungku dengan bahan bakar kayu. Sup ini akan direbus kembali di kompor agar tetap panas.

Cukup dengan Rp 25.000 kita sudah bisa menikmati semangkuk sup tunjang dari warung ini. Jangan khawatir untuk para pelanggan yang tidak menyukai sensasi lengket di langit langit karena lemak dari tulang. Warung ini juga menjual sup ayam, sup daging, soto daging, soto ayam dan sate daging sebagai pilihan makanan. Karena ramainya para pelanggan yang makan di warung, setiap hari sekitar 60 sampai 70 kg tulang sapi diolah menjadi semangkuk sup tunjang. Semangkuk sup tunjang dari Warung Tribuana memperkaya sensasi kuliner dari Pekanbaru.

Sup Tunjang Tribuana, warung makan yang terletak di samping GOR Tribuana Pekanbaru ini buka dari jam 11.00 hingga 15.00 WIB

Advertisements

6 thoughts on “Goyang Lidah ala Sup Tunjang Tribuana

  1. Saya menahan iler melihat fotonya, hahaha. Sepintas penampilannya mirip sup buntut ya? Mungkin buntut, kaki, dan iga bisa diolah menjadi sup dengan bumbu dan bahan yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s