Hikayat Batik Yang Menjadi Tamu di Rumah Sendiri

Rumah berpagar hijau dan berwarna kuning ini terletak di Jalan Kuantan VII. Sebuah papan yang berwarna mencolok menjadi tanda dari rumah. Rumah batik Semat Tembaga nama dari rumah ini. Sebuah pertanyaan terlintas dipikiran, emang di Riau ada batik?

Malam, pembentuk pola batik yang gunakan untuk batik Riau ini masih dikirimkan dari pulau Jawa. Belum berkembangnya industri batik di Riau masih menjadi kendala.

Bang Amrun Salmon, lelaki kelahiran Siak yang merupakan pemilik rumah membuka pintu dan memberikan sambutan yang hangat kepada saya. Pada bagian dinding dalam rumah dicat kuning, kain kain batik yang dihasilkan oleh perupa batik dari rumah ini di jadikan hiasan dinding. Sedangkan sebagian ada yang diletakkan di atas meja.

Pola Soso pada batik melayu Semat Tembaga, setelah di beri pola dengan malam. Batik ini akan di cat dengan warna yang cerah.

            “Tidak ada kepedulian Pemerintah Daerah terhadap perkembangan batik Riau” ujar Bang Amrun kepada saya. Pernyataan keras ini menjadi sebuah pembukaan obrolan mengenai perkembangan batik Riau. Hal ini dapat di katakan benar, sekarang ini, tidak ada lagi gaung menggunakan batik Riau. Padahal batik ini dapat dijadikan salah satu identitas Riau selain kain songket yang berasal dari Siak.

Salah satu pola batik yang ada pada Rumah Batik Semat Tembaga. Motif batik Semat Tembaga di dominasi oleh tumbuhan. Hal ini sesuai dengan banyaknya ragam tumbuhan di Riau.

            Menurut sejarahnya. Batik Riau sudah dimulai dari zaman kerajaan Daik Lingga yang berada di Kepulauan Riau dan Kerajaan Siak. Pada saat itu dikenal suatu kerajinan tangan yang di cap ke atas kain. Namun sifat kerajinan ini hanya ada di kerajaan. Jika kita bergeser kearah Malaysia, ada kemiripan antara kerajinan yang ada di kerajaan Lingga dan Siak dengan kerajinan yang ada di Trengganu, Malaysia. Namun belum ada penelitian yang lebih lanjut kenapa ada kemiripan antara dua kerajinan ini dan kenapa kerajinan cap ini tiba-tiba berhenti di zaman kerajaan saja.

Batik dengan pola bunga bintang yang sedang diberi malam. Setelah di berikan malam, batik ini akan dicat dengan warna cerah. (2)

            Menurut bang Amrun, membatik adalah pekerjaan memberi warna dan motif pada sebidang kain yang di batasi dengan lilin atau yang di kenal dengan malam. Namun, di dalam proses memberikan motif ini diperlukan seni tersendiri agar karya yang dihasilkan bisa bertahan lama. Batik Riau yang dihasilkan oleh galeri Semat Tembaga memiliki kemiripan warna batik batik pesisiran terutama Pekalongan. Warna dari batik Riau yang didominasi oleh warna merah, biru, hijau didominasi dengan motif tumbuh tumbuhan. Alasan pemilihan warna yang cerah adalah untuk mencerminkan tekad, keberanian dari masyarakat Riau serta sesuai dengan komposisi daerah Riau yang sebagian besar adalah daerah pesisir, baik itu pesisir laut maupun pesisir sungai.

Batik dengan pola bunga bintang yang sedang diberi malam. Setelah di berikan malam, batik ini akan dicat dengan warna cerah. (3)

            Adapun alasan pemilihan motif tumbuh tumbuhan sebagai motif batik karena bagi masyarakat Riau yang didominasi oleh orang Melayu yang kental dengan nuansa islami, motif motif hewan dihindari untuk di gambar karena bertentangan dengan syariat Islam, sehingga di dalam motif batik Riau kita akan menemukan corak corak seperti bunga kembang sepatu, bunga bintang, dan daun nipah. Selain motif tumbuhan, batik Riau juga menggunakan motif yang ada pada ukiran rumah adat Melayu bahkan pola pahatan batu. Untuk motif motif yang berasal dari ukiran rumah dan pola pahata, biasa nya bang Amrun akan mendesaign ulang motif agar lebih indah dan masuk kedalam pola dasar dari batik Riau.

Motif batik Riau yang masih setengah dilkerjakan oleh pengrajin Batik Tulis Semat Tembaga. Sayang nya tiada kepedulian dari Pemerintah Daerah untuk mengembangkan potensi.

            Ada lima pola dasar yang ada pada batik Riau yang di hasilkan oleh rumah batik Semat Tembaga. Masing masing pola ini memiliki filosofi di dalam pembuatan nya. Pola pertama adalah pola tabir. Pola ini terinspirasi oleh bentuk tabir pengantin yang ada di pelaminan. Pola tabir ini vertikal dengan corak yang bersifat asimetris. Seringkali para pembeli kain batik yang membeli kain batik dengan pola ini bingung bagaimana cara membuat baju dengan ketidaksimetrisnya corak yang ada. Namun, bang Amrun memiliki metode yang sederhana untuk menjawab hal ini. “Tutup mata, gunting saja kainnya. Pasti bisa”. Menurut penuturan bang Amrun lagi, biasa nya penjahit-penjahit yang sudah pengalaman akan mengerti bagaimana cara membuat baju dengan corak asimetris ini.

Salah satu contoh batik Riau yang ada di Rumah Batik Semat Tembaga.

            Pola Soso adalah pola selanjut nya dari batik Riau, pola ini hampir mirip dengan pola tabir namun dengan bentuk yang simetris. Motif bunga bintang adalah motif yang paling sering dijadikan sebagai motif pola ini. Selanjut nya adalah pola tabur, pola ini memiliki filosofi yang bebas dan tidak terikat dengan perbedaan. Pada salah satu dinding di rumah bang Amrun terdapat hiasan dinding yang terbuat dari kain batik dengan pola tabur

Dari kiri ke kanan, pola soso dan pola tabir yang menjadi salah satu ciri khas dari batik Riau. Pola Soso memiliki sifat lebih simetris dari pola Tabir.

            Selain tiga pola yang ada. Batik Riau memiliki pola Gelombang dan Selat. Pola Gelombang mewakili Provinsi Kepulauan Riau. Filosofi dari pola ini adalah menggambarkan dinamika yang ada di sana. Laut, angin, gelombang, dan semangat pantang menyerah dari masyarakat pulau. Terakhir adalah pola selat, pola ini menggambarkan mengenai keadaan alam yang ada di Teluk Meranti, Selat Panjang. Selat yang tenang, siput laut dan batang nipah adalah corak corak yang ada di motif batik Selat.

Batik dengan pola Soso dengan motif bunga bintang. Pola soso adalah pola batik simetris.

            Dulu, pada saat bang Amrun mengenalkan membatik.masyarakat yang tinggal di rumah batik, mereka tidak mengerti dan menyukai kegiatan ini. Mereka menganggap membatik adalah pekerjaan rumit dan membosankan. Bang Amrun mencoba mengenalkan cara yang sederhana agar banyak masyarakat yang tertarik dalam membatik. Cara ini dikenal dengan cara ‘colek’ bukan dengan cara ‘celup’ seperti batik yang biasa dibuat di Jawa. Cara colek ini diadopsi dari cara membuat batik yang ada di Pekalongan. Hasilnya cukup meyakinkan dengan banyaknya yang mulai suka dan mau belajar membatik.

Berbagai macam koleksi dari motif batik Semat Tembaga. Batik Riau didominasi oleh warna yang cerah.

            ‘’Pekerjaan membatik mulai diminati dan produk batik juga disenangi masyarakat. Apalagi setelah ada himbauan dari Pemerintah Daerah untuk memakai baju batik. Pada saat batik Riau menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Rumah batik ini, memiliki pekerja sebanyak 15-20 orang. Sekarang hanya tertinggal dua pekerja” Ujar Bang Amrun.

Amrun Salmon bersama dengan koleksi batik yang dihasilkan oleh rumah batik Semat Tembaga.

            Karena proses pembuatan yang rumit dan bahan baku yang dikirimkan berasal dari Pulau Jawa. Harga batik Riau menjadi sedikit lebih tinggi dari pada di Pulau Jawa. Satu lembar kain batik yang di hasilkan oleh rumah batik Semat Tembaga seharga Rp 600.000,-. Bagi sebagian masyarakat Riau batik ini adalah batik yang norak, kuno karena warna nya yang cerah. Mereka lebih suka dengan batik yang berasal dari Jawa. Namun, bagi tamu tamu asing dan wisawatan yang datang dari luar daerah. Batik Riau adalah oleh oleh yang patut untuk di koleksi. Dengan potensi yang begitu besar, batik Riau masih menjadi tamu di negeri sendiri.

Amrun Salmon. Pemilik Batik Tulis Semat di depan batik tulis yang nantinya akan ditulis oleh pengrajin yang bekerja di rumah batik ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s