Raungan Chainsaw di Cagar Alam Kerumutan.

           Speed boat 15pk yang saya tumpangi tersangkut setelah lima belas menit meninggalkan kampung Teluk Meranti, “ Kalo surut, memang sulit untuk mencari alur speed boat” ujar Mas Jono, Lelaki berdarah Jawa yang tinggal di Teluk Meranti ini sudah hapal di luar kepala berbagai macam alur sungai yang ada. Walaupun begitu, karena kondisi permukaan sungai di Teluk Meranti yang unik sehingga pada saat surut yaitu di pagi hari. Alur air akan berubah dengan cepat.

Bagan Apung dari masyarakat Teluk Meranti, setiap musim kemarau masyarakat Teluk Meranti akan tinggal sebentar untuk memancing ikan di dalam SM Kerumutan, kegiatan ini mereka sebut Mandah. (2)

Suasana di pinggir sungai Kampar didominasi oleh hutan-hutan yang sudah di buka untuk di jadikan kebun-kebun oleh masyarakat. Sudah tidak ada lagi tegakan kayu alam berukuran besar yang dahulu menjadi cerita pada saat menyusuri sungai Kampar. Setelah menyusuri alur air yang sempit di bawah jembatan Teluk Binjai- Teluk Meranti. Lanskap yang tadi nya membosankan menjadi menarik. Saya sudah bisa melihat kayu-kayu berukuran besar di kiri kanan sungai. Pohon pohon besar ini seolah olah di susun secara teratur sehingga menciptakan pantulan yang indah di sungai Kelantan. Sungai yang berwarna coklat kehitaman ini menjadi cermin alam. Saya masuk ke sebuah cagar alam yang di kenal dengan nama Suaka Marga Satwa Kerumutan.

Hutan alam yang menjadi daya tarik dari SM Kerumutan, hutan hutan di pinggir sungai ini seolah olah di tanam dan susun secara teratur. (2)

Kawasan inti (SM. Kerumutan) ditetapkan sebagai kawasan lindung berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 350/Kpts/II/6/1979. Saat ditunjuk, luasnya sekitar 120.000 ha. Setelah ditata batas menjadi 92.000 ha dengan tambahan lahan pengganti sehingg luasan suaka marga satwa menjadi 93.222 ha. Ekosistem SM. Kerumutan merupakan hutan hujan dataran rendah dan hutan rawa dengan topografi datar. Secara administrasi kawasan ini berada di Kabupaten Pelalawan, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir. Di bawah pengelolaan wilayah kerja seksi konservasi wilayah I BKSDA Riau. Kawasan suaka marga satwa Kerumutan merupakan tempat singgah dari burung-burung imigran yang berasal dari Asia Selatan untuk berkembang biak. Sehingga kawasan ini di kenal dengan kawasan Important Bird Area/ IBA dan Endangered Bird Area/ EBA. Selain itu, suaka marga satwa Kerumutan merupakan rumah bagi Harimau Sumatera/ Panthera tigris sumatrae dan juga hewan beruang madu/Helarctos malayanus.

Burung pecuk ular Asia atau Anhinga melanogaster, burung ini terdapat pada zona inti SM Kerumutan. Pada musim bertelur burung ini akan menetap di Tasik Petoluan yang sekarang kondisi nya terancam.

Pintu masuk kawasan ini dari desa Teluk Meranti berupa sungai. Burung pecuk ular Asia/ Anhinga melanogaster terbang dari hutan di sebelah kiri menuju hutan sebelah kanan, menurut Mas Jono musim bertelur dari burung ini sudah lewat sehingga tidak terlalu banyak terlihat. Biasa nya, kiri dan kanan sungai Kelantan akan terlihat ramai oleh burung burung yang beterbangan. Alur sungai yang tadi nya lebar menjadi sempit, bakung air menutupi alur sungai sehingga kami harus menyusuri jalur kecil yang berada hampir di pinggir sungai.  Perjalanan ini berubah dari perjalanan menggunakan mesin menjadi menggunakan otot, speed boat yang saya tumpangi ditarik dengan ikut serta menarik bakung yang menutupi sungai. Seekor burung elang terlihat menonton perjuangan menembus bakung dari pohon yang terletak di kanan sungai.

Burung pecuk ular Asia atau Anhinga melanogaster, burung ini terdapat pada zona inti SM Kerumutan. Pada musim bertelur burung ini akan menetap di Tasik Petoluan yang sekarang kondisi nya teranc

Satu jam menyusuri sungai Kelantan, saya singgah sebentar di bagan apung yang berada di kiri kanan sungai. Bagan apung ini merupakan tempat menginap dari masyarakat Teluk Meranti yang mencari ikan, kegiatan menginap ini mereka sebut dengan mandah. Selain memiliki kekayaan berupa kayu alam dan fauna yang menarik, Kerumutan juga memiliki potensi di sungai yang membelah suaka marga satwa ini. Terdapat pasokan ikan air tawar yang melimpah disini. Ikan-ikan seperti toman, baung dan lais yang menghuni sungai di cagar alam ini di pancing oleh masyarakat Teluk Meranti yang mandah, nanti nya ikan-ikan ini akan diolah menjadi salai. Rata rata masyarakat Teluk Meranti menghabiskan waktu sekitar satu sampai dua minggu di Kerumutan kemudian mereka akan menjual ikan pada saat hari pasar di Teluk Meranti.

Bagan Apung dari masyarakat Teluk Meranti, setiap musim kemarau masyarakat Teluk Meranti akan tinggal sebentar untuk memancing ikan di dalam SM Kerumutan, kegiatan ini mereka sebut Mandah. (3)

Saya berkesempatan menikmati keramahan dari pemilik bagan. Baru saja menjejakkan kaki. Tiba tiba telepon genggam dari pemilik bagan apung berbunyi “ Kak, ado orang masuk tadi?” ujar suara dari orang yang menelepon. Kebetulan telepon selular dari pemilik rumah menggnakan loud speaker. “ Ado, di sini mereka singgah” ujar pemilik bagan. Kegiatan illegal logging masih terjadi di zona inti dari Kerumutan. Kayu kayu seperti meranti, ramin di potong secara illegal dan di jual ke Pekanbaru atau ke Teluk Meranti. Pengawasan terhadap hutan di kawasan suaka marga satwa hanya lah isapan jempol belaka. Yang menelepon pemilik bagan adalah logger–logger yang mendengar suara speed boat yang tadi membelah sungai. Mereka menganggap rombongan saya adalah rombongan Balai Konservasi Sumber Daya Alam yang sedang patroli pengamanan kawasan. Menurut pemilik rumah bagan, biasa nya para logger akan kabur begitu mereka mendengar suara speed boat patroli.

Ikan ikan lokal dari sungai Kelantan yang membelah SM Kerumutan, ikan ikan ini di jadikan salai untuk di jual pada hari pasar di Teluk Meranti.

Semakin ke dalam suaka marga satwa bukan pemandangan indah yang saya lihat. Tetapi perubahan lanskap hutan yang dengan jelas terlihat. Hutan hutan dari zona inti cagar alam sudah berubah. Bekas pembakaran hutan dan juga jalan papan dari kegiatan illegal logging terlihat di kiri kanan sungai. Jika terus menyusuri sungai yang membelah Kerumutan, kita akan bertemu dengan sungai Indragiri. Ujung dari perjalanan kali ini adalah Tasik Petoluan, menurut masyarakat Teluk Meranti. Tasik atau danau ini adalah tempat dari burung imigran bertelur dan menetas. Sesuai dengan bahasa lokal dari tasik ini, petoluan yang arti nya tempat bertelur. Menurut Pak Yusuf, salah seorang sesepuh Kampung Teluk Meranti, pada saat musim bertelur, burung-burung banyak yang singgah di Tasik. Dan menurut beliau, bahkan jika burung-burung yang ada di Tasik Petoluan ini terbang. Langit di sekitar Tasik akan menjadi gelap tertutupi tubuh mereka.

Hutan alam di zona inti SM Kerumutan yang di bakar dan di rambah oleh perambah liar. Tidak ada nya tindakan dari pemerintah daerah menyebabkan habitat burung migrasi ini pelan pelan mulai habis.

Bekas hutan yang terbakar pada zona inti SM Kerumutan, selain di rambah ancaman di bakar menjadi musuh dari SM Kerumutan.

Sayang, sungai yang menghubungkan antara Tasik dan sungai besar kering akibat musim kemarau yang sudah berlangsung sekitar 5 bulan di Propinsi Riau. Akibat dari musim kering ini, jalan baru harus di rintis untuk bisa mencapai tasik Petoluan. Peralatan yang ada di speed boat tidak memadai untuk merintis jalur. Selain itu, raungan mesin chainsaw terdengar bersahut sahutan. Logger berpesta pora memotong hutan yang ada di Tasik ini, nyawa saya bisa terancam jika mereka panik karena mengira ada nya patroli dari pihak Balai Konservasi. Kejadian yang sama terjadi seperti saat saya sedang berada di bagan apung di Sungai Kelantan, begitu mendengar suara dari speed boat, mereka berhamburan menghentikan kegiatan mereka. Hanya raungan chainsaw yang berada di tengah tasik yang masih terdengar samar samar. Suaka marga satwa Kerumutan tempat dimana burung burung imigran bertelur terancam oleh keserakahan manusia. Sampai kapan ini akan berlangsung?.

Hutan alam yang menjadi daya tarik dari SM Kerumutan, hutan hutan di pinggir sungai ini seolah olah di tanam dan susun secara teratur.

Advertisements

2 thoughts on “Raungan Chainsaw di Cagar Alam Kerumutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s