Cerita Urang Rantai

       Sawahlunto merupakan daerah yang letak geografisnya dikelilingi oleh deretan pegunungan Bukit Barisan. Daerah ini unik, berbentuk seperti mangkuk. Sebelum ditemukan batu bara, Sawahlunto dianggap tidak penting oleh Belanda. Hal ini berubah pada tahun 1868, saat seorang ahli geologi dari Belanda yang bernama Williem Hendrik de Gereve menemukan deposit batu bara yang besar di Sungai Ombilin Melihat potensi yang batu bara yang ada pemerintah Belanda memutuskan membangun pertambangan. Masalah terjadi ketika ketersediaan modal untuk mencari tenaga kerja terbatas.

Kantor adminitisrasi PT Bukit Asam stad Ombilin yang terletak tidak jauh dari Lubang tambang Mbah Soero.

Untuk mengatasi hal ini, Belanda bersiasat dengan menggunakan para tahanan politik dan kriminal yang berada di penjara-penjara yang terdapat di pulau Jawa sebagai buruh tambang. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa, Ambon, Manado, Bugis, dan Tionghoa Buruh-buruh ini akan di bawa dari Batavia menggunakan kapal menuju pantai barat Sumatera. Perjalanan ini memakan waktu sampai satu minggu. Mereka di tempatkan di dek paling bawah kapal dengan kondisi yang berdesak desakan.

Patung batu yang di dirikan untuk memperingati para orang orang rantai.  Orang- orang rantai adalah pekerja paksa yang dahulu bekerja pada tambang batubara yang ada di Sawahlunto

Begitu tiba di Sumatera Barat, mereka di bawa ke depot penampungan. Dari sini mereka dibawa ke Sawahlunto dengan kereta api. Mereka di kenal dengan sebutan orang rantai. Julukan ini berasal dari rantai yang di pasang di kaki mereka sebagai alat untuk menahan gerak mereka.

Lubang tambang mbah Soero, lubang ini adalah lubang tambang yang pertama kali di buka oleh Belanda di Sawahlunto.

Di Sawahlunto, mereka di tempatkan di tangsi-tangsi yang berfungsi sebagai penjara. Pembagian kerja dilakukan dengan memilih orang rantai yang kuat dan lemah. Bagi yang kuat akan ditugaskan ke dalam lobang dan juga sebagai pengusung gelondongan kayu untuk tambang. Bagi yang lemah bertugas untuk merawat mereka yang sakit dan juga menyortir batu bara. Pembagian waktu kerja dibagi dalam tiga giliran. Setiap pekerja dibebankan target yang harus dipenuhi. Jika pekerjaan mereka belum selesai maka giliran selanjutnya akan terganggu. Karena keras nya kehidupan tidak jarang mereka melarikan diri.

Suasana di dalam lubang tambang Mbah Soero, untuk mengantisipasi pengunjung yang takut dengan ruang gelap, pihak pengeloloa memasang lampu penerangan.

Sekitar 5.5 juta Gulden di habiskan oleh Belanda untuk membangun kawasan tambang di Sawahlunto. Seiring perjalanan waktu, kota yang dahulu hidup dari pertambangan batu bara pelan-pelan berubah menjadi kota mati. Hal ini karena cadangan batu bara yang mulai habis. Bangunan-bangunan yang dahulu berfungsi sebagai bangunan pendukung administrasi perusahaan berubah menjadi bangunan tua.

Saluran udara yang di pasang oleh pihak pengelola. Saluran udara ini berfungsi sebagai saluran pertukaran udara.

Setelah kota Sawahlunto berubah menjadi kota wisata tambang, bangunan- bangunan tua ini di kembalikan sesuai dengan fungsi nya. Salah satu bangunan yang di fungsikan kembali terletak tidak jauh dari gedung administrasi PT Batu Bara Bukit Asam stad Ombilin. Bangunan ini adalah sebuah lubang tempat di mana dahulu orang-orang rantai bekerja siang dan malam menambang batu bara. Lubang ini bernama Lubang tambang Mbah Soero. Lubang Mbah Soero adalah lubang tambang yang di buka pertama kali nya oleh Belanda. Lubang ini di buka pada tahun 1898. Pemberian nama Mbah Soero karena dahulu yang bertugas sebagai mandor di lubang ini bernama Soero. Dia adalah seorang mandor tambang yang di segani oleh para buruh dan orang orang sekitar nya.

Batu bara dengan kalori 6000 sampai dengan 7000 kalori berada di dalam lubang tambang ini. karena proses penambangan batu bara ini mahal, batu bara ini di  biarkan.

Lubang ini berada 15 meter di bawah permukaan tanah. Pada tahun 1932 Belanda sudah menutup lubang tambang ini dengan alasan air rembesan sungai Batang Lunto selalu memenuhi lubang, keadaan ini di anggap merugikan Belanda. Namun, mengingat tinggi nya nilai sejarah lubang ini. Pada tahun 2007 lubang ini di buka kembali dan di fungsikan sebagai wisata sejarah tambang.

Untuk masuk ke dalam lubang tambang saya terlebih dahulu bertemu dengan pemandu yang bernama Pak Wilison atau bisa di panggil Pak Win. Beliau merupakan bekas karyawan dari PT Bukit Asam.

Setelah menggunakan helm dan sepatu keselamatan. Saya masuk kedalam lubang tambang. Selama berada di dalam lubang yang memiliki panjang 185 meter Pak Win bercerita kepada saya mengenai sejarah dari orang rantai. Bagaimana perlakuan Belanda terhadap mereka, bagaimana perlakuan masyarakat sekitar terhadap mereka, keseharian mereka di tangsi tangsi yang di bentuk Belanda,. Berdasarkan cerita pak Win dapat di katakan bahwa lubang ini merupakan kamp pekerja paksa.

Pak Win juga menceritakan kepada saya mengenai cerita mistis yang di lubang tambang saat kami menyusuri lubang. Suara gamelan di dalam terowongan, penampakan penyiksaan terhadap orang rantai adalah beberapa cerita yang di ceritakan oleh pak Win. Dari cerita pak Win, lubang-lubang tambang ini sebagian ada yang di tutup. Hal ini karena ada lubang yang di gunakan sebagai lubang penumbalan. Orang rantai yang sakit, korban pertikaian, dan mati keracunan akan di bawa ke lubang ini dan di kuburkan. Untuk mencegah hal- hal yang tidak di inginkan maka lubang ini di tutup.

Di dalam lubang saya bisa melihat seperti apa wujud batubara. Batu bara dengan kandungan 6000 kalori sampai 7000 kalori menempel pada dinding yang ada di atas kepala saya. Menurut Pak Win, cadangan batu bara di kawasan ini masih besar. Namun, karena jenis batu bara yang ada merupakan batu bara dalam. Dibutuhkan modal yang sangat besar untuk menambang nya. Selama di lubang, suara kipas angin untuk menyedot udara panas dan mengganti dengan oksigen mendominasi, sehingga obrolan saya dan pak Win selalu dengan suara yang tinggi. Tetesan air dari langit-langit lubang ke kepala saya juga ikut bergabung dalam pembicaraan kami. Kata pak Win, tetesan ini berasal dari sungai Batang Lunto yang berada di atas saya.

Pihak pengelola sudah mengantisipasi para pengunjung yang mempertanyakan keamanan dari lubang ini, mereka sudah memasang lampu lampu penerangan dan memperkuat dinding lubang dengan tulangan baja. Pada lubang Mbah Soero, saya bisa melihat struktur batu bata yang dahulu di gunakan oleh Belanda sebagai penyokong lubang agar tidak runtuh. Struktur ini masih asli dari tahun 1898, bahkan pada saat gempa bumi di Padang terjadi, struktur penyokong ini tidak bergeser sedikitpun. Ujung dari terowongan adalah halaman dari rumah masyarakat..

Batu bara yang terletak di perut bumi kota Sawahlunto dan cerita mengenai orang-orang rantai ikut memberi cerita di dalam perkembangan Republik ini.

Batubara ini yang menjadikan para tahanan politik dan kriminal dari pulau Jawa di kirim untuk menjadi pekerja paksa di kota Sawahlunto.

Advertisements

One thought on “Cerita Urang Rantai

  1. Hmmm, kalau dari ceritanya, air sungai Batang Lunto hingga saat ini masih merembes ke dalam lubang tambang ya? Semoga yang seperti ini sudah diantisipasi pengelola agar struktur lubang tambang tidak ambles.

    Foto-foto di dalam lubang memang sedikit karena kondisi pencahayaan yang tidak memungkinkan atau karena kondisi lubang basah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s