Makan Minum selama 24 jam di Halmahera Utara

       Pernah makan membayangkan akan makan selama dua puluh empat jam tanpa berhenti?  Pernah menari selama dua puluh empat jam tanpa berhenti? Saya rasa tidak semua dari kita pernah merasakan hal ini, Namun di desa Gamtala hal ini bisa terjadi. Desa ini terletak di Kecamatan Sahu Timur, kabupaten Halmahera Barat. Desa Gamtala di huni oleh mayarakat adat Suku Sahu, suku yang memiliki keahlian berladang dan bertani. Setiap dua kali dalam setahun yaitu pada bulan Mei dan November suku Sahu akan mengadakan ritual sukuran atas panen padi. Pesta panen ini di kenal dengan sebutan Horom Toma Sasadu.

            Horom Toma Sasadu memiliki arti,  horom artinya makan; toma berarti di; dan sasadu, rumah adat. Sasadu adalah rumah adat suku Sahu yang  berdiri di atas beberapa tiang kayu, tanpa dinding, dan beratapkan daun sagu. Saat horom sasadu, masyarakat sahu akan makan dan minum serta menari sebagai perwujudan atas rasa sukur mereka terhadap limpahan yang di berikan oleh yang Maha Kuasa. Pada zaman dahulu, horom sasadu akan berlangsung selama sembilan hari sembilan malam tanpa berhenti. Namun sekarang, pesta ini hanya berlangsung selama satu hari satu malam saja. Pengurangan hari pesta panen ini  karena sebagian besar masyarakat suku Sahu sudah memiliki pekerjaan lain selain berladang.

            Malam hari di desa Gamtala, Sasadu  penuh dengan keriuhan para tamu undangan  dan masyarakat. Tiga meja panjang  yang berada di dalam rumah adat sudah penuh dengan makanan. Tamu tamu mulai duduk di meja panjang ini. Masyarakat Sahu sudah membagi siapa yang akan duduk di masing masing meja. Meja yang tengah digunakan untuk tokoh masyarakat setempat atau untuk para pejabat maupun tamu yang berkunjung ke Desa Gamtala. Sementara dua meja yang mengapitnya, satu untuk kelompok laki-laki dan satu lagi untuk kelompok perempuan.

            Di atas meja, nasi, lauk dan sayur sudah di persiapkan oleh mereka. Nasi yang akan saya makan bernama nasi cala atau nasi kembar. Penamaan nasi kembar karena gulungan pelepah pisang hutan membentuk dua selongsong nasi seperti lambang yin dan yang.  Nasi cala ini di masak dengan cara di bakar di dalam bambu. Nasi cala  memiliki tekstur yang padat.  Rasa dari nasi ini agak pera, mungkin karena beras yang di gunakan. Beras yang di gunakan adalah beras ladang  hasil panen masyarakat adat Suku Sahu. Lauk yang akan saya makan adalah ikan sambal dabu-dabu, kering kentang serta sayur bambu hutan muda yang dimasak acar kuning. Ada satu keunikan dari acara makan ini, satu tamu akan di hidangkan beberapa nasi cala yang di letakkan di dalam piring, satu ekor ikan dan satu piring sayur. Tidak ada tamu maupun masyarakat yang makan satu piring lauk dan sayur untuk berdua. Filosofi dari cara menghidangkan makanan seperti ini adalah agar semua yang hadir di dalam pesta ini  kenyang.

            Saat saya sedang meletakkan acar bambu muda ke atas piring, beberapa pemuda dan orang tua mulai menuju ke tengah bangunan adat. Di sini mereka memainkan alat musik sebagai pengiring pesta makan. Alat musik yang mereka mainkan adalah tifa, tifa adalah alat musik yang terbuat dari kayu nira. Biasa nya tifa  berukuran kecil, namun kali ini saya bisa melihat tifa yang berukuran besar. Ukuran nya kurang lebih tiga meter dan di gantungkan dengan menggunakan tali pada kuda kuda Sasadu. Alat musik pengiring tifa adalah gong yang di tempatkan berdekatan pada meja laki-laki. Secara garis besar, musik yang dimainkan ada tiga ritme. Mulai dari yang pelan, agak cepat, dan  sangat cepat.  Nanti nya, setelah makan, masyarakat suku Sahu baik itu pemudi, pemuda, maupun orang tua akan menari bersama di dekat alat musik.

            Pertunjukan sebenar nya dari horom sasadu adalah saat teko-teko yang berisi cairan putih dan bening akan di putar ke masing masing tamu. Teko- teko ini berisi minuman tradisional yang bernama Cap Tikus. Cap tikus adalah minuman tradisional yang biasa diminum di Indonesia bagian Timur, minuman ini memiliki kadar alkohol yang tinggi.  Masyarakat di Timur mengenal Cap Tikus semenjak kedatangan bangsa Portugis. Nama cap tikus berasal dari proses penyulingan minuman  yang di lakukan di sela sela pohon tempat tikus hutan tinggal. Sebelum mencicipi cap tikus, terlebih dahulu saya mencicipi saguer yang juga di hidangkan dalam pesta ini.  Saguer adalah hasil fermentasi dari air enau, rasa nya manis agak sedikit pahit seperti air tape.

            Selama horom sasadu, saguer dan cap tikus akan di berikan secara bergantian kepada tamu maupun masyarakat yang ikut. Menurut kepada adat Suku Sahu Thomas Salasa  seberapapun banyak nya cap tikus yang mereka minum pada saat pesta, mereka tidak akan mabuk. Pada zaman dahulu, selama sembilan hari sembilan malam mereka makan dan minum, tidak pernah terjadi pertikaian karena mereka mabuk.

                Perkataan Bapa Thomas ada benar nya juga,  karena selama saya duduk menikmati pesta ini, di sekililing saya baik tamu maupun masyarakat adat tidak terlihat gelagat seperti mereka tengah mabuk, mereka terlihat sangat menikmati tarian dan suguhan makanan yang ada.

            Acara horom toma sasadu di laksanakan pada hari kedua dari festival Teluk Jailolo, Sabtu 30 Mei 2014, hal ini bertujuan agar para tamu yang datang bisa merasakan ritual adat yang masih di laksanakan oleh masyarakat adat Suku Sahu dan mengenal budaya yang ada di Kabupaten Halmahera Barat.  

Advertisements

8 thoughts on “Makan Minum selama 24 jam di Halmahera Utara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s