Museum Berbau Tembakau

           Aroma tembakau masuk ke dalam hidung saya saat pintu besar berwarna coklat di buka. Pintu besar ini adalah pintu masuk dari museum House Of Sampoerna, museum yang menceritakan perjalanan Sampoerna dalam memproduksi rokok kretek. Nita, seorang pemandu museum menjelaskan rasa penasaran saya dari mana bau tembakau ini berasal. “ Bau tembakau ini berasal dari pabrik rokok yang berada di belakang museum pak” ujar nya.

            House of Sampoerna adalah museum yang menceritakan mengenai sejarah perjalanan dari merk Sampoerna, dari usaha kecil menjadi perusahaan rokok raksasa. Bangunan ini dulu nya adalah bangunan yang didirikan Belanda sebagai tempat penitipan anak laki laki dengan luas sekitar 1.5 Ha. Pada tahun 1932, Liem Seng Tee yang merupakan pendiri dari Sampoerna membeli rumah ini. Beliau memindahkan keluarga serta mendirikan pabrik pada bangunan ini. Museum ini terdiri dari dua lantai. Lantai satu terdiri tiga koridor, masing masing koridor memiliki cerita yang saling behubungan.

            Koridor pertama menceritakan mengenai sejarah dari pendiri Sampoerna yang bernama Liem Seng Tee, beliau adalah seorang perantau China yang datang ke Indonesia bersama kakak dan ayah nya. Setelah ayah nya meninggal. Pak Liem di titipkan ke pasangan suami isteri Tionghoa di Bojonogero hingga umur sebelas tahun. Setelah berumur sebelas tahun, dia memutuskan untuk hidup mandiri dengan berjualan di atas kereta api tujuan Jakarta-Surabaya. Selama delapan belas bulan dia menjalani kehidupan di atas rel. Setelah menikah dengan Siem Tjiang Nio, pak Liem bekerja sebagai buruh pada pabrik rokok di Lamongan, Jaw Timur. Ibu Siem mendirikan warung bahan pokok kecil kecilan di pinggir jalan Tjantian di Surabaya Lama. Saat menjadi buruh di pabrik rokok, pak Liem mendapatkan berbagai macam ilmu dalam meracik rokok kretek. Pada tahun 1913, dengan di modal dari isteri nya. Pak Liem mendirikan pabrik rokok kretek bernama Handel Maatschappaij Liem Seng Tee, pabrik ini memiliki dua orang buruh. Dia dan isteri nya. Sistem pembelian rokok adalah sistem pemesanan.

            Di sini juga terdapat sepeda ontel yang dulu di gunakan oleh kedua pasangan suami isteri ini dalam memasarkan rokok ke para pelanggan. Pada bagian dinding di koridor satu ini terdapat gambar dari tiga tangan dengan jari telunjuk yang menunjuk. Menurut Nita, ini adalah filosofi tiga tangan Sampoerna. Filosofi ini bermakna jika bisnis ingin lancar antara produsen, distributor, dan konsumen harus memiliki hubungan yang baik. Selain tiga tangan dengan jari telunjuk yang menunjuk, pada bagian tangan ini terdapat sembilan jari yang saling menutup. Makna dari sembilan jari ini adalah kesempurnaan. Pak Liem sangat percaya akan nilai dari angka sembilan ini sehingga dia memasukkan filsofi China ini kedalam merk dagang nya. Sampoerna. Selain folisofi tiga tangan Sampoerna, pada bagian dinding di koridor satu terdapat foto-foto lama yang menceritakan mengenai sisi lain dari Gedung ini. Setelah di beli oleh Pak Liem pada tahun 1932, bangunan ini sempat di jadikan sebagai teater. Teater ini adalah bisnis sampingan dari pak Liem.

            Bagian kedua dari koridor, terdapat sebuah lemari besi yang dibuat di Panama, lemari besi ini adalah saksi keruntuhan bisnis dari Pak Liem Seng Tee pada tahun 1942. Pada saat Jepang masuk dan menduduki Indonesia, sebagian besar orang orang China pebisnis memilih meninggalkan Indonesia. Sedangkan pak Liem, beliau memilih tetap berada di Indonesia. Akibat nya pak Liem di tahan oleh Jepang dan dimasukkan ke dalam kamp kerja paksa di Jawa Barat. Semua simpanan pak Liem yang berada di dalam lemari besi di jarah oleh Jepang. Anak anak beserta isteri beliau di sembunyikan. Pabrik nya di sita oleh Jepang. Tahun pendudukan Jepang adalah tahun terburuk bagi pak Liem. Selain lemari besi, terdapat foto foto dari jajaran komisaris dari Sampoerna.

            Koridor tiga menceritakan kesuksesan dari Pak Liem dalam membangun merek. Pada koridor ini, saya bisa melihat merek merek dagang dari Sampoerna. Dji Sam Soe dan A mild adalah merek dagang yang mendominasi koridor ini. Nita menceritakan kepada saya mengenai sejarah dari merek dagang ini. Dji Sam Soe adalah rokok kretek yang di buat oleh pak Liem Seng Tee, kata Dji Sam Soe berasal dari kata Hokian Ji Sa Si namun karena pada zaman dahulu masyarakat Indonesia sulit menyebutkan kata kata Ji Sa Si ,pelafalan merek dagang ini menjadi Dji Sam Soe. Dji Sam Soe dalam angka memiliki urutan 234 yang jika di jumlahkan adalah sembilan. Pak Liem percaya bahwa angka sembilan adalah kesempurnaan. Menurut Nita lagi, 234 ini berasal dari jenis tembakau dan cengkeh yang di gunakan. Karena pak Liem tidak bisa membaca dan hanya mengenal angka. Beliau memberi nomor kepada tembakau tembakau yang akan digunakan nya. 234 adalah tembakau dan cengkeh nomor dua, nomor tiga dan nomor empat. Fatsaal 5 yang tertera di bungkus rokok ini memiliki arti bumbu ke lima. Jadi arti merek dagang yang ada pada Dji Sam Soe Fatsaal 5 adalah tembakau, cengkeh nomor dua, tiga dan empat dengan bumbu nomor lima. Ke empat campuran ini menghasilkan merek dagang yang sangat terkenal.

            Merk A Mild juga memiliki arti, A ini berasal dari nama panggilan dari anak ke dua dari Pak Liem yang bernama Liem Swie Ling. Nama panggilan beliau Aga, Anak dari pak Liem Swie Ling yang bernama Putra Sampoerna mengenang ayah nya dengan menjadikan merek rokok A mild. Selain kedua merek rokok ini, saya juga melihat mesin cetak merek rokok . Hiedelberg. Mesin cetak ini merupakan saksi proses pencetakan bungkus rokok dengan teknik modern pada pabrik ini.

            Sebelum meninggalkan museum. Nita mengajak saya ke lantai dua Museum. Di lantai dua, saya bisa melihat proses pembuatan dan pengemasan dari rokok Dji Sam Soe. Buruh buruh pabrik dengan cekatan, melinting, mengepak, dan membungkus rokok ini. Mereka bergerak seperti robot. Samporna menggunakan perempuan sebagai buruh, karena mereka percaya bahwa perempuan bisa multi tasking/ mengerjakan sesuatu secara bersamaan. Ternyata hal ini benar, pada saat saya melihat buruh buruh ini mengerjakan proses pekerjaan mereka. Ada yang sembari berbicara seru dengan rekan kerja di sebelah nya, bahkan ada yang sembari menelpon. Walaupun begitu pekerjaan mereka cepat dan tepat. Seorang pengunjung dari Jakarta bernama Rangga terlihat takjub dengan kelihaian buruh buruh perempuan ini, “ Seperti di film film, semua nya sangat teratur” ujar nya. Pada lantai dua juga di pamerkan UKM yang bekerja sama dengan pihak Sampoerna, mereka di berikan pelatihan dan jika mereka memenuhi syarat. Karya karya mereka akan di pamerkan pada lantai dua House Of Sampoerna ini.

            Pintu besar dengan kaca patri bertuliskan Wang/ kejayaan di tutup saat saya meninggalkan museum ini. House Of Sampoerna merupakan saksi bisu dari perjalanan sebuah merek besar di Indonesia.

Advertisements

4 thoughts on “Museum Berbau Tembakau

  1. Mas bro, saya masih agak bingung nih, “…234 adalah tembakau dan cengkeh nomor dua, nomor tiga dan nomor empat…”. Jadi 234 itu untuk tembakau atau cengkeh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s