Istana Matahari dari Timur

        Di tepi sungai Siak yang konon kata nya terdalam di Indonesia, berdirilah sebuah istana yang megah. Istana ini adalah saksi dari kerajaan besar di Riau, kerajaan tersebut bernama kerajaan Siak Sri Indrapura. Di bawah pemerintahan Sultan ke sepuluh yang bernama sultan Syarif Hasyim kerajaan ini mendirikan sebuah istana. Istana ini memiliki julukan Matahari dari Timur atau dalam bahasa arab nya Asserayah Hasyimiah.

Image

            Pintu istana yang berwarna hijau masih tertutup saat kedatangan saya. Baru saja kaki akan menjejakkan kaki ke lantai pualam yang berwarna putih. Tiba-tiba ada suara yang menegur. “Bang, lepas dulu alas kaki nya. Lantai ini masih asli”. Suara yang menegur saya berasal dari pegawai yang bekerja di istana. Selain penjaga, mereka bisa menemani tamu untuk menjelaskan sejarah istana ini.

Image

Image

            Istana Siak didirikan pada tahun 1889, fungsi istana sebagai tempat tinggal dari Sultan. Arsitek yang merancang bangunan ini berasal dari Jerman. Gaya arsitektur bangunan yang dipakai adalah Melayu, Eropa dan Arab. Istana ini terdiri dari dua lantai, lantai pertama adalah ruang penerimaan tamu, dan ruang rapat sedangkan lantai atas adalah ruang istirahat raja. Pintu istana di buka, setelah saya mengisi buku tamu. “Kreeekk” engsel nya berderit, seperti nya pintu ini sudah lama tidak di minyaki.

Image

            Saya diajak ke ruangan penyambutan tamu, di sini terdapat manekin para petinggi kerajaan yang sedang rapat. Konon kabar nya ini adalah manekin dari Dewan Istana dan Raja. Manekin ini di di dandani dengan pakian melayu lengkap dengan kain songket Siak. Posisi manekin ini di susun seolah-olah mereka sedang melaporkan kondisi terkini dari situasi kerajaan pada saat itu. Tidak jauh dari manekin Dewan Istana dan Raja, terdapat foto hitam putih. Foto berukuran 60 x 40 cm ini menunjukkan wajah dari Sultan Syarif Qasim II. Beliau merupakan raja terakhir dari kerajaan Siak. Dialah yang memutuskan Kerajaan Siak bergabung dengan Indonesia setelah mendengar kabar proklamasi kemerdekaan di kumandangkan di Jakarta. Saat bergabung dia menyerahkan hartanya kepada presiden Sukarno di Yogyakarta sebesar 13 juta Gulden untuk membantu pembangunan negara ini. Nilai uang tersebut kurang lebih setara dengan pembangunan tiga Gedung Sate di Bandung pada saat itu. Atau jika dikonversikan dengan nilai uang sekarang sekitar satu trilyun rupiah uang pribadi beliau disumbangkan. Beliau menyatakan bergabung dengan Republik ini bersama kerajaan Deli, Asahan, Yogyakarta, Solo, Kutai Kertanegara, Pontianak, Ternate, Tidore, Bali, Sumbawa, dan daerah-daerah yang termasuk Zelfbestuuren/berpemerintahan sendiri pada zaman Belanda.

Image

            Saya menuju bagian dalam istana. Ruangan perjamuan tamu nama ruangan ini, di sini koleksinya tidak kalah menarik. Saya melihat sebuah cermin yang terbuat dari kristal. Umur kaca ini kurang lebih sudah ratusan tahun. Cermin ini dibuat di Ceko. Pada zaman dahulu cermin ini digunakan ratu untuk berkaca. Ada sebuah mitos yang berkembang, jika kita berkaca di depan cermin maka kita akan awet muda. Menurut keterangan penjaga istana, ada beberapa artis ibukota yang berkaca di depan cermin ini. Sayangnya dia tidak mau menceritakan siapa mereka, “Rahasia bang” ujar nya sambil tersenyum lebar. Selain cermin kristal, koleksi menarik yang terdapat disini adalah patung raja yang terbuat dari pualam putih dan bermatakan kristal. Untuk menjaga agar patung ini tidak di sentuh oleh tangan tangan jahil patung ini di masukkan ke dalam kotak kaca.

Image

            Penjaga istana yang bernama Syamsudin mengajak saya ke koridor kanan istana. Dia memamerkan kepada saya koleksi istimewa dari istana. Koleksi ini adalah sebuah alat musik yang bernama Komet. Alat musik ini berasal dari Jerman. Kabarnya hanya ada dua di dunia. Yang satu berada di Jerman sedangkan yang lain nya berada di Siak. Komet berwujud kotak besar dan untuk memainkan nya harus di putar terlebih dahulu seperti gramafon. Komet juga menggunakan piringan, namun bahan dari piringan bukanlah vinyl namun pelat besi yang berbentuk lingkaran. Pelat besi ini di lubangi sedemikian rupa sehingga pada saat bagian dari komet menyentuh lubang akan keluar nada-nada. Bach dan Mozart adalah beberapa koleksi piringan yang ada. Menurut Syamsudin, kedatangan alat musik ini setelah kunjungan Sultan Siak ke Jerman. Dapat di bayangkan betapa luas nya pergaulan Sultan pada zaman itu.

Image

Image

            “Yok bang, naik ke lantai dua” ujar Syamsudin. Di lantai dua, koleksi yang ada sama menarik nya seperti di lantai satu. Lantai dua merupakan tempat istirahat raja, di sini terdapat kamar-kamar yang dahulu nya di jadikan kamar istirahat bagi raja dan tamu. Di dinding kamar ini terdapat foto-foto hitam putih yang seperti menceritakan mengenai kehidupan di dalam istana pada zaman dahulu. Foto yang paling menarik adalah foto hitam putih dari seseorang yang menggunakan baju seperti rompi dan memakai tameng yang terbuat dari kayu. Kata Syamsudin, foto ini adalah foto orang Dayak yang saat itu datang berkunjung ke istana. Selain foto-foto lama, di bagian atas terdapat jubah perang yang digunakan raja, proyektor film, dan beberapa pusaka kerajaan berupa badik dan keris.

Image

Image

Image

Image

 

            Dari lantai dua saya turun. Sebelum meninggalkan istana perhatian saya tertuju pada sebuah kotak besi yang terletak di bagian kanan bawah tangga. Syamsudin langsung berkata. “Itu lemari besi bang, sampai hari ini tak bisa di buka”. Pikiran saya langsung berimajinasi liar. Apakah isi di dalam lemari besi ini adalah kontrak kerja dari perusahaan-perusahaan minyak asing yang sudah masuk ke Siak pada waktu itu, atau kontrak mengenai perjanjian kerjasama antara kerajaan ini kepada Inggris pada abad ke 18. Entah lah.

Image

 

Image

           

Advertisements

4 thoughts on “Istana Matahari dari Timur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s