Menjenguk Mak Itam di sawahlunto

Sawah Lunto. adalah salah satu kota tua di Indonesia yang berkembang di tangan Belanda, Perkembangan kota ini terjadi setelah di temukan nya cadangan batu bara yang besar di sungai Ombilin oleh Willem Hendrik de Greve. Akibat penemuan dari deposit Batubara ini. Belanda membangun berbagai fasilitas tambang di sini. Sekitar 5.5 juta Gulden di habiskan oleh Belanda untuk membangun kawasan pertambangan. Untuk mendistribusikan deposit batu bara ini keluar dari Sawahlunto, Belanda membangun jalur kereta api sepanjang kurang lebih 150 km dari Sawahlunto ke Emma Haven/Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Jalur ini dibangun oleh Belanda dengan biaya sekitar 17 juta Gulden.

Image

Pada awal nya jalur ini hanya sampai di Muara Kalaban pada tahun 1888, pada tahun 1894 barulah jalur kereta ini masuk ke Sawahlunto. Belanda membangun berbagai macam fasilitas pendukung untuk jalur kereta api Sawahlunto-Teluk Bayur. Rel- rel dan terowongan sepanjang 800 meter mereka bangun untuk membelah kawasan pegunungan Bukit Barisan, sinyal-sinyal kereta api mereka pasang. Belanda juga membangun stasiun di lima tempat pemberhentian pengangkutan batubara dari Sawahlunto, yaitu Sawahlunto-Solok (28,3 kilometer), Solok-Batutaba (33,2 kilometer), Batutaba-Padang Panjang (17,5 kilometer), Padang Panjang-Kayu Tanam (15,5 kilometer), dan Kayu Tanam-Teluk Bayur (57 kilometer). Dampak dari pembangunan jalur kereta api ini, pemasukan kas untuk Belanda menjadi besar. Usaha yang dulu nya minus menjadi pemasukan penting bagi Belanda.

Image

Pada zaman kejayaan batu bara di Sawah Lunto, perusahaan Kereta Api Belanda yang bernama Staatsspoorweg ter Sumatra’s Westkust (SSS) membeli lokomotif uap E 10, lokomotif ini di datangkan dari pabrik Jerman dan Swiss. Lokomotif ini berfungsi sebagai penarik gerbong yang membawa batu bara menuju Teluk Bayur. Seiring perjalanan waktu kereta api uap ini di gantikan dengan kereta diesel. Karena cadangan batu bara di Sawahlunto mulai menipis jalur kereta api Sawahlunto- Padang Panjang menjadi sepi. Pada tahun 2000 jalur ini di tutup, stasiun kereta api beserta semua fasilitas pendukung jalur kereta api Sawahlunto- Teluk Bayur menjadi bangunan dan besi tua.

Image

Pada tahun 2003, pemerintah kota Sawahlunto berinisiatif menjadikan kota mereka sebagai kota wisata minat khusus dengan konsentrasi wisata tambang. Salah satu bangunan yang di jadikan sebagai tujuan wisata adalah stasiun kereta api Sawahlunto. Stasiun ini berubah menjadi Museum Kereta Api. Hanya ada dua museum kereta api di Indonesia. Pertama di Ambarawa, Jawa Tengah dan kedua di Sawahlunto, Sumatera Barat.

Image

Bangunan museum kereta api ini tidak berukuran besar, dengan menempati bangunan bekas stasiun kereta api Sawahlunto, museum ini terdiri dari dua ruangan. Bagian kanan, dan bagian kiri. Museum ini buka hari Selasa sampai dengan Minggu.

Image

Pada bagian depan museum, gerbong-gerbong tua yang dahulu nya sarat dengan muatan batu bara di parkirkan begitu saja. Dari pintu masuk, saya di arahkan oleh penjaga museum menuju ruangan sebelah kanan. Di sini terdapat koleksi-koleksi benda yang dulu digunakan di stasiun-stasiun kereta api yang di lintasi jalur Sawahlunto-Teluk Bayur. Benda-benda itu seperti lampu sinyal, timbangan baja yang dahulu nya di gunakan sebagai timbangan barang, kunci-kunci rel dan panel-panel kelistrikan.

Image

Di depan lemari kaca yang menyimpan kunci–kunci rel terdapat sebuah jam kereta yang berwarna hijau. Jam ini sudah ada dari tahun 1894, pada saat stasiun berdiri. Dahulu, jam tua ini di letakkan pada bagian kanan atas dari dinding stasiun. Setiap pagi, semua stasiun kereta api yang berada di jalur Sawahlunto- Teluk Bayur akan menyesuaikan jam di dinding mereka. Keunikan jam dinding ini adalah pada angka empat Romawi dari jam, jam ini tidak menggunakan angka IV namun menggunakan angka IIII. Penulisan angka ini sama seperti angka empat Romawi pada jam Gadang yang berada di Kota Bukit Tinggi.

Image

Ruangan kiri dari museum juga tidak kalah menarik, di sini terdapat foto-foto hitam putih yang menggambarkan keadaaan para pekerja paksa yang dulunya membangun jalur kereta api ini, selain itu terdapat replika kereta api diesel yang dahulu menjadi tulang punggung dalam mendistribusikan batu bara keluar Sawahlunto. Sebelum keluar dari museum. Penjaga museum berpesan kepada saya untuk melihat ke bengkel museum yang terletak di bagian belakang museum. Ada sebuah kejutan yang siap menyambut para pengunjung museum kereta api.

Image

Kejutan ini adalah lokomotif uap yang bernama Mak Itam, Mak Itam adalah lokomotif yang menggunakan tenaga uap bernomor E1060. Mak Itam merupakan generasi terakhir dari kejayaan kereta uap di Sawahlunto. Dahulu, Mak Itam ikut bekerja menarik gerbong yang berisi batu bara menelusuri punggungan Bukit Barisan. Pada tahun 1998 Mak Itam rusak dan di bawa ke Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa Tengah. Di sini Mak Itam di perbaiki dan di simpan.

Image

Tahun 2008 Mak Itam kembali ke Sawah Lunto. Mak Itam sempat bernostalgia akan perjalanan yang dahulu dia lakukan. Bersama Pak Bukhari yang menjabat sebagai masinis kereta api, Mak Itam membawa penumpang nya menelusuri jalur Sawahlunto- Muara Kalaban- Solok. Di dalam perjalanan nostalgia ini, kita akan melewati Danau Maninjau dan perbukitan Pegunungan Bukit Barisan.

Image

Sekarang, Mak Itam sudah tidak bisa lagi membawa orang-orang yang ingin bernostalgia menelusuri jalur distribusi batu bara yang di buat oleh Belanda. Dua belas pipa pembakaran yang menjadi jantung dari Mak Itam bocor. “Ya begini lah, akhir nya Mak Itam hanya berdiam di dalam bengkel ini. Untuk memperbaiki kebocoran sangat sulit” ujar pak Bukhari kepada saya. Menurut cerita pak Bukhari, pemerintah kota Sawahlunto sempat ingin menghidupkan kembali Mak Itam, dari subuh pak Bukhari sudah bekerja memasukkan batu bara, mengisi air di ketel uap, dan menunggu tekanan uap di dalam ketel pas. Namun, karena kebocoran tersebut, tekanan uap tidak mencapai puncak nya. Pak Bukhari pun angkat tangan. Di dalam bengkel ini Mak Itam di temani oleh gerbong kayu yang dahulu ditarik oleh nya saat nostalgia menelusuri punggungan Bukit Barisan.

Image

Pintu bengkel yang berwarna hijau tua di tutup setelah saya keluar. Akhir nya kewajiban saya bisa menjenguk saksi bisu sejarah kejayaan batu bara di Sumatera.

Advertisements

8 thoughts on “Menjenguk Mak Itam di sawahlunto

  1. Iya, saya sempat baca berita klo mak Itam rencananya mau digunakan untuk mengangkut peserta Tour de Singkarak yang bakal berlangsung Juni ini tapi sudah sejak Maret 2013 rusak. Semoga saja ya, bisa diperbaiki asalkan ada dana, bukan tidak bisa diperbaiki karena suku cadangnya sudah tidak bisa diperbaiki.

  2. yoa… indonesia tingga sawah lunto dan ambarawa,,,, sebentar lagi jalan.. kereta api ambarawa menuju kedung jati semarang dan solo. kebetulan kemarin ngobrok ama petugas pt.kai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s