Yuk Ke Buitenzorg

     “Gratak.Gratak.Gratak.Zzztt” suara ban dan rem kereta masuk di sela-sela keriuhan gerbong yang saya tumpangi. “ Ayo, ayo, buruan” kata seorang ibu sembari setengah menyeret anak nya menuju pintu keluar. Pemandangan yang saya lihat dari jendela kereta adalah tumpukan penumpang tujuan Jakarta yang sedang menunggu kereta. Saat kereta berhenti dengan sempurna,  penumpang kereta berhamburan keluar seperti tawon yang keluar dari sarang nya.  Dari pintu keluar stasiun, kembali keriuhan menyambut saya. Kernet-kernet angkot berteriak memanggil calon penumpang “Cibodas kang”, “ Ciawi kang”, “ Cisarua kang, nggak ngetem. Tinggal jalan”, sayangnya tujuan kali ini  tidak perlu menggunakan angkot. Cukup dengan berjalan kaki sekitar 10 menit dari stasiun kereta api. Tidak lama kemudian setelah membayar Rp 12.000,- saya sudah masuk.

Image

            Tujuan kali ini adalah sebuah hutan buatan yang sudah ada sejak zaman Prabu Siliwangi. Dahulu hutan ini digunakan untuk memelihara benih-benih kayu yang langka. Namun, setelah kerajaan Sunda jatuh dibawah Kesultanan Banten, hutan butan ini dibiarkan terlantar. Hingga pada tahun 1745 Gubernur Jendral Van Imhof menemukan areal ini yang disebut dengan Buitenzorg yang artinya bebas masalah/kesulitan.  Kemudian dibangun sebuah pesanggrahan yang selanjutnya dikembangkan menjadi lebih luas dan megah oleh Gubernur Jenderal Willem Daendels (1808-1811). Hutan buatan ini  sekarang dikenal dengan sebutan Kebun Raya Bogor.

Image

            Kebun Raya Bogor mulai berkembang saat   Gubernur Jenderal Thomas Stamford Rafles memerintah. Dengan dibantu seorang ahli botani dari Inggris yang bernama W.Kent, kebun ini disulap menjadi kebun bergaya Inggris klasik. Dari Stanford Rafles kebun ini semakin berkembang di bawah pemerintahan Van der Capellen. Pada tanggal 18 Mei 1817 Gubernur Jenderal Van der Capellen secara resmi mendirikan Kebun Raya Bogor dengan nama Lands Plantentuin Te Buitenzorg. Pembangunan kebun raya ditandai dengan menancapkan cangkul pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan.  Pembangunan ini dipimpin langsung oleh Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt, seorang ahli botani dan kimia yang menjadi Menteri Bidang Pertanian, Seni, dan Ilmu Pengetahuan di Jawa dan sekitarnya.

Image

            Dari pintu masuk kebun raya, saya berjalan ke arah kiri. Di sini, saya disambut dengan barisan pohon palem. Pohon-pohon ini disusun seolah olah seperti pintu gerbang. Sekitar 10 menit berjalan, saya melihat sebuah istana dengan ukuran besar yang berdiri dengan kokoh. Istana pada mulanya adalah bangunan pesanggarahan yang  didirikan oleh Gubernur Jendral Van Imhof. Dia sendiri yang membuat sketsa bangunan ini dengan mencontoh arsitektur Blenheim Palace. Kediaman Duke of Malborough, dekat kota Oxford di Inggris. Proses pembangunan ini dilanjutkan oleh Gubernur Jendral Jacob Mossel yang masa dinasnya 1750 – 1761. Dalam perjalanan sejarahnya, bangunan ini sempat mengalami rusak berat sebagai akibat serangan rakyat Banten yang anti Kompeni, di bawah pimpinan Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang.

Image

            Pada masa Gubernur Jendral Willem Daendels ( 1808 – 1811 ), pesanggrahan  diperluas dengan memberikan penambahan ke sebelah kiri gedung dan sebelah kanannya dan bangunan ini  dijadikan dua tingkat. Halamannya yang luas, dipercantik dengan mendatangkan enam pasang rusa tutul dari perbatasan India dan Nepal. Bangunan berupa istana baru terwujud secara utuh pada masa kekuasaan Gubernur Jendral Charles Ferdinand Pahud de Montager ( 1856 – 1861 ). Pada pemerintahan selanjutnya tepatnya tahun 1870, istana ini ditetapkan sebagai kediaman resmi para Gubernur Jendral Belanda. Beberapa ratus kemudian setelah Belanda dan Jepang menyerah, istanai ini berubah menjadi istana resmi kepresidenan. Sekarang istana ini dikenal dengan  sebutan istana Bogor. Sayangnya, karena birokrasi saya tidak bisa masuk kedalam istana. Menurut keterangan para penjaga. Jika ingin masuk kedalam istana, terlebih dahulu mengurus izin ke bagian protokoler dan harus rombongan. Dalam kesempatan kali ini saya  hanya bisa melihat dari luar sosok yang gagah ini  tanpa bisa masuk kedalam nya.

Image

            Dari istana, saya berjalan terus ke arah Utara. Sepanjang perjalanan, para pengunjung kebun raya terlihat menikmati suasana teduh dari naungan pohon-pohon yang ada di sini. Mereka berbaring di atas rumput dan menikmati angin sepoi-sepoi yang menyapa pohon-pohon disini. Cuaca Bogor hari ini memang panas. Setelah 10 menit berjalan, saya melihat sebuah bangunan. Bangunan ini berbentuk seperti kubah yang  bergaya Indis.  Di dalam kubah ini terdapat sebuah tugu. Tugu ini merupakan tugu peringatan kematian seorang wanita. Dia adalah isteri dari Gubernur Jendral Raffles  yang bernama Lady Olivia Mariamme. Lady Olivia Mariamne ini wafat pada tahun 1814 karena penyakit malaria di istana Bogor.  Sebenarnya, makam isteri Rafles berada di Museum Prasasti yang terletak di Tanah Abang , namun Rafles memutuskan mendirikan tugu peringatan di Istana  untuk memperingati kematian isteri nya. Pada prasasti ini terdapat tulisan Raffles yang berbunyi kurang lebih ” Oh thou whom near my constant heart. One moment hath forgot, Thou fate severe hath bid us part . Yet still  forget me not “, arti nya  kira-kira  “Oh kau yang tak pernah satu kali pun terlupakan oleh detak jantungku.  Takdir yang keji telah memisahkan kita.  Namun janganlah pernah melupakan aku”. Dari tulisan ini, seperti nya Rafles sangat kehilangan sosok isteri nya.

Image

            Dari tugu peringatan saya berjalan ke arah kiri. Di bagian kiri, terdapat sebuah pohon raksasa. Dilihat dari ukuran pohon yang sangat besar sepertinya umur pohon ini puluhan tahun.  Nama pohon  ini adalah kempas dengan  nama nama latin Koompassia excels.  Kempas dikenal dengan sebutan kayu raja karena keras nya kayu yang dihasilkan. Tidak jauh dari pohon kempas. Terdapat sebuah patung batu yang dipahat menyerupai hewan. Hewan tersebut adalah seekor lembu, Lembu ini adalah lembu Nandi. Lembu Nandi adalah wahana atau kendaraan Dewa Siwa.  Bersama dengan Mahakala, Lembu Nandi bertugas  menjaga  pintu gerbang Surga Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Patung nandi, dipindahkan pada pertengahan abad ke-19 dari tempat asalnya yaitu sebuah kolam di daerah Kotabatu Ciapus oleh Dr Frideriech. Sementara prasasti yang ada disebelahnya bertuliskan huruf sunda kuno yang berarti “tidak jauh dari sini ada kolam”. Sayang nya, keberadaan Lembu Nandi tidak terlalu di perhatikan oleh para pengunjung kebun raya. Hanya beberapa orang yang mendatangi patung ini, itu pun oleh rasa penasaran mereka saat melihat saya  sibuk mengitari patung  sembari bergumam sendiri.

Image

            Selanjut nya, saya berjalan terus ke arah barat dari lembu nandi. Saya melewati berbagai macam koleksi kebun raya Bogor. Koleksi pandan, kayu ulin, adalah beberapa tanaman yang saya lewati. Setelah 15 menit berjalan saya tiba di jembatan merah. Di bawah jembatan ini mengalir sungai Citarum, sungai ini terlihat kecil. Berbeda dengan yang ada di Jakarta.  Dari jembatan, setelah 10 menit berjalan saya tiba di kolam lapangan rumput yang luas. Di lapangan ini, terdapat tanaman besar yang berasal dari Afrika. Tanaman ini dikenal dengan Baobab atau dikenal dengan julukan Ki Tambleg.  Pohon ini berukuran sangat besar. Seperti nya membutuhkan waktu yang lama bagi pohon ini untuk tumbuh hingga berukuran sangat besar.

Image

            Tujuan terakhir saya di kebun ini  adalah rumah anggrek. Rumah anggrek dibuka oleh Presiden Megawati pada tahun 2005. Alasan mendirikan rumah ini untuk membantu kelestarian anggrek-anggrek endemik yang ada di Indonesia. Saat kedatangan saya, kebetulan Bogor sedang mengalami musim kemarau. Sehingga saya berkesempatan menikmati warna warni anggrek yang sedang mekar. Disini lah perjalanan saya berakhir. Cuaca yang tadi nya panas terik, menjadi hujan. Dengan berlari saya menuju pintu keluar. Mencegat angkot dan mencari rumah makan adalah tujuan saya selanjut nya.  

Image

 

Image

Image

 

Advertisements

5 thoughts on “Yuk Ke Buitenzorg

  1. Slow speednya sungai Ciliwungnya cakep banget. Habis lebaran keluarga besar saya ngusulin piknik kemari skalian halal bi halal. Pastinya nanti nggak bakal sesepi ini ya, hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s