Menyapa Pagi di Beringharjo

        Pagi hari di Yogyakarta biasanya kita bingung akan pergi kemana. Sebagian besar objek wisata seperti Candi Prambanan, Taman Sari, dan Kraton. Buka pada pukul 07.30. Sebelum itu, biasa nya tidur tiduran di penginapan atau mencari sarapan di sekitar jalan Malioboro, di depan stasiun Tugu menjadi pilihan. Hal yang sama saya alami sekarang, saat pagi menyapa Yogyakarta. Saya belum tahu akan pergi kemana. Saat menghabisan waktu dengan duduk di bangku taman di depan gedung DPRD. Tiba-tiba teman menyeletuk. “ Ke Beringharjo yuk”. “ Sepagi ini?” Kata saya. “ Ya iya lah” Ujar nya. “ Boleh lah”. Ujar saya. Dalam perjalanan menuju Beringharjo. Otak saya terus membangun asumsi. “Pasti sepi. Siapa yang mau ke pasar batik di pagi hari?”. Namun, asumsi ini ternyata salah. Begitu tiba di gerbang masuk pasar. Ternyata sudah terjadi keriuhan, Keriuhan ini terjadi di lantai satu, tepat nya pada los yang menjual batik. Di sini para pembeli berbaur dengan para penjual yang sibuk menawarkan dagangan. “Kemeja mas, Rp 45.000 saja. Penglaris pagi”. “Nyari apa mas, daster,kemeja,batik tulis. Ayo diliat liat dulu. “, “ Kurang ya pak kemeja nya, Rp 30.000 saja satu. Nanti saya beli tiga deh. “. Sahut sahutan ini silih berganti masuk ke telinga saya sepanjang perjalanan menelusuri gang pasar ini.

Image
          Beringharjo adalah nama sebuah pasar   di Malioboro. Pasar ini telah ada dari tahun 1758. Pada mula nya kawasan pasar ini adalah hutan beringin. Tidak lama setelah Kraton Yogyakarta berdiri, wilayah yang dahulunya adalah hutan dijadikan sebagai tempat transaksi ekonomi oleh masyarakat Yogyakarta dan warga sekitar nya. Pada tahun 1925 barulah tempat ini memiliki bangunan permanen. Nama Beringharjo diberikan oleh Hamengkubuwono IX artinya wilayah yang semula pohon beringin ( bering) diharapkan memberikan kesejahteraan (harjo). Sekarang, pasar ini berubah menjadi pasar 3 tingkat yang berukuran besar. Masing-masing tingkat menjual bermacam komoditas. Dapat dikatakan Beringharjo adalah pasar terlengkap di Yogyakarta.

Image
        Dari keriuhan transaksi yang terjadi di lantai 1. Saya memilih untuk memisahkan diri. “Tinggalin aja aku di sini, nanti setelah selesai “ bertempur”. Aku hubungi” Ujar teman saya. Saya berjalan menuju bagian Selatan pasar. Di sini terdapat lorong yang menjadi tempat para penjual barang barang antik. Barang- barang yang mereka jual berupa patung kepala Budha yang terbuat dari kuningan, frame kacamata lawas, setrika tua dengan pemanas berupa arang, Dan kaset-kaset tua. Dengan Rp 15.000 saya sudah bisa membawa album Rolling Stone “Steel Wheel” dan Album Soneta yang berisikan lagu-lagu raja dangdut Rhoma Irama.

ImageImage

          Dari lorong yang menjual barang antik. Saya melanjutkan perjalanan ke lantai dua pasar. Seperti yang terjadi di los Batik. Di lantai dua, keriuhan transaksi perdagangan sudah berlangsung. Saat berada di sini, ada bau yang familiar yang masuk ke rongga penciuman saya. Bau ini adalah bau harum dari jahe, bersama jahe turut tercium harum dari kayu manis. Sekarang saya sedang berada di los yang menjual bahan-bahan jamu. Jika ingin mencari bahan-bahan membuat jamu disini lah tempat nya. Kayu manis, kapulaga,jahe, dan rosella adalah beberapa jenis komoditas yang di jual. Beberapa pedagang bertanya ramah kepada saya, ingin membeli apa. Saya menjawab tawaran ini dengan jawaban. “Sedang lihat-lihat saja Pak. Belum beli”. Dari los yang menjual herbal, saya terus ke arah barat. Di sini, saya mendengar suara tawa yang saling bersautan. Suara tawa ini seolah memecah hiruk pikuk transaksi yang terjadi di lantai dua. Saya menuju ke arah suara tawa tersebut.

ImageImage

           Ternyata, suara tawa ini berasal dari suara tukang panggul. Jika selama ini kita melihat tukang panggul barang adalah laki-laki. Di Beringharjo, tukang panggul adalah perempuan- perempuan. Mereka berusia dari 40 sampai 50-an tahun. Para pemanggul ini datang dari subuh dan nanti nya mereka akan pulang saat sore hari. Sehari-hari pendapatan mereka tidak pasti. Tergantung dari ramainya transaksi yang terjadi di pasar. Saat saya sedang melihat mereka sedang menimbang karung yang akan mereka angkat. Tiba tiba ada celetukan “ Mas, di foto sek no” Ujar salah satu pemanggul. “ Crak, Crak” suara dari shutter saya mengabadikan kegiatan mereka.

Image

Image
            Dari keriuhan para pemanggul barang, dan masih di lantai dua. Saya berjalan terus kearah Timur. Langkah saya terhenti setelah mencium bau harum dari masakan. Sepertinya, ini adalah bau harum dari bawang yang sedang di goreng. Lantai dua adalah tempat yang pas untuk mengamankan perut alias “ kampung tengah”. Di sini, terdapat los-los kecil yang menjual berbagai jenis makanan. Beberapa los yang terkenal adalah los Gado-gado Bu Hadi dan los Daging Empal bu Warno. Kedua los ini saling berhadap hadapan. Selain itu, jika ingin mencicipi gudeg, soto daging sapi dan warung Tegal di sinilah tempatnya. Saya akan mencoba kedua makanan yang menggoda lidah ini setelah menjemput teman saya selesai “ bertempur” dengan para penjual batik.

Image

Image

Image

Image

Image
               Dari lantai dua, saya naik ke lantai tiga. Lantai tiga pasar Beringharjo memiliki kondisi nya agak berbeda dari dua lantai yang saya datangi sebelum nya. Di lantai yang menjual barang antik seperti mesin tik tua, perkakas berkebun dan baju-bau bekas, Suasana nya lebih sepi dari ke dua lantai yang saya datangi sebelumnya. Bahkan sebagian los, ada yang sudah ditinggalkan oleh para pedagang. Padahal jika kita ingin bergaya dengan dana tipis dengan hasil yang tidak murahan, disini lah tempat nya. Los-los baju bekas ini dapat sebagai alternatif tempat belanja produk fashion.

Image

Image
         Setelah semua lantai saya kunjungi. Tiba-tiba telepon selular saya berdering. “ Woy, dimana? Gw lapar nih “Ternyata teman saya menelepon. Seperti nya dia sudah selesai “ bertempur” dengan para penjual batik. “Gw lagi di lantai tiga. Ntar gw ke sana. Tunggu sebentar”. Panggialan ini menyudahi perjalanan saya menelusuri pasar Beringharjo. Ternyata ada tempat yang menarik yang dapat di kunjungi saat pagi hari menyapa Yogyakarta.

Image

Image,

 

Advertisements

10 thoughts on “Menyapa Pagi di Beringharjo

  1. Nice report Bro. Saya malah belum pernah motret di Beringharjo karena klo ke sana pasti fokusnya beli batik atau beli beras, hahaha. Eh itu ibu-ibu yang buruh panggul kalau malam mereka tidurnya di emperan ruko di barat pasar lho. Kadang saya ngelihatnya gimana gitu, rata-rata udah tua gitu.

      1. Kalau makan mampir ke Swalayan Progo (kalau dah buka) banyak jajanan murah-meriah. Saya malah belum pernah jg naik ke foodcourt di lantai 3.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s