Cerita dari Museum Fatahilah

         Lukisan lelaki berkulit putih dan berkumis melintang sembari berkacak pinggang seperti  terus melirik saya. Mungkin karena kuasanya pada zaman dahulu begitu besar sehingga aura dari lukisan ini sedikit berbeda. Perkenalkan, lelaki angkuh ini bernama Jan Pieterszoon Coen. Lelaki kelahiran  Hoorn, Belanda, 8 Januari 1587 adalah seorang Gubernur Jendral  ke empat dari VOC. Dia adalah orang yang memberikan nama Batavia pada Jakarta tempo dulu. Dia meninggal dan di kuburkan  di Batavia pada umur 42 tahun.

Image

            Lukisan ini bisa di lihat pada sebuah bangunan yang terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat. Bangunan ini dahulu adalah sebuah Stadhuis/ Balai Kota yang dibangun pada pemerintahan Gubernur Jendral Johan van Hoorn dan diselesaikan pada pemerintahan Gubernur Jendral Abraham van Riebeeck. Bangunan ini di rancang oleh seorang arsitek dari Belanda yang bernama J.F.Kemmer, pada awal nya bangunan ini didirikan satu lantai namun seiring berjalan nya waktu, bangunan di tambah menjadi dua lantai. Lantai satu bangunan terdiri dari beberapa ruangan, yakni ruangan  keperluan administrasi, ruang pertemuan dan ruang tidur. Di lantai dua terdapat ruang sidang Dewan Keadilan Tertinggi Hindia-Belanda. Dalam bahasa Belanda disebut Raad van Indie. Sekarang, bangunan dengan gaya arsitektur neoklasik ini di kenal dengan sebutan museum Fatahilah. Museum yang berisikan sejarah mengenai Jakarta.

Image

            “Sandal nya diganti Pak, silahkan menggunakan sandal khusus ini. Kebetulan, museum sedang di renovasi“  ucapan ini  keluar dari mulut  penjaga museum setelah saya membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000. Dari pintu masuk museum yang berukuran besar dan berwarna merah, saya menuju kamar yang terletak di bagian kiri. Di ruangan berlantaikan batu berwarna abu abu kehitaman ini terdapat sebuah lukisan yang berukuran besar. Lebar lukisan kurang lebih 10 meter dengan tinggi 3 meter. Lukisan ini di buat oleh Sudjono. Terdapat tiga lukisan yang menceritakan penyerbuan Mataram ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629.  Bagian kiri  lukisan menceritakan mengenai Sultan Agung Hanyokrokusumo sedang mempersiapkan rapat untuk menyerang Batavia. Bagian tengah menceritakan mengenai peperangan antara pasukan Mataram dan Belanda pada sebuah lapangan besar, latar belakang dari pertempuran adalah gedung Stadhuis. Bagian kanan dari lukisan adalah kisah bupati Tegal dan J.P Coen  yang sedang berdialog..

Image

            Dari ruangan berlantai batu, saya pindah ke ruangan berlantai kayu. Terdapat empat kamar yang letak nya berdampingan dan dihubungkan dengan pintu-pintu yang berukuran besar. Masing-masing ruangan memiliki ragam koleksi yang menarik. Saya mulai dari ruangan pertama, di ruangan ini terdapat manekin dari pangeran yang bernama Pangeran Wijayakrama Jayakarta. Seorang adipati yang memerintah Jayakarta sebelum kota ini di hancurkan oleh J.P Coen.  Beliau juga di kenal dengan nama pangeran Ketengahan, julukan ini di dapat setelah dia berhasil mendamaikan perang saudara yang terjadi di Kerajaan Banten, selain manekin terdapat juga baju dari tentara Portugis yang berasal dari abad ke 16.

Image

            Di ruang kedua, terdapat sebuah papan berukuran besar yang terbuat dari kayu jati. Papan ini bertuliskan peringatan pembangunan dari Stadhuis/ Balai Kota pada tahun 1707-1710, ada cerita unik dari papan. Papan ini sempat hilang pada saat perang kemerdekaan, namun dapat ditemukan kembali oleh pihak Belanda di Jalan Kunir,saat ditemukan papan ini di gunakan sebagai papan cucian.

Image

            Tidak jauh dari papan peringatan terdapat sebuah surat perjanjian. Surat ini menceritakan mengenai Perjanjian Sunda Kelapa. Perjanjian Sunda Kelapa adalah perjanjian persahabatan antara Kerajaan Sunda dengan Portugis yang di tandangani pada tahun 1522. Yang menarik dari perjanjian ini adalah perjanjian ini di buat dan di tandatangani di atas batu. Detail yang menarik dari perjanjian ini adalah terdapat pahatan rangka bola dunia dengan tulisan D.S Por. yang merupakan singkatan dari Do Senhario de Portugese yang arti nya Penguasa Portugal.

Image

            Ruangan ke tiga adalah ruangan yang menceritakan sejarah kerajaan Sunda, sejarah kerajaan ditulis pada prasasti yang dikenal dengan nama prasati Batu Tulis. Prasasti ini menceritakan mengenai seorang raja yang bernama Surawisesa yang berkuasa di Sunda. Dia yang mengadakan perjanjan kerja sama dengan pihak Portugis.

Image

            Ruangan ke empat berisikan koleksi pahat dan paku kapal yang di gunakan pada zaman Belanda. Selain itu, terdapat koleksi kristal kaca yang dahulu nya adalah tudung lampu lilin yang digunakan pada gedung.

Image

            Dari ke empat ruangan, mari ikut saya ke lantai dua. Di sini koleksinya tidak kalah dengan koleksi yang ada di lantai pertama. Dahulu, Lantai dua dari bangunan  digunakan sebagai ruang sidang Dewan Tertinggi Hindia Belanda. Sama seperti lantai dasar, di lantai dua  terdapat kamar-kamar dengan ukuran yang besar.  Koleksi di lantai dua terdiri dari mebel-mebel yang digunakan oleh pejabat Belanda di Batavia. Mebel-mebel ini, ada yang berasal dari Bangladesh dan ada yang berasal dari Jepara. Salah satu koleksi mebel yang paling menarik adalah  lemari buku besar / schepenkast. Lemari ini selesai dibuat pada tahun 1748, alasan pembuatan lemari buku karena Dewan Hakim membutuhkan tempat untuk meletakkan arsip dan dokumen. Detail pada lemari buku  sangat indah. Kayu dari lemari di sepuh emas. Pada bagian atas kiri atas lemari terdapat patung Dewi Keadilan, dan bagian kanan atas lemari terdapat patung dewi Kebenaran. Di antara kedua patung  terdapat detail empat belas lambang keluarga Dewan Pengadilan.

Image

 

Image

            Dari kamar lemari buku, saya pindah ke kamar yang terletak di bagian depan. Di sini terdapat  koleksi yang menarik. Koleksi ini terletak di atas pintu yang menghadap langsung ke jendela. Nama koleksi ini lukisan tiga pengadilan. Lukisan karya dari J.J de Nijs yang dibuat di atas media kayu jati menceritakan mengenai tiga keputusan pengadilan yang sangat adil. Lukisan bagian kiri menceritakan putusan raja Persia Cambyses yang menguliti hakim pengadilan karena tidak jujur. Lukisan bagian tengah menceritakan keputusan adil raja Salomon saat kedua orang ibu memperebutkan hak asuh kepada seorang anak. Dan lukisan bagian kanan menceritakan Raja Zaleukos dari Yunani yang siap mengorbankan mata nya untuk menyelamatkan anak nya. Detail-detail dari lukisan sangat indah.

Image

            Dari lantai dua, saya turun dan menuju bagian belakang museum. Di sini terdapat patung Hermes. Hermes adalah dewa perdagangan dan pelindung pejalan kaki pada mitologi Yunani. Dahulu, patung ini di letakkan pada jembatan di depan halte Trans Jakarta Harmoni, namun pada tahun 1999 patung ini di rusak sehingga harus dipindahkan ke Museum.

Image

            Disini perjalanan saya berakhir, namun hujan yang menyapa kawasan kota Tua ini memaksa saya berteduh sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.

Image

 

 

Image

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Cerita dari Museum Fatahilah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s