Cerita Bangsa dari Utara Jakarta

“ Maaf pak, tas nya tolong di titipkan” penjaga bangunan menyuruh saya untuk menitipkan tas di rak. “ Prosedur resmi pak” ujar nya. Saya melewati tanda larangan memutar pintu saat masuk ke bagian dalam bangunai. Seorang petugas yang berjaga di depan meja yang berbentuk setengah lingkaran memberikan tiket. “Ini pak” ujar nya. “Berapa mbak?”. “ Gratis pak, tidak perlu bayar” ujar nya. Dari meja tiket saya masuk ke dalam bangunan. Sepi sekali suasana nya.

Image

Bangunan dua lantai berukuran besar yang saya masuki ini adalah bekas Binnenhospital atau rumah sakit yang berada di dalam tembok kota Batavia. Seiring perjalanan waktu. Bangunan ini menjadi kantor sebuah bank yang menjadi cikal bakal Bank Indonesia.

Image

De Javasche Bank adalah nama bank ini pada zaman Belanda, didirikan 24 Januari 1828. Gagasan pembentukan bank dicetuskan menjelang keberangkatan Komisaris Jenderal Hindia Belanda Mr. C.T. Elout ke Hindia Belanda. Alasan pendirian bank karena kondisi keuangan Hindia Belanda dianggap telah memerlukan penertiban dan pengaturan sistem pembayaran, pada saat yang sama kalangan pengusaha di Batavia mendesak didirikannya lembaga bank untuk kepentingan bisnis mereka. Gagasan ini baru diwujudkan ketika Raja Willem I menerbitkan Surat Kuasa kepada Komisaris Jenderal Hindia Belanda. Surat ini memberikan wewenang kepada pemerintah Hindia Belanda untuk membentuk suatu bank berdasarkan wewenang khusus berjangka waktu, atau disebut oktroi. Dengan surat kuasa ini, pemerintah Hindia Belanda mulai mempersiapkan berdirinya De Javasche Bank. Kegiatan bank berhubungan dengan perdagangan hasil bumi dari berbagai penjuru Hindia Belanda. Seiring dengan perkembangan waktu De Javasche Bank memiliki 16 kantor cabang. Kantor cabang tersebut antara lain: Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Malang, Kediri, Kutaraja, Medan, Padang, Palembang, Banjarmasin, Pontianak, Makassar, dan Manado, serta kantor perwakilan di Amsterdam, dan New York.

Image

Setelah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, Dewan Menteri Republik Indonesia yang dipimpin oleh Presiden Soekarno telah mengambil keputusan untuk mendirikan sebuah Bank Negara Indonesia. Pada tanggal 5 Juli 1946 Pemerintah menetapkan dan membentuk Bank Negara Indonesia sebagai bank sirkulasi dan bank sentral milik Negara. Namun pada prakteknya, fungsi sirkulasi pada Bank Negara Indonesia tidak berjalan bahkan banyak bergerak ke perkreditan nasional dan bertindak sebagai bank umum.

Image

Berdasarkan keputusan Konverensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, yang ditugasi sebagai bank sentral adalah De Javasche Bank sedangkan Bank Negara Indonesia ditetapkan sebagai bank pembangunan. Alasan penugasan Bank Sentral kepada De Javasche Bank adalah karena utang Pemerintah Indonesia yang mencapai 4.418 juta Gulden.

Image

Dari rasa tidak puas akan hasil KMB timbullah gagasan untuk menasionalisasi dan membuat undang-undang tentang bank sentral. Pada tanggal 2 Juli 1951 dibentuklah Panitia Nasionalisasi De Javasche Bank, tugasnya adalah mengajukan usul-usul mengenai nasionalisasi, mengajukan rancangan UU nasionalisasi, dan merancang UU baru tentang Bank sentral. Ujung dari perjuangan ini pada tanggal 1 Juli 1953 berdirilah Bank Indonesia.

Image

Sekarang, bangunan kantor pusat De Javache Bank di jadikan sebagai museum sejarah Bank Indonesia pada tahun 2006. Dari pintu masuk, saya berada di koridor utama. Koridor ini menceritakan awal mula kedatangan bangsa asing ke Indonesia. Di sini, saya bisa mencium bau khas dari kayu manis dan merica. Kedua hasil bumi ini adalah salah satu pelatuk datang nya bangsa asing ke Indonesia. Selain itu di koridor ini menjelaskan mengenai orde Reformasi. Terdapat televisi-televisi yang memutar cuplikan demonstrasi besar besaran pada tahun 1998, terlihat berbagai macam grafis yang di buat mencekam. Suara tembakan dan cahaya redup dari lampu-lampu di sini membuat saya merinding.

Image

Dari koridor utama, saya berada di sebuah ruangan. Mereka menyebut ruangan ini sebagai ruangan Sang Pemimpin. Ruang ini dulunya ruang kerja dari pemimpin De Javasche Bank. Mr Sjafruddin Prawiranegara adalah orang Indonesia yang pertama kali berkantor di ruangan ini setelah De Javasche Bank di nasionalisasi oleh pemerintah Indonesia. Perabotan di ruangan ini masih asli. Saya masih bisa melihat kursi kayu yang di cap dengan lambang De Javasche Bank. Saya langsung berimajinasi bagaimana rasa nya menjadi Mr Sjafruddin saat berkantor disini.

Image

Begitu keluar dari ruangan sang Pemimpin, ada sebuah objek yang sangat menarik. Objek ini adalah sebuah kaca patri yang terletak berhadapan dengan pintu keluar ruangan Sang Pemimpin. Kenapa kaca patri ini sangat menarik? Bayangkan saja, terdapat detail Dewa Hermes pada bagian puncak dari kaca patri ini. Hermes adalah dewa pelindung bagi perdagangan dalam mitologi Yunani. Di bawah Hermes terdapat sebuah tulisan yang berbunyi De Javasce Bank Opgericht Anno 1828. Makna tulisan adalah Gedung De Javasche Bank berdiri pada tahun 1828. Pada bagian bawah dari tulisan ini, terdapat lambang tiga kota di mana kantor cabang pertama bank berdiri. Ketiga daerah tersebut adalah Surabaya,Batavia dan Semarang.

Image

Detail kaca patri ini hanya permulaan dari detail menarik yang lain. Tidak jauh dari kaca patri Hermes, terdapat sebuah ruangan yang pada zaman dahulu di gunakan oleh dewan Direksi untuk rapat. Disini mata saya langsung di alihkan oleh detail detail yang sangat menarik dari dinding ruangan. Dinding ruangan ditutupi oleh keramik berwarna hijau. Hijau keramik seperti hijau batu giok. Akhir masa De Javasche Bank, ruangan ini menjadi Afdeling Centrale Administratie atau pusat adminstrasi. Di ruangan ini terdapat mesin tik tua, jam tua yang merupakan hadiah dari Nederlandsche bank, dan kursi serta meja antik dari zaman Belanda. Eits, tunggu dulu, jangan terburu-buru meninggalkan ruangan. Coba lah melihat ke bagian atas jendela ruangan. Disini, saya melihat kaca patri dengan detail yang sangat menarik. Ada kisah pada masing- masing kaca patri yang berada di ruangan ini. Kisah ini adalah gambar produk-produk ekonomi yang menjadi andalan Hindia Belanda pada saat itu. Produk-produk tersebut adalah lada,cengkeh,garam,karet,minyak tanah,tembakau,timah,kopra,minyak sawit,kina, nila, pisang dan kopi.

Image

Dari ruang Dewan Redaksi, saya tiba di sebuah lemari besi yang berukuran besar. Lemari besi yang kokoh ini, menyimpan replika dari emas batangan yang menjadi aset Bank Indonesia. Konon kabarnya, pada saat pendudukan Jepang emas-emas Indonesia di selamatkan dari penjarahan Jepang. Emas-emas ini di bawa ke Australia dan Afrika Selatan. Bagaimana cara membawa nya? hanya mereka yang tahu.

Image

Ujung perjalanan adalah sebuah ruangan yang disebut ruang numerasi. Di sini, saya bisa melihat berbagai macam mata uang yang dahulu di gunakan di Republik ini. Beberapa mata uang yang menurut saya unik bisa di lihat di sini. Beberapa uang tersebut adalah, Uang Gunting Sjahrir. Uang gunting adalah kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Syafruddin Prawiranegara, Menteri Keuangan, kebijakan ini, “uang merah” atau uang NICA dan uang De Javasche Bank dari pecahan Rp 5 ke atas digunting menjadi dua. Guntingan kiri tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai setengah dari nilai semula sampai tanggal 9 Agustus pukul 18.00. Mulai 22 Maret sampai 16 April, bagian kiri itu harus ditukarkan dengan uang kertas baru di bank dan tempat-tempat yang telah ditunjuk. Lebih dari tanggal tersebut, maka bagian kiri itu tidak berlaku lagi. Guntingan kanan dinyatakan tidak berlaku, tetapi dapat ditukar dengan obligasi negara sebesar setengah dari nilai semula, dan akan dibayar empat puluh tahun kemudian dengan bunga 3% setahun. Kebijakan ini di lakukan karena pada saat itu negara mengalami depresi ekonomi. Selain Gunting Sjahrir, terdapat uang Rupiah Kepulauan Riau. Pada tahun 1960, mata uang rupiah nyaris tidak berlaku sebagai alat tukar yang sah di daerah kewedanaan Tanjungpinang, Lingga, Karimun dan Pulau Tujuh. Hal ini karena perdagangan daerah ini menggunakan dollar Malaya. Akibatnya, pemerintah pusat mengeluarkan peraturan khusus penggunaan mata uang rupiah sebagai alat pembayaran yang sah di Kepulauan Riau. Dampak pemberlakuan Rupiah Kepulauan Riau ini, perdagangan di daerah yang kepulauan Riau menjadi mati suri.

Image

Dari ruangan numerasi yang bercahaya redup. Saya menuju pintu keluar. Sebelum keluar, museum ini memberikan salam perpisahan kepada saya berupa kaca patri yang berada diatas pintu keluar. Kaca patri yang di buat oleh arsitek Jan Schouten di Delft, Belanda, pada tahun 1922 menceritakan berbagai macam kegiatan yang popular pada zaman itu di Batavia. Menari, fotografi,perfileman,pembuatan patung,drama dan pembuatan gerabah adalah kegiatan. Panas dan kesemrawutan Kota Tua menyambut saya saat keluar dari bangunan yang menceritakan perjalanan Bank Indonesia ini.

Image

Image

Image

Image

Advertisements

8 thoughts on “Cerita Bangsa dari Utara Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s