Mengintip perayaan hari suci Waisak

    Kabut pagi menyapa kota Magelang, kota ini masih tertidur lelap saat saya datang. Pintu-pintu ruko berwarna warni yang berada di Jalan Pemuda masih tertutup rapat, namun tidak jauh dari ruko-ruko ini sebuah klenteng mulai ramai di kunjungi  pengunjung. Ada yang unik dari  pengunjung ini, mereka berkepala botak dan menggunakan kain panjang sebagai penutup tubuh. Kain yang mereka gunakan ada yang berwarna kuning kunyit dan ada yang berwarna merah. Pada mulut pengunjung ini terdengar rapalan doa selama mereka duduk menunggu kedatangan teman mereka di klenteng. Siapakah mereka?  Mereka adalah Banthe dan Bikhu yang datang untuk melaksanakan salah satu rangkaian ritual di dalam memperingati Waisak. Di pagi yang dingin ini, mereka mengadakan upacara yang dikenal  dengan nama  Pindapata.

Image

            Pindapata adalah menerima makanan dari umat berupa buah buahan untuk menyambung hidup para bikhu dan banthe, Kegiatan ini biasa nya di lakukan bikhu dan banthe di pagi hari, sebelum mereka memulai aktivitas. Pindapata merupakan  rangkaian dari kegiatan upacara Waisak. Sebelum pindapata, sehari sebelum nya sudah berlangsung upacara penerimaan air berkah dan api suci di candi Mendut. Upacara penerimaan ini merupakan awal dari rangkaian upacara Waisak. Api suci yang berasal dari  Grobogan dan air berkah yang di ambil dari Umbul Juprit Temanggung di bawa di candi Mendut.  Kedua benda suci ini adalah wujud dari puja bakti kepada Budha. Air melambangkan kesucian, ketenangan sedangkan api melambangkan keperkasaan.  Di candi mendut, api dan air suci akan di semayamkan selama satu hari sebelum esoknya dibawa menuju candi Borobudur.

Image

            Dari klenteng Tridharma yang berada di Jalan Pemuda, bikhu dan banthe keluar menuju kawasan pertokoan yang ada di sekitar klenteng. Umat Budha  yang dari pagi sudah menunggu kedatangan bikhu dan banthe ini sudah bersiap di kiri kanan jalan. Saat banthe dan bikhu berjalan mendatangi umat, mereka akan memasukkan sumbangan berupa makanan dan uang ke dalam mangkuk yang sudah dipegang oleh Banthe dan Bikhu. Jalan Pemuda yang tadi nya sepi, menjadi penuh dengan antrian manusia. Ada yang ingin melihat dan ada yang terlibat di dalam Pindapata.

Image

            Candi Mendut adalah tempat selanjutnya dari upacara hari Suci waisak. Dari candi ini api suci dan air berkah akan bawa menuju candi Borobudur. Banthe, Bikhu  dan umat akan berjalan kaki sejauh kurang lebih 5 km. Panas terik sinar matahari tidak mengurangi semangat para umat untuk mengikuti arak arakan ini.  Dalam perjalanan menuju candi Borobudur, Banthe Wongsin Nobiko Theravada yang memimpin arak-arakan tidak berhenti memercikkan air berkat kepada umat yang menunggu di kiri kanan jalan. Kamera saya terkena percikan air ini, “Kamera ini sudah di berkati air berkah” pikir saya. Rombongan ini tiba di candi Borobudur sore hari nya. Tujuan mereka adalah altar yang berada di depan candi Borobudur. Air berkah dan api suci disemayamkan di atas altar.

Image

            Hujan deras menyapa candi Borobudur pada malam hari nya. Pengunjung candi  berlarian mencari tempat berteduh. Umat Budha yang datang memilih menunggu sembari beribadah di tenda-tenda yang sudah di siapkan oleh panitia. Untuk tahun ini puncak acara Waisak akan jatuh pada pukul dua dini hari. Di sisi lain, teras-teras dari bangunan  di sekitar candi Borobudur penuh dengan para pengunjung selain umat Budha, mereka menunggu puncak acara Waisak sembari berteduh. Saat  tengah malam, pintu tengah yang menghubungkan antara candi Borobudur dan tenda umat penuh dengan antrian para pengunjung yang ingin masuk ke pelataran candi. Penjagaan Waisak kali ini ketat, hanya orang-orang yang memiliki tanda pengenal yang sebelumnya sudah di urus di Candi Mendut yang diizinkan masuk ke pelataran Candi Borobudur. Saya rasa hal ini wajar,  karena tahun 2013 kemarin perayaan waisak penuh dengan kritik. Kritik ini di tujukan kepada para pengunjung yang datang ke Borobudur saat pelaksanaan Waisak.

Image

             “Oknum-oknum”  pengunjung ini tidak menghargai Banthe, Bikhu dan umat Budha yang ingin melakukan ibadah di candi ini. Mereka berbuat sesuka hati,seperti memotret bikhu dari jarak sangat dekat saat beribadah, berteriak saat umat budha sedang berdoa. Akibatnya, pada tahun ini pihak pengelola Candi Borobudur dan Walubi memperlakukan syarat yang ketat untuk bisa masuk ke pelataran candi. Apa yang kamu tuai itu yang kamu dapat.

Image

            Suasana di pelataran candi Borobudur malam ini berbeda, entah kenapa saya menjadi merinding. Merinding ini bukan karena takut, saya merinding karena mendengar doa-doa puja puji kepada Budha yang di bacakan oleh para banthe dan bikhu. Bulan purnama bersinar dengan terang nya di atas candi Borobudur. Pada pukul dua dini hari, banthe Wongsin Nobiko Theravada memulai doa Waisak.  Tiba-tiba alam berubah, kabut tebal mulai menyelimuti pelataran candi. Hawa dingin pelan-pelan masuk ke tubuh. Tidak lama kemudian, banthe Wongsin menghentikan puja Budha. Banthe dan bikhu turun dari pelataran dan berjalan ke arah candi Borobudur.  Bersama Umat melakukan Pradaksina. Pradaksina adalah gerakan memutar candi sebanyak tiga kali.

Image

            Selama pradaksina umat Budha merapalkan doa keselamatan. Kemudian,  Dimulailah acara yang paling di tunggu oleh para pengunjung candi. Acara ini merupakan acara pelepasan lampion. Menurut panitia Waisak, kurang lebih seribu lampion akan dilepaskan di candi Borobudur. Makna pelepasan lampion adalah agar doa yang di panjatkan bisa sampai. Suasana di pelataran candi mulai heboh. Ada yang antri di tenda panitia untuk mendapatkan lampion, ada yang mencari posisi yang enak untuk menerbangkan lampion, dan ada yang sibuk menuliskan harapan nya diatas kertas lampion. Masing-masing lampion ini akan di bakar  oleh para  pengunjung, mengenai harapan yang mereka sampaikan hanya mereka yang tau.  

Image

            Kabut yang tadi nya tipis menjadi semakin tebal saat pagi menyapa pelataran candi. Pelan-pelan para pengunjung dan umat Budha yang tadi memenuhi pelataran candi turun dan keluar dari candi Borobudur. Patung Budha berukuran besar yang terletak  di depan pelataran candi tersenyum kepada saya. Patung ini seolah olah berterimakasih  perayaan Waisak tahun ini  tertib dan terkendali.

Image

 

Image

 

Image

 

Image

 

Image

 

Image

 

Image

 

Image

 

Image

 

ImagePer

Advertisements

12 thoughts on “Mengintip perayaan hari suci Waisak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s