Bertemu dengan Leluhur di Museum Sangiran

“ Yakin lu  lewat sini ?”  ujar teman saya. “ Lah buset, dia nanya. Gue aja masih meraba raba posisi nya di mana. Petunjuk arah pada GPS di telepon genggam ini tiba-tiba mati”  ujar saya.  “Tanya dong”, ujar nya. “Oke, Gue coba nanya ama warga deh”.  Perjalanan berhenti sebentar, saya turun untuk  bertanya  dimanakah jalan yang benar. Namun, setelah bertanya dengan warga, kami  tetap berputar putar untuk mencari jalan yang benar. Perjalanan galau ini berubah setelah papan petunjuk tujuan yang di pasang oleh Pemda setempat  secara tidak sengaja terlihat. Tidak lama kemudian. Yeay, kami sudah  tiba di gerbang yang berbentuk seperti  gading gajah. Diatas replika gading ini terdapat tulisan “ Museum Manusia Purba Sangiran”. Setelah membayar uang masuk sebesar Rp 10.000,-  di loket masuk. Kami  berada di dalam museum.

Image

            Museum purba Sangiran adalah tempat dimana koleksi manusia purba dan berbagai macam benda arkeolog berupa fosil yang ada di Indonesia di simpan. Museum ini berada di dalam wilayah administrasi Kecamatan Kalijambe. Kabupaten Sragen Jawa Tengah. Museum ini terletak di atas situs purbakala Sangiran yang  sudah di tetapkan UNESCO sebagai cagar budaya.

            Saat turun dari mobil, pikiran saya seolah olah kembali ke abad 19. Saat dimana seorang ahli paleontologi bernama Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald yang bekerja untuk Dienst van Mijnbouw van Nederlands Indië (Dinas Pertambangan Hindia Belanda)  menggali tanah di Sangiran, Dia menggali tanah setelah mendapatkan laporan mengenai ada nya berbagai macam penemuan berbentuk tulang-tulang raksasa oleh masyarakat. Pada tahun 1934, dia menemukan temuan yang penting untuk ilmu Arkeologi. Penemuan ini adalah penemuan tengkorak manusia purba. Von Koningswald menyebutnya sebagai tengkorak “Sangiran II”, alasan penamaan ini kemungkinan karena jauh sebelum Von Koningswald menemukan tengkorak, pada tahun 1891 seorang ahli anatomi dari Belanda yang bernama Marie Eugène François Thomas Dubois sudah terlebih dahulu menggali tempat ini, namun Dubois tidak melakukan penggalian secara intensif di Sangiran. Dia mengalihkan penggalian ke Trinil. Jawa Timur. Pada saat penggalian di Trinil,  Dubois menemukan  tengkorak yang berukuran besar. Dia memberikan nama Pithecanthropus erectus untuk jenis tengkorak yang ditemukan ini. Pithecanthropus erectus memiliki arti manusia kera yang berdiri tegak.  Koeningswald menemukan jenis tengkorak yang sama dengan yang di temukan oleh Dubois.

Image

             Temuan penting lainnya oleh Dubois di Sangiran setelah tengkorak Pithecantropus  adalah fosil tengkorak dan rahang bawah dari Meganthropus. Koenigswald menyebutnya dengan nama Meganthropus palaeojavanicus karena memiliki ciri-ciri yang berbeda dari Pithecanthropus erectus. Di dalam proses penggalian dari tahun 1934 sampai dengan 1941 Koenigswald mengumpulkan setidaknya 60 fosil manusia purba.  Penemuan kedua ahli ini pada zaman nya dijadikan  rujukan untuk mendukung teori Darwin  mengenai Evolusi manusia

Image

            Museum ini memiliki 3 segmen, masing masing segmen memiliki koleksi yang berbeda. Dari pintu masuk, kami berjalan ke arah kiri dan bertemu dengan pintu besar, pintu besar ini akan menghubungkan koridor museum dengan bagian segmen pertama. Baru saja akan membuka pintu menuju segmen pertama dari museum. Tiba-tiba saja terdengar teriakan “ Saya duluan mas. Sayaaa duluan” seorang anak kecil berumur kurang lebih tujuh tahun berlari dan membuka pintu, setelah itu serombongan teman-temannya mengikuti. Ternyata kedatangan saya dan teman bersamaan dengan kedatangan anak- anak Sekolah Dasar melakukan studi banding ke museum. Saya dan teman saling lirik dan nyengir. “Ramai nih”.

Image

            Segmen pertama menjelaskan koleksi mengenai hewan-hewan   yang pernah di temukan di Sangiran, yang saya lihat pertama adalah koleksi dari makhluk laut berupa moluska/ kerang kerangan. Dari keterangan yang ada, diperkirakan bahwa  sekitar dua juta tahun yang lalu Sangiran adalah laut. Namun, karena proses geologi dan akibat  letusan dari beberapa gunung berapi seperti Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu.  Sangiran berubah menjadi daratan.  Dari koleksi moluska, saya berjalan kearah kiri. Bagian ini tidak kalah menarik dari pada bagian moluska. Di sini terdapat fosil dari kepala buaya yang diletakkan di dalam kotak kaca. Saat melihat fosil kepala buaya ini,  teman yang ikut bersama saya menyeletuk  “Gile, Sungai Bengawan Solo pada zaman dahulu ada buaya juga. Seperti di Sumatera saja”. Fosil kepala buaya bentuk nya lengkap. Susunan gigi, dan tekstur muka buaya dapat terlihat dengan mudah.  Kembali teman saya menyeletuk “ Mungkin, buaya ini lagi sial ya. Lagi asik -asik nya berjemur tiba-tiba gunung meletus. Lalu dia mati dan membatu, untuk menunjukkan ke kita eksistensi nya di pulau Jawa”. Entahlah.

Image

            Dari fosil buaya, kami kembali bergeser ke arah kiri. Disini, terdapat fosil gading gajah dan kepala kerbau purba. Kedua fosil ini berukuran besar, kurang lebih berukuran 3 kali ukuran normal dari gajah dan kerbau sekarang. Sama seperti fosil kepala. Kedua fosil ini memiliki bentuk yang utuh.

Image

            Kami berdua melanjutkan penjelajahan museum purba ini. Kami tiba di segmen dua dari museum. Di sini terdapat peralatan-peralatan batu yang di gunakan oleh manusia purba ada zaman dahulu. Mata panah, kapak, pisau batu adalah beberapa alat batu yang ada di sini. Selain koleksi peralatan bertahan hidup, di segmen dua museum saya bisa melihat koleksi dari tengkorak-tengkorak manusia purba yang ditemukan di sini dan juga di temukan luar daerah Sangiran seperti Trinil, China, dan Afrika. Kebetulan saat kami sedang melihat koleksi tengkorak-tengkorak, ada petugas museum yang sedang berdiri di dekat etalase. Saya bertanya    “Apakah ini koleksi asli ?”  penjaga museum menjawab “ Ini adalah replika mas. Tapi untuk masalah detail nya saya tidak terlalu tau“. Tengkorak Pithecanthropus erectus dan Meganthropus palaeojavanicus adalah beberapa jenis tengkorak yang bisa kita lihat.

Image

            Dari segmen dua museum, kami tiba di segmen tiga. Bagian ini adalah bagian terbesar dari museum Sangiran.  Di sini kami bisa melihat berbagai macam grafik-grafik yang perjalanan dari perkembangan ilmu antropologi di Indonesia dan juga perjalanan kehidupan  zaman purba di Indonesia. Menurut saya, bagian yang paling menarik di museum Sangiran adalah di bagian ini. Di sini terdapat manusia purba yang sempat menjadi kontrofersi pada saat penemuan nya. Manusia purba ini dikenal dengan sebutan Homo Florensies yang  ditemukan di Luang Bua. Flores. Manusia purba ini memiliki ukuran tubuh yang mini/ kerdil.  Saat penemuan specimen dari manusia purba ini terjadi sebuah kontroversi. Beberapa ahli menganggap bahwa spesimen ini berasal dari spesies bukan manusia. Namun setelah publikasi pada tahun 2009, terdapat  argumen bahwa spesimen ini  lebih primitif daripada Homo sapiens/ manusia sekarang dan berada pada wilayah variasi Homo erectus. Hasil kajian tersebut  menunjukkan bahwa Homo floresiensis tidak dapat dipisahkan dari Homo erectus dan berbeda dari Homo sapiens. Di dalam museum ini, Homo florensis ini dibuat tiruan dengan kondisi yang sama seperti pada saat mereka hidup dahulu.  Image

            Segmen tiga adalah bagian akhir dari museum. Dari sini, kami keluar menuju parkiran kendaraan bermotor. Teriakan anak-anak sekolah dasar yang berteriak kegirangan menjadi latar belakang saat pintu keluar kami buka. Dari pintu keluar, kami menuju toko-toko yang menjual cendera mata. “ Mas, ini fosil kentang. Silahkan mas, harga teman “. “ Mas, coba liat. Ini fosil kerang. Asli”, “Mas, ini fosil kayu. Silahkan di tawar mas”. Saya dan teman saling lirik saat fosil-fosil ini dijual. Dalam hati saya berkata “Sampai kapan cagar UNESCO ini bertahan?”

Image

 

Image

           

Advertisements

6 thoughts on “Bertemu dengan Leluhur di Museum Sangiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s