Raksasa batu di tengah keriuhan ibukota

      “Wooyy.  Buruaan. “ setelah teriakan kencang keluar dari mulut pak supir. Suara klakson pun sahut menyahut. “Tiiinn. Tiinn”. Namun,  kemacetan di depan belum juga terurai. “Di sambung dengan jalan kaki ni.” Pikir saya. “ Bang. Guwe turun.” Perjalanan  dilanjutkan dengan berjalan kaki. Dari tempat saya turun, puncak bangunan yang saya tuju sudah terlihat.  Sekitar kurang lebih lima menit berajalan. Tibalah saya di sebuah bangunan yang termasuk salah satu bangunan tertua yang masih difungsikan sesuai keberadaannya di Jakarta.       

Image   

        Bangunan ini disebut Portugeesche Buitenkerk yang arti nya Gereja Portugis yang berada di luar.  Gereja ini terletak di sudut perempatan antara Pangeran Jayakarta dan Mangga Dua. Setelah Indonesia merdeka, Gereja ini bernama Gereja Portugis. Dari gereja Portugis, gereja berubah nama menjadi Sion setelah persidangan Sinode GPIB pada tahun 1957.

 

Image

            Gereja Sion selesai di bangun pada tahun 1695. Peresmian  gereja dilakukan pada hari Minggu, 23 Oktober 1695 dengan pemberkatan oleh Pendeta Theodorus Zas. Pembangunan fisik gereja memakan waktu sekitar dua tahun. Peletakan batu pertama dilakukan Johannes Pieter van Hoorn pada 19 Oktober 1693. Johannes Petrus van Hoorn saat itu dikenal sebagai Kerkmeester atau Pimpinan Jemaat suatu Gereja. Selain itu, Ia juga dikenal sebagai Johan van Hoorn atau Joan Pieter van Hoorn dalam dunia politik Kerajaan Hindia Belanda saat itu. Dia adalah Gouverneur Generaal van Nederlands – Indie untuk masa jabatan tahun 1704–1709.

Image

            Dari pintu masuk, saya menuju ke halaman Gereja. Di depan saya, pintu gereja yang berukuran besar yang terbuat dari kayu sedikit terbuka. Saat melihat detail salib yang berada di atas pintu. Sebuah suara menyapa. “Masuk saja. Gereja ini memang di buka untuk umum, tapi sebelum nya jangan lupa mengisi sumbangan seiklhlas nya ya“ 

Image

            Gereja Sion dibangun di atas lahan seluas 6.725 meter persegi dengan luas bangunan 32 X 24 meter persegi berdasarkan rancangan E. Ewout Verhagen dari Rotterdam. Didirikan di atas tiang pancang kayu besi sebanyak 10.000 batang. Dengan banyak nya tiang pancang, bangunan ini berdiri dengan kokoh. Hal ini terbukti pada saat terjadinya gempa besar akibat letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 Gereja Sion selamat tanpa ada keretakan sedikitpun. Sekarang, halaman gereja bertiang enam ini menyusut setelah tergusur pelebaran Jalan Pangeran Jayakarta dan Mangga Dua, masing-masing lima meter.

Image

             Gereja Sion adalah saksi sejarah panjang kaum Mardjiker. De Mardijkers atau Portugis Hitam adalah sebutan untuk keturunan budak yang berasal dari berbagai bangsa yang di jajah Portugis. Budak-budak ini bisa berbahasa Portugis dan beragama katolik, mereka berasal dari Bengal, Malabar, Koromandel, dan Srilanka. Koloni Portugis di India.

Image

             Budak-budak ini di bawa ke Batavia oleh Belanda setelah Malaka jatuh ke tangan mereka. Saat itu Malaka di tangan Portugis. Budak-budak ini menetap di Batavia dengan status tahanan perang. Pada tahun 1661 pada masa Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker. Atas persetujuan gereja Protestan Batavia dengan VOC, mereka dibebaskan. Namun dengan syarat mereka harus melepaskan agama Katolik dan berpindah menjadi Protestan. Setelah mereka pindah keyakinan. Dibangunlah Gereja Sion, ketika mulai digunakan. gereja dalam kota rusak, terbakar. Komunitas VOC, para petinggi dan keluarganya pindah beribadah ke Gereja Sion. Lama kelamaan, gereja ini menjadi etalase kemewahan kaum elit Batavia. Kaum mardijker pun terusir dari sana. Mereka pindah ke lokasi yang saat ini disebut Kampoeng Toegoe di Kelurahan Tugu, Kecamatan Koja, dan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara.

Image

            Setelah menyerahkan sumbangan seikhlasnya. Saya di datangi oleh pemilik suara yang menyapa saya tadi. Beliau bernama Pak Tampu, dia adalah seorang penjaga yang di tugasi oleh dinas Pariwisata Jakarta. “Ayo mas, saya temani melihat lihat” Ujar nya.  Saya dibawa terlebih dahulu ke arah mimbar. Mimbar di gereja Sion dapat dikatakan lain daripada yang lain.  Mimbar  ini terbuat dari kayu dan bergaya Barok. Mimbar ini adalah karya dari  H. Bruyn. Di atas mimbar, terpasang kanopi dari Gereja Kubah yang berasal dari dalam kota Batavia yang dibongkar oleh Gubernur Jenderal Belanda Daendels pada tahun 1808. Berdasarkan cerita penjaga gereja, biaya pembuatan mimbar bersegi delapan dengan paduan ukiran China, Eropa dan India ini menghabiskan biaya 260 ringgit. Bandingkan dengan biaya pembangunan gereja yang 3000 ringgit di tahun 1695. Kondisi mimbar ini masih asli.Image

            Dari mimbar saya menghadap ke altar. Di sebelah kiri saya, berderet kursi besar berukir buatan abad ke-17. Kursi-kursi ini dibuat khusus untuk para petinggi VOC, termasuk buat gubernur jenderal Belanda.  Dari  altar. Saya menuju bagian kanan tembok kearah pintu keluar gereja. “ Coba mas lihat ke atas” Ujar nya, pandangan saya alihkan ke atas. Di sini, saya melihat sebuah prasasti yang di tulis dalam bahasa Belanda. Makna nya kurang lebih “Batu pertama gereja ini diletakkan 19 Oktober 1693 oleh Pieter van Hoorn“.

Image

            “Mari, kita ke lantai atas” Ujar bapak penjaga. Ternyata, bagian atas tidak kalah menariknya dengan bagian bawah. Di sini, saya melihat sebuah orgel.Orgel ini berukuran besar. Orgel yang ada di gereja ini merupakan hibah putri Pendeta John Maurits Moor pada abad ke-17. Saat saya menggeser posisi kearah kiri orgel, saya melihat sebuah roda besi. Roda bersabuk karet ini berfungsi mengisi angin untuk meniup pipa-pipa nada ketika tuts orgel ditekan. Pada zaman dahulu. Dibutuhkan dua orang untuk memutar kompresor ini. Namun sekarang, fungsi manusia sudah di gantikan dengan kompresor. Jika ingin mendengarkan keindahan dari suara orgel. Silahkan datang pada kebaktian pertama awal bulan.  Saat itulah orgel dimainkan. Kali ini, saya belum berkesempatan mendengarkan keindahan suara dari Orgel yang berumur kurang lebih 300- an tahun ini.

Image

            Dari lantai atas saya turun. Sebelum keluar dari gereja kembali bapak penjaga meminta saya memalingkan pandangan keatas. Di atas kepala saya terlihat kandelaar. Apa itu kandelaar? Kandelaar adalah tempat lilin yang terbuat dari kuningan. Fungsi nya sebagai penerang gereja pada saat malam. Dahulunya, saat malam menyentuh Batavia, kandelaar akan diturunkan dan lilin-lilin yang berada di dalamnya dihidupkan. Api lilin akan menerangi gereja. Sekarang fungsi lilin sudah digantikan dengan lampu yang di pasang di dalam dudukan lilin.

            Setelah keluar dari pintu masuk. Ada sebuah pemandangan yang menarik, di halaman gereja  terdapat nisan-nisan tua. Pada zaman dahulu, halaman gereja adalah pekuburan Kristen yang sangat besar. Awalnya jumlah makam yang berada di sekeliling gereja mencapai 2.381 makam. Makam-makam ini adalah korban ketika berjangkit wabah penyakit. Sekarang,  hanya tinggal 11 makam yang masih ada di gereja. Salah satu makam yang masih jelas nisan nya adalah makam Henric Zwaardecroon. Henric adalah Gubernur Jenderal Hinda Belanda yang ke-20 (th 1718-1725).  Konon kabarnya, Henric menyumbang tanah luas di bagian belakang Gereja. Dia satu-satunya Gubernur yang makamnya tidak ikut dipindahkan ke pemakaman Taman Prasasti dan  satu-satunya Gubernur yang dimakamkan di sekitar rakyat biasa. Zwaardecroon  punya catatan buruk yang berkaitan dengan kasus Pieter Erberveld  

Image

            Setelah berpamitan kepada Pak Tampu, saya keluar dan berjalan kearah Stasiun Beos. Dalam perjalanan pulang. Ingatan saya seperti memutar video Jakarta tempo dulu. Zaman di mana gereja Sion ramai di datangi bangsawan-bangsawan VOC. Gereja penuh dengan kebaktian dan kegiatan lain nya.  Kontras dengan sekarang, Gereja Sion seperti raksasa batu yang diam di tengah kemacetan ibukota. 

Image

Advertisements

4 thoughts on “Raksasa batu di tengah keriuhan ibukota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s