Taman Sari

“One’s destination is never a place, but a new way of seeing things.” – Henry Miller

 Taman Sari adalah sebuah bangunan yang dulu nya berfungsi sebagai tempat pemandian bagi Sultan dan para permaisuri raja, bangunan ini di bangun oleh seorang arsitektur berkebangsaan Portugis pada zaman pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1758 sampai dengan 1765. Gaya arsitektur bangunan ini adalah perpaduan  Hindu,Budha,Islam, Jawa dan Portugis.Image

Setelah membayar karcis masuk sebesar Rp 4000,- dan di tambah membayar izin memotret sebesar Rp 1000, maka perjalanan saya di mulai. Di pintu masuk, saya sudah di sambut oleh burung garuda  yang menjadi simbol penjaga gerbang. Kedua burung  tersebut saling berdampingan dan dengan memberikan kesan  seolah olah hendak berkata kepada saya  “ Selamat Datang di Taman Sari, wahai sahabat”.

Image

Taman Sari, terdiri dari 4 bagian. Bagian pertama adalah danau buatan yang terletak di sebelah barat, bagian selatan yang di kenal dengan sebutan Pemandian Umbul Binangun, Bagian ketiga adalah Pasarean Ledok Sari dan Kolam Garjitawati yang terletak di selatan bagian kedua. Bagian terakhir adalah bagian sebelah timur bagian pertama dan kedua dan meluas ke arah timur sampai tenggara kompleks Magangan.

Image

Pertama saya menuju Pemandian Umbul Binangun. Pemandian Umbul Binangun  ini memiliki dua kolam, kolam yang pertama di kenal dengan sebutan Umbul kawitan yang merupakan tempat bagi para putri raja dan Umbul Pamuncar yang merupakan tempat bagi para selir. Air yang berwarna biru kehijauan menyambut kedatangan saya. Ingin rasa nya  menceburkan diri ke dalam kolam, menikmati sejuk nya air. Namun, mengingat jika saya terjun dan mandi ke esokan hari nya wajah saya akan muncul di media lokal lebih baik keinginan ini  saya batalkan.

Image

Di sebelah Umbul Pamuncar, terdapat bangunan yang dahulu nya berfungsi sebagai tempat para selir. Bangunan ini memiliki dua ruangan, di salah satu ruangan tersebut terdapat semacam tempat untuk meletakkan baju bagi para selir. Sedangkan di sebelah Umbul Kawitan, terdapat bangunan tiga lantai yang merupakan tempat raja beristirahat. Di bangunan ini terdapat  tangga yang terbuat dari kayu jati dan dipan untuk tempat raja beristirahat. Jika kita menaiki tangga, kita akan menuju ke ruangan yang berada di lantai tiga. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat bagi raja untuk melihat para selir. Jika  saat raja melihat ada seorang selir yang menarik. Maka raja akan melemparkan bunga dari lantai tiga tersebut dan jika selir mengambil bunga maka dia akan pindah ke kolam pemandian khusus raja.  Yang berada di belakang dari bangunan ini.

Image

Dari Umbul Binangun, saya berjalan ke bagian tengah dari bangunan ini. Di bagian tengah dari Taman Sari terdapat perkampungan. Pada zaman dahulu perkampungan ini adalah tempat bagi para abdi dalem kerajaan. Kampung ini di kenal dengan kampung batik. Mereka masih melestarikan batik tulis. Jika ingin memesan ataupun membeli batik bisa di lakukan di sini. Menurut warga, yang paling banyak melakukan pemesanan batik saat ini adalah para pelanggan yang berasal dari Eropa Timur. Hal ini mungkin berhubungan dengan krisis ekonomi yang melanda Eropa Barat. Sehingga pelanggan dari Eropa Barat  mengurangi pemesanan batik. Jika ingin melihat proses membatik. Kampung ini adalah tujuan yang tepat. Di sini kita dapat melihat proses pembuatan batik tulis. Dari proses pembuatan pola, pewarnaan, membatik, dan  pelunturan malam. Bahkan warga kampung juga membukakan rumah mereka bagi para wisatawan yang ingin mengikuti workshop pembuatan batik dan juga bagi para siswa siswi SMK yang ingin magang.

Image

Dari perkampungan, saya menuju ke bagian yang di kenal dengan nama Gedong Ledoksari. Gedong ini adalah bangunan yang dahulu nya di gunakan sebagai tempat bertapanya  raja. Di sini, raja akan melakukan perjalanan spiritual untuk mencari pemecahan-pemecahan masalah yang di hadapi pada saat itu.Terdapat bangunan bangunan yang dahulu nya berfungsi sebagai dapur,tempat penyimpanan senjata dan ruang beristirahat raja.

Image

 Dari Ledoksari, saya menuju ke ruangan yang di kenal dengan  mesjid bawah tanah. Dahulu, pelaksanaan ibadah sholat bisa di lakukan di ruangan ini. Posisi imam berada di lantai ke dua dan saat pelaksanaan sholat, makmum akan melingkari imam dalam posisi shaft nya.

Image

  Di sini  terdapat sumur yang di kenal dengan nama Sumur Gumiling. Sumur ini berada di bawah tangga melingkar untuk menuju ke lantai dua dari mesjid ini. Dulu sumur ini berfungsi sebagai tempat berwudu.  

Image

Mesjid ini memiliki filosofi dalam ornamen bangunan nya. Salah satu filosofi nya adalah  pada tangga untuk menuju ke lantai dua, tangga tersebut berjumlah lima, yang  menunjukkan 5 macam Rukun Islam. Empat diantaranya menuju ke tengah membentuk suatu pelataran kecil dan satu tangga lainnya menghubungkan ke lantai 2. Maksudnya satu tangga ke atas menunjukan bilamana kita telah “mampu” maka kita bisa menuaikan Rukun Islam yang ke-5 yaitu Menuaikan Ibadah Haji. Sungguh merupakan kreasi yang sangat cerdas. Mereka bisa mengaplikasikan filosofi dalam agama  Islam ke dalam bentuk bangunan.

Image

Sebentar lagi, ibadah sholat Jumat akan berlangsung. Langsung saja saya bergegas menuju ke Mesjid yang terdapat di kawasan Taman Sari. Untuk menuju mesjid,  saya akan melewati terowongan bawah tanah yang pada zaman dahulu nya berfungsi sebagai jalan alternatif. Menurut penuturan warga yang tinggal di dalam Taman Sari, dahulu rumah-rumah mereka adalah bagian dari sebuah danau buatan yang luas.  Pada zaman dahulu jika akan berkunjung ke kawasan ini raja akan menggunakan perahu. Dapat dibayangkan luasnya kawasan ini.

Image

Dalam perjalanan saya menuju mesjid. Saya membayangkan seperti apa indah nya Taman Sari ini, dan sekarang bangunan ini tetap kokoh berdiri. Sebagai bagian sejarah kerajaan Mataram.

 Image

Notes:

  1. Untuk menuju Taman Sari sangat lah mudah, dari Keraton. Kita langsung saja mengikuti jalan raya. Kita akan sampai di pasar Ngasem. Posisi Taman Sari itu di depan nya pasar Ngasem.
  2. Tiket masuk sebesar Rp 4.000,- di hari biasa dan Rp 5.000,- di har libur. Dan ada tambahan Rp 1.000,- jika kita ingin memotret di sini
  3. Dilarang mandi di kolam ini, walaupun dengan godaan sebesar apapun.
  4. Bersikaplah lah yang sopan. Jangan mengotori kawasan wisata ini. Tembok tembok dari  Taman Sari ini sudah menjadi saksi ulah jahil tangan manusia.
  5. Dari Taman Sari kita bisa menuju Ke Alun Alun Selatan atau pun kembali menuju ke Malioboro, bisa menggunakan becak ataupun berjalan kaki.

Image

 

Image

Advertisements

10 thoughts on “Taman Sari

  1. saya sepertinya ingin kembali 200-300 tahun yang lalu untuk iseng maling selendang putri raja, selirnya juga ngga papa deh. Hukumannya kalo dinikahkan ya oke saja, kalo di gantung balik lagi kemasa sekarang…
    streetnya makin josss saja kaka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s