Perjalananan Menuju Puya

      “ Silahkan di minum, ini berasal dari tanah ini. “ Obrolan singkat yang menjadi pembuka antara saya dan seorang pemuda kampung. Nama nya adalah Pian. Aroma harum dari segelas minuman yang di suguhkan, masuk kedalam hidung dan mulai mengajak otak untuk segera menikmati. “ Tenang saja” Ujar nya. “ kalo ko mau tambah. Silahkan. Berliter liter minuman sudah  kami persiapkan untuk tamu “. Pelan-pelan. Segelas minuman yang di kenal dengan sebutan kopi Toraja masuk kedalam lambung. Sekarang, saya sedang berada sebuah bangunan yang di namakan  Lantang. Lantang adalah tempat bagi para tamu dan pihak keluarga untuk menginap selama upacara adat berlangsung. Dimana kah saya? Saya sekarang berada di upacara kematian di Tanah Toraja yang di kenal dengan nama rambu solo.Image

            Rambu Solo adalah upacara kematian bagi masyarakat Toraja. Masyarakat Toraja yang memiliki kepercayaan Aluk Todolo mempercayai bahwa bahwa setelah kematian masih ada sebuah ‘dunia’. ‘Dunia’ tersebut adalah sebuah tempat keabadian dimana arwah para leluhur berkumpul dan beristirahat. Mereka menyebutnya Puya. Di sini, arwah yang meninggal akan bertranformasi, menjadi arwah gentayangan (Bombo), arwah setingkat dewa (To Mebali Puang), atau arwah pelindung (Deata). Di dalam kepercayaan mereka transformasi tersebut tergantung dari kesempurnaan prosesi upacara rambu solo. Oleh karena itu, rambu solo juga merupakan upacara penyempurnaan kematian.Image

Masyarakat Toraja percaya bahwa sebelum melaksanakan upacara rambu solo, mayat masih berada dalam keadaan “sakit”. Mereka akan memperlakukan mayat sebagaimana mayat tersebut masih hidup. Di beri minum, sarapan dan di ganti baju. Selama mayat tersebut dalam kondisi “sakit”, pihak keluarga akan melakukan persiapan untuk upacara kematian. Rapat keluarga, mengumpulkan dana adalah beberapa persiapan untuk upacara. Dan jika dana di rasa cukup serta pihak keluarga sudah sepakat . Barulah upacara kematian dilaksanakan. Inilah saat hubungan antara keluarga dengan mayat di anggap putus. Mayat dianggap mati dan dipersiapkan menuju ke Puya. Upacara rambu solo ini memiliki alur. Alur tersebut adalah meliao tando,mapalao,penerimaan tamu, mapasilaga tedong,tigorok tedong, dan ditutup dengan mapaliang.Image

                Saat sedang melihat kesibukan panitia menghitung babi dan kerbau/tedong. Tiba-tiba saja, Pian mengajak saya menuju ke tongkonan tempat di mana mayat masih di simpan. Dia berkata “ tabek, mau ikut saya ke atas kah? Mayat nenek belum turun. Mereka sedang mempersiapkan upacara sebelum mayat akan di nakikkan ke Lakian”. Lakian adalah tempat persemayaman terakhir mayat sebelum di kubur. Biasa dalam bentuk panggung yang besar.  Tanpa pikir panjang, saya langsung meng iyakan ajakan tesebut.  Dengan menggunakan motor, kami langsung menuju  tongkonan. Namun, saya lupa. Toraja adalah daerah dengan topografi berbukit dengan tikungan-tikungan yang sempit.  Motor yang kami gunakan meraung raung berusaha menggapai ujung dari bukit yang kami daki. Turun dari motor adalah pilihan terbaik. Raungan motor beralih menjadi hembusan keras napas untuk menggapai puncak bukit. Tongkonan yang akan saya datangi berada di atas bukit.Image

            Upacara yang akan saya lihat adalah upacara meliao tando. Meliao tando adalah upacara pelepasan mayat  menuju lakian. Dalam perjalanan menuju tongkonan, saya di salip oleh rombongan yang menuntun kerbau bule. Kerbau bule dalam bahasa toraja disebut dengan tedong bonga. Kerbau-kerbau ini sudah di dandani. Nantinya kerbau akan turut serta mengikuti upacara meliao tando. Kenapa? Pada kepercayaan Toraja. Dalam perjalanan menuju puya, kendaraan yang digunakan adalah kerbau bule/tedong bonga. Kerbau-kerbau ini ikut “pamit” kepada pihak keluarga.Image

            Dengan penuh perjuangan, tibalah saya di tongkonan induk. Saya di sambut dengan cengiran Pian, “capek di? “ Tanya nya. “ Tidak ji “. Jawab saya. Ternyata. Saya terlambat. Pihak keluarga sudah memotong / tigorok  kerbau untuk di makan bersama. Tanah di tongkonan sudah basah oleh darah kerbau, bau amis darah menyambut kedatangan saya. “Mereka sudah siap untuk mengantarkan nenek ke Lakian” Pikir saya.Image

            Saya menuju ke salah satu lantang yang ada, Di sana sudah terlihat peti mati. Di dalam peti mati, mayat sudah di baringkan.. Peti mati sedang di hias dengan warna khas dari upacara kematian. Yaitu  warna merah, dan warna emas. Saat peti mati sedang dihias. Pihak keluarga yang masih ingin menangisi kepergian mayat di persilahkan. Namun, setelah upacara meliao tando  dilaksanakan. Pihak keluarga di larang menangisi mayat.Image

            Setelah peti mati siap, dan pihak keluarga sudah berkumpul. Di mulai lah upacara. Terlebih dahulu  dibuka doa oleh bapa pendeta. Setelah itu, pihak keluarga di panggil satu persatu. Mereka akan berkumpul di sekitar peti mati. Kemudian, peti mati akan mulai di arak mengelilingi tongkonan sebanyak tiga kali. Alasan pengarakan ini adalah sebagai tanda mayat akan meninggalkan rumah. Nantinya peti mati akan di letakkan ke atas tandu yang sudah  di persiapkan. Dan mereka akan berangkat ke lakian.Image

            Dengan menggunakan truk, mereka menuju lakian. Sedangkan saya, bersama Pian menggunakan motor mengejar truk. Namun,  kami berpisah di persimpangan. Karena Pian akan menyambut peti di lakian. Sedangkan saya, menunggu truk yang membawa peti. 20 menit menunggu. Mereka pun tiba. Dan mereka pun mempersiapkan perjalanan ke lakian.Image

            Tandu di turunkan dari truk, kain merah sepanjang 800 meter mulai mereka persiapkan. Kain merah ini nanti nya akan befungsi sebagai kain yang akan menarik tandu.  Ada sebuah ritual yang unik saat pengarakan peti mati ini. Saat mereka akan menarik tandu, tandu ini akan di goyang goyangkan. Ada pihak yang menarik dan ada pihak yang menahan. Alasan di balik hal ini adalah. Di dalam kepercayaan mereka. Dalam perjalanan menuju lakian, pihak keluarga harus senang. Agar perjalanan mayat menuju Puya menjadi mudah.Image

            Karena mayat yang meninggal adalah laki-laki. Maka letak dari peti mati adalah di belakang. Sedangkan jika perempuan. Maka posisi peti mati akan sebaliknya. Saat mereka sibuk tarik menarik. Saya langsung bergerak menuju bagian depan rombongan. Kembali saya berjalan melewati bukit yang terjal. Napas yang mulai sesak dan betis yang mulai berteriak menemani saya. Saya menunggu kedatangan tandu.Image

            Tidak lama kemudian, arak arakan ini tiba lah di Lantang. Namun, upacara belum selesai. Kembali tandu yang berisi peti mati di bawa mengelilingi lantang. Setelah selesai mengelilingi. Maka peti mati akan diturunkan dan di bawa menuju Lakian dan di semayamkan. Kembali saya bertemu dengan Pian. Tugas nya di Lakian sudah selesai. Kembali, segelas kopi toraja masuk ke dalam lambung. Saat nya istirahat sebentar untuk mempersiapkan tenaga. Karena meliao tando adalah pembukaan dari rentetan upacara rambu solo.

Image

Notes :

  1. Untuk melihat upacara kematian ini, kita bisa berkungjung bulan Juni dan bulan Desember. Pada bulan ini lah upacara ini ramai di laksanakan
  2. Jangan takut untuk menginap di Lantang. Biasa nya, jika kita sopan. Mereka akan memberikan izin
  3. Saat menyaksikan upacara ini, persiapkan uang tunai yang banyak. Karena biasa nya kampung tempat upacara ini berlangsung. Jauh dari pusat kota. Sehingga, untuk mengambil uang tunai susah.
Advertisements

6 thoughts on “Perjalananan Menuju Puya

  1. Jadi inget 2 tahun lalu pas ke Toraja, sempet ikut upacara rambu solo juga. Waktu itu sekalian 3 mayat.
    Mungkin karena waktu itu kita rame-rame (rombongan study tour dari kampus) terus emang langsung ijin begitu nyampe, jadi dipersilakan untuk duduk disalah satu Lantang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s