Mumi Sang Pemimpin Wimotok Mabel

       “ Kita bisa memperkirakan umur dari mumi ini, dengan menghitung jumlah kalung yang berada di leher mumi .” Perkataan ini yang saya tangkap dari pembicaraan antara teman saya dan Pak Edison.  Saat ini saya berada di desa Yiwika Distrik Kurulu. Wamena. Kedatangan saya ke desa ini. Karena di desa Yiwika ini terdapat sebuah peninggalan yang unik. Peninggalan tersebut adalah mumi.Image

            Mumi di desa ini adalah mumi kepala suku. Beliau bernama Wimotok Mabel. Seorang “dewa perang” pada zaman nya. Pada zaman dahulu, Wimotok Mabel adalah seorang kepala suku Dani yang disegani. Wimotok ini memiliki arti perang terus. Sesuai dengan kebiasaan kepala suku yang disaat mudanya sering berperang. Wimotok meninggal pada saat tua. Saat meninggal,beliau meninggalkan wasiat kepada keluarga nya.Agar jasadnya tidak di bakar melainkan di mumikan.  Image

            Cara memumikan Wimotok ini unik, jenazah tidak dibaringkan, namun dikondisikan dalam keadaan duduk. Saat duduk, pakaian adat berupa koteka dipakaikan ke jenazah. Nanti nya, jenazah dari wimotok berada di dalam honai. Di dalam honai ini, jenazah akan di asapi selama satu bulan. Setelah satu bulan, nanti nya  akan di pindahkan ke dalam pilamo dan dibungkus dengan daun pisang. Setelah mengeras, jadilah jenazah Wimotok ini sebagai mumi. Proses pengerasan ini kurang lebih selama lima tahun. Bahan pegawet yang digunakan untuk proses pembuatan ini adalah rahasia dapur dari suku Dani. Jika kita ingin menebak umur dari mumi ini, kita bisa menghitung  jumlah dari kalung yang dipakaikan ke leher mumi. Dan setiap lima tahun sekali akan ada upacara adat pemasangan kalung. Untuk perawatan mumi dari Wimotok Mabel, mumi akan dilumuri dengan minyak babi.  Sayang nya tradisi mumi ini sudah tidak lagi diadakan oleh masyarakat Pegunungan Tengah. Selain karena syarat pantas atau tidaknya seseorang untuk dijadikan mumi yang berat. Agama yang masuk ke Pegunungan Tengah ini juga melarang ritual-ritual yang dulu nya ada.Image

            Di lembah Baliem sendiri, terdapat beberapa mumi. Pertama berada di kecamatan Kurulu, tiga mumi. Kecamatan Assologima terdapat 3 mumi dan Di Kurima, Kabupaten Yahukimo terdapat 1 mumi. Namun, mumi yang berada di Yahukimo ini adalah mumi perempuan, ada kepercayaan  masyarakat disini, jika mumi perempuan ini dikeluarkan. Maka akan terjadi bencana. Sehingga mumi ini, belum diperlihatkan ke wisatawan..  Dari ketujuh mumi tersebut. Yang sering didatangi oleh para turis adalah mumi Wimotok Mabel dan mumi Werupak Elosak. Yang berada di distrik Aikima.Image

            Saat berkunjung ke desa Yiwika ini, ada sedikit rasa tidak enak di hati saya. Jika kita memoto mereka, tanpa segan-segan nantinya mereka akan menodong kita dan mengatakan “uang merah” ataupun “uang biru”. Jumlah yang akan kita bayar nantinya tergantung negosiasi kita terhadap mereka. “Uang merah” dan “uang biru” ini adalah uang Rp 50.000 dan Rp 100.000.  Dari obrolan saya dengan pak Edison, asal usul “uang merah” dan “uang biru” ini, pada awalnya ada wisatawan asing yang datang ke desa ini, lalu melihat eksotis nya mereka. Mereka  memoto dan memberi imbalan ke mace dan pace ini berupa uang. Lama-lama, hal ini menjadi kebiasaan. Setiap itu tamu, jika memoto mereka. Mereka tanpa malu-malu akan meminta imbalan ke kita. Hal ini juga dialami oleh teman-teman yang satu rombongan bersama saya.Image

            Sepertinya komersialisasi sudah menyentuh masyarakat adat ini. Selain mumi, di desa Yiwika. Kita juga bisa melihat contoh sebuah kompleks perumahan dari Suku Dani. Komplek ini dinamakan dengan Sili. Terdapat beberapa honai di Sili ini,dan salah satu nya bernama Pilamo. Pilamo adalah honai yang dikhususkan untuk kaum lelaki. Setelah akil baliq, anak laki laki suku Dani tidak lagi tinggal bersama orang tua nya. Namun berkumpul di dalam Pilamo. Letak dari pilamo satu garis lurus dengan pintu masuk menuju Sili. Filosofi nya adalah, jika nanti nya terjadi perang maka para lelaki yang berada di Pilamo sudah siap sedia untuk menghadapi musuh yang akan datang.Image

            Dan juga, jika kita ingin mencari souvenir khas Pegunungan Tengah. Seperti noken,koteka,kalung taring babi. Kita bisa menemukan hal tersebut di sini.  Berkunjung ke desa Kurima ini mengingatkan saya akan sebuah quotes dari film The Mummy besutan sutradara Stephen Sommers.Imhotep: Death is only the beginning”. Kematian Wimotok Mabel, seperti menjadi sebuah awal kehidupan bagi anak cucu nya.Image

 

Notes:

  1. Jika ingin berkunjung ke Distrik ini, sediakan uang kecil yang banyak jika ingin memotret kehidupan sehari hari mereka
  2. Untuk tamu lokal biaya mengeluarkan mumi adalah sekitar Rp 500.000 dan jika tamu asing bisa dua kali lipat nya.
  3. Sekitar 30 menit berkendara dari Wamena menuju desa ini. Kita akan dimanjakan pemandangan khas Pegunungan Tengah Papua. Gunung, lembah dan awan akan memanjakan mata kitaImage

 

Advertisements

13 thoughts on “Mumi Sang Pemimpin Wimotok Mabel

  1. wah… aku takjub membaca perjalanannya..
    ternyata seperti itu potret suku di sana dari dekat sekali….
    desanya nampak lengang yah..

    aku juga sepertinya ada jadwal ke papua.
    masih agak lama.
    mungkin aku bisa berharap belajar dari catatan perjalanan mas Bayuwinata. tentang bagaimana musti ber attitude di sna.
    keren sekali.
    tempatku berkunjung nanti mungkin adalah suku arfak di manokwari.
    aku baru pertama kali nantinya kalo jadi berangkat ke sana. ^__^
    makasih banyak sajian hebatnya…
    Mumi…
    brrr…
    keren tapi ^^d

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s