Penginapan Sederhana di Pegunungan Tengah Papua

“All journeys have secret destinations of which the traveler is unaware.”. -Martin Buber-

 

 “  Jalan ini sempat di perbaiki pak, saat kedatangan bapak Presiden ke kawasan ini”. perkataan dari pak supir ini memecah kebisuan antara kami. “ Lah, kalo sudah di perbaiki kok jadi sungai begini pace?” ujar saya. Jalanan di depan saya, yang pada awal nya berupa jalan aspal, berubah menjadi  alur air yang lengkap dengan batu dan lumpur nya. “ Iyo pace, longsor di sini kuat sekali. Jalan picah di bikin nya. Apa lagi nanti di tempat pace turun”  sambung pak supir. Pak supir kembali menyetir dengan lincah nya, dan saya menikmati pemandangan indah yang ada di sekitar saya. Tujuan saya kali ini adalah sebuah desa yang bernama Kilise yang terletak di Kabupaten Yahukimo.Image

Setelah satu jam berkendara, tiba lah di saya di drop zone. Saya di turunkan di dekat sungai Yetnin, desa Sogokmo. Perjalanan akan di lanjutkan dengan berjalan kaki, karena jalan yang dahulu nya ada sudah berubah menjadi sungai kerena kuat nya banjir yang melanda kawasan ini. Barang-barang di turunkan, memperbaiki tali sepatu tracking saya. Maka di mulai lah perjalanan ini.Image

Kali ini, saya bukan lah ingin mendaki gunung. Perjalanan kali ini lebih kepada obsesi saya. Obsesi ini sangat lah sederhana. Saya ingin tidur di Honai.  Kenapa?  Karena saya penasaran seperti apakah rasa nya tidur di dalam rumah khas suku di Pegunungan Tengah Papua ini. Honai yang nanti nya akan saya tempati berada di Desa Kilise Distrik Kurima Kabupaten Yahukimo.Image

Berdasarkan perkataan pak Anderson, seorang pemandu lokal yang ikut bersama saya. Nanti nya, saya akan naik sekitar 200 meter vertikal. Di mulai dari ketinggian 1600 an mdpl dan berakhir di ketinggian 1800 an mdpl.  Sebelum masuk ke jalan tanah, saya masih bertemu dengan jalan aspal dengan kondisi yang masih baik. Jalan aspal ini dahulu nya merupakan jalur utama menuju desa Kilise. Namun, karena banjir bandang yang melanda maka jalan ini pun menjadi terputus di sungai Yetnin.  Sekitar 1 jam perjalanan menyusuri jalan aspal ini, elevasi tanah relatif datar. Perjalanan di teruskan sampai bertemu dengan ujung aspal.  Dan di sinilah perjalanan sebenar nya di mulai.

Kekuatan betis dan paha mulai di uji sini. Tanjakan yang tinggi sudah ada di depan saya. Dari jauh kelihatan mace dan pace yang berjalan bersama menuju desa  yang berdekatan dengan desa Kilise. Mereka terlihat seperti titik titik kecil di punggung raksasa. “ Hmm, lumayan juga ini” pikir saya. Pelan-pelan, bukit pun di daki. “ Haah, haah,haah” suara napas saya pun beradu dengan kicuan burung dan suara deras arus sungai di bawah saya. Kombinasi yang absurd.  Dan tanjakan ini seolah tiada putus-putus nya. Selesai satu bukit di sambung dengan bukit yang lain. Sekitar dua jam berjalan kaki, saya sempat bertemu dengan pace yang sedang mengendong anak  babi di bahu nya. Saya pun bertanya ke pace tersebut “ Berapakah harga babi itu?” “ Mahal, 1 juta di Wamena “  Namun pace tersebut menjawab sambil tersenyum. Di Pegunungan Tengah Papua, memiliki babi adalah sebuah kemewahan bagi mereka, tentu saja pace ini penuh rasa bangga melihatkan babi yang di beli nya kepada saya.Image

Selesai istirahat, perjalanan saya lanjutkan kembali. Bukit-bukit di hadapan saya dengan angkuh nya berdiri. Namun, perjalanan ini bukan lah perjalanan membosankan. Kenapa? Selain lanskap indah yang di tawarkan, saya di sambut keramahan masyarakat Papua. Sepanjang perjalanan ucapan “ Selamat Siang Pace, Selamat Siang Mace” selalu di jawab kembali dengan senyuman dan ucapan “ Selamat Siang” di sertai dengan salaman. Ah, ini lah wajah Papua  yang selama ini di lupakan oleh orang-orang.Image

Setelah 3 jam berjalan, maka tiba lah saya di Desa Kilise. Ah, obsesi saya selama ini tersampaikan juga. Di depan saya. Honai-honai  berdiri dengan anggun nya seolah menyambut kedatangan saya.  Honai, yang merupakan rumah khas suku pegunungan tengah Papua memiliki keunikan tersendiri. Bangunan ini di bagi atas dua lantai. Lantai pertama sebagai tempat untuk menghidupkan api, setelah api hidup. Mereka akan pindah ke lantai dua sebagai tempat tidur mereka. Konstruksi honai yang tanpa jendela sangat cocok untuk di pegunungan. Panas dari api yang mereka tidak akan keluar dari Honai, nanti nya panas ini akan  distibusikan merata di dalam bangunan. Sehingga suhu di dalam honai menjadi hangat.Image

Pemandangan di sekitar honai, begitu menarik. Posisi honai yang berada di depan lembah yang di kenal dengan istilah kawasan pintu angin Wamena ini sehingga memberikan pemandangan yang sangat indah. Punggungan pegunungan berdiri dengan kokoh, alur sungai berliku liku seperti ular yang sedang berjalan. langit cerah berwarna biru. Dan Honai. Perasaan yang sulit untuk di lukiskanImage

Pelan-pelan malam pun turun, rasa lelah yang mendera badan sudah tidak dapat di tahan. Sayup sayup terdengar suara putra-putra Papua bernyanyi. Nyanyian ini adalah nyanyian ucapan sukur atas pemberian yang di berikan Tuhan kepada mereka. Dan sebagai penutup dalam perjalanan saya kali iniImage

 Notes:

  1. Siapkan sepatu tracking jika ingin menuju desa Kilise. Alam yang tidak bisa di prediksi, kadang hujan kadang panas. Menyebabkan kondisi jalur berubah menjadi licin. Dengan menggunakan sepatu tracking setidak nya kemungkinan terpeleset dapat di minimalisir
  2. Jika bertemu dengan masyarakat yang sedang berjalan, tegur saja. Ucapkan selamat siang nanti nya kita akan kafget dengan sambutan ramah mereka
  3. Jika haus, dalam perjalanan menuju desa kilise ini terdapat beberapa mata air pegunungan yang sangat  jernih. Coba lah seteguk, dan kesegaran mata air pegunungan akan dapat kita rasakan
  4. Lama perjalanan menuju desa ini adalah 3 jam. Persiapkan fisik sebelum menuju desa ini,jalur berupa bukit-bukit terjal yang sedikit banyak akan menguras fisik kita akan kita lewati.Image
Advertisements

20 thoughts on “Penginapan Sederhana di Pegunungan Tengah Papua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s