Pulau Asei, Diantara Gereja Tua dan Lukisan Kulit Kayu

“ Orang Asei percaya bahwa kami berjalan di atas punggung ular”.  Obrolan pembukaan ini menjadi awal pembicaraan antara saya dan Bapak Corlius Kohe (50).  Beliau adalah salah satu pelukis di sini. Sekarang saya sedang berada di Pulau Asei. Sebuah pulau kecil yang terletak di depan Pelabuhan danau Sentani. Untuk menuju pulau ini, sangat lah mudah. Dengan menggunakan perahu yang selalu ada di pelabuhan danau Sentani saya sudah bisa ke sana.Image

            Kedatangan saya di sambut oleh salib besar yang menandakan kedatangan injil masuk ke sini. Pulau ini di huni oleh  suku Asei. Dalam cerita rakyat yang di percaya oleh masyarakat Asei. Mereka percaya bahwa pulau Asei ini dahulu nya adalah ular  yang besar. Dan mereka seolah olah berjalan di atas punggung nya.Image

            Masyarakat pulau Asei adalah seniman lukis. Kanvas yang mereka gunakan  lain dari pada yang lain, mereka menggunakan kulit kayu. Kulit kayu ini adalah kulit kayu khombouw. Menurut perkataan mereka, dahulu sampai dengan media tahun 1980-an kulit kayu ini di gunakan sebagai pakaian, celana, pembungkus jenazah dan juga sebagai alas meletakkan kapak batu sebagai mas kawin. Namun, sekarang mereka menjadikan kulit kayu ini sebagai media seni mereka.Image

            Motif yang mereka lukis beragam. Motif-motif ini asli dari  suku Asei. Diantara  motif tersebut adalah motif rosindale. Motif ini hanya bisa di temui di rumah kepala suku/ Ondoavi. Biasa nya terletak di tiang rumah kepala suku. Dan dipake oleh isteri nya. Selain motif rosindale, di kenal juga motif Yoniki. Motif ini berupa simbol berbentuk bulat yang bermakna kebersamaan.Image

            Sebelum di lukis, kulit khombouw ini terlebih dahulu dicuci untuk di hilangkan getah nya, lalu di pukul-pukul dan di jemur. Proses ini berlangsung sekitar 1 hari, Setelah benar-benar kering, kanvas ini sudah bisa digunakan.Nanti nya kanvas ini akan di lukis.Di dalam proses pewarnaan kanvas, suku Asei masih memakai pewarna alami.

            Mereka memakai tiga warna dasar. Warna-warna tersebut adalah warna hitam yang melambangkan kematian/dunia fana, berasal dari arang yang di campur dengan minyak kelapa. Warna putih, yang melambangkan kebesaran suku, berasal dari kulit kerang dan sagu. Dan warna merah yang melambangkan keperkasaan suku, berasal dari tanah liat/batu merah.Image

            Saya sempat diperlihatkan dan ditawari motif rosindale ini. Terpancar aura yang berbeda saat saya melihat nya. Namun dengan tingkah laku saya yang masih urakan, seperti nya terlalu berat bagi saya untuk mengoleksi motif ini.

            Selain lukisan dari kulit kayu. Pulau Asei juga memiliki keunikan yang lain.  Terdapat gereja tertua di Jayapura di pulau ini. Setelah melihat lukisan dari kulit kayu, saya pun bergerak menuju gereja tersebut. Posisi gereja berada di puncak bukit pulau Asei. “Hmmm. Seperti nya akan nanjak lagi” pikir saya. Ternyata benar, sekitar 5 menit mendaki. Voila. Gereja tua berada di depan saya.Image

            Saya mendengarkan penjelasan mengenai sejarah berdiri nya gereja ini. Di mulai pada tahun 1855 saat misionaris dari Jerman yang bernama W. Ottow Carl dan Johann G. Geissler  memberitakan kabar injil dari Utara Papua sampai teluk Youtefa dan terus masuk hingga ke pedalaman pegunungan Cycloop. Kabar ini  pun masuk ke pulau Asei pada tahun 1928. Awal nya,gereja ini di dirikan di pinggir pulau dengan konstruksi yang sederhana.Image

            Namun. Pada perang dunia ke 2, dimana saat itu terjadi perang perebutan pasifik dari Jepang.Yang di pimpin oleh jendral Douglas MacArthur. Pulau Asei hancur lebur, kenapa begitu? Hal ini karena pulau Asei termasuk di dalam jalur merah. Jalur merah berarti jalur yang nanti nya akan di serang oleh sekutu. Akibat hancurnya pulau ini,  masyarakat  mengungsi dan meninggalkan pulau.

             Gereja pun hancur. Setelah keadaan aman, mereka kembali ke pulau. Atas kesepakatan bersama, mereka kembali mendirikan gereja. Dengan bergotong royong mereka membangun gereja. Di butuhkan waktu sekitar  7 tahun untuk mendirikan gereja ini.  Pada tanggal 1 Januari 1955 gereja ini  di resmikan. Ada cerita unik saat pembangunan kembali gereja.  Ternyata gereja ini di bangun oleh seorang tukang kayu yang tidak mengenyam pendidikan formal tukang kayu. Beliau hanya mengandalkan gambar yang di kirim dari Jerman. Yap, pihak Jerman juga terlibat dalam pembangunan kembali gereja.Image

            Muncul keinginan saya untuk masuk ke dalam gereja. Untuk melihat altar nya, dan detail detail interior di dalam gereja. Namun sayangnya, saat kedatangan saya gereja dalam keadaan terkunci. Dahulu nya,terdapat sebuah lonceng dari perunggu di gereja ini. Namun setelah jatuh, tugas dari lonceng perunggu  di gantikan oleh sebuah tabung gas. 

            Pelan-pelan. Matahari pun turun, Sunset sebentar lagi akan keluar di bumi Papua. Saya pun turun dari bukit menuju ke pelabuhan. Meninggalkan kisah akan lukisan dan gereja tua.Image

 

Notes:

  1. Menuju pulau ini bisa dengan perahu kecil dari danau Sentani. Dengan mengeluarkan Rp 10.000 kita sudah bisa ke pulau ini
  2. Jika ingin membeli lukisan. Siapkan dana yang lebih. Unik nya motif yang ada menyebabkan kita lapar mata ingin membeli semua motif lukisan yang ada.
  3. Jika ingin suasana yang berbeda. Setiap tanggal 1 juli. Diperingati sebagai hari pengkabaran injil bagi gereja ini. Semua umat akan datang. Kita bisa melihat upacarakabar injil tersebut
Advertisements

5 thoughts on “Pulau Asei, Diantara Gereja Tua dan Lukisan Kulit Kayu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s