Menuju Danau Habema, “ Ko su gila kah?”

“ Sial”, itu adalah ucapan yang pertama terlintas di pikiran saya sekarang. Di dalam mobil four wheel drive  yang terus melaju menembus kegelapan malam, perjalanan kali ini seperti mimpi buruk. Pusing di kepala dan  jalan dengan tikungan-tikungan rapat yang terus menanjak  merupakan kombinasi yang sangat pas. Kali ini, saya akan menuju sebuah danau yang di kenal dengan nama Yuginopa dalam bahasa lokal nya.

Masuk angin yang mendera dari malam sebelum nya sudah menjadi alarm bagi tubuh saya, Namun dengan asumsi bahwa ini hanya masuk angin biasa. Saya memilih melanjutkan perjalanan. Kata pak Edison yang merupakan guide lokal. Nanti nya saya  akan berada di ketinggian sekitar 3200 mdpl. Kota Wamena berada di ketinggian 1600 mdpl. Kurang lebih sekitar  1600 mdpl nanti nya saya akan naik. Di pulau Jawa, naik 1600 mdpl sama seperti naik ke puncak gunung. Sedangkan di Wamena, ini baru di kaki gunung.Image

Naik ke mobil, pasang jaket, di mulai lah perjalanan saya menuju Yuginopa. Sekitar 2 jam 30 menit waktu yang di butuhkan menuju danau. Mobil four wheel drive yang membawa saya meliak liuk mengikuti kontur jalan. Pak supir sangat menikmati jalan di depan nya, transmisi berpindah dari 3 menuju 4. Sedangkan saya, berusaha menahan mual adalah perjuangan yang berat. Pelan-pelan ketinggian pun mulai bertambah. Dan pukul 06.00 WIT, tiba lah saya di check point berupa gardu pandang.  “Subhanallah”, hanya itu yang bisa saya ucapkan saat melihat apa yang ada di depan, sebuah danau luas seolah olah menyambut kedatangan saya. Saya sudah berada di Yuginopa.  Image

Danau Yuginopa atau yang di kenal dengan nama  danau Habema merupakan danau yang berada di ketinggian 3225 mdpl. Danau ini berada di zona inti Taman Nasional Lorenz. Papua.  Dengan luas sekitar 224.35 Ha. Penamaan nama Habema adalah untuk menghormati seorang perwira Belanda  bernama Letnan D Habbema yang mengawal  ekspedisi untuk mencapai puncak Trikora pada tahun 1909.Image

Begitu turun dari mobil four wheel drive. saya sudah di sambut oleh dingin nya temperatur di check point, suhu udara sekitar 7 derajat celcius. Selain dingin, gerimis ikut serta menyambut kedatangan saya. Seperti nya alam ingin menguji kesabaran manusia yang sedang berkunjung ke sini. Dari pada bosan menunggu matahari keluar dari mendung nya awan, saya memilih bergerak mengamati keunikan yang ada di sini. Di sekitar check point ini, banyak terdapat sarang semut yang sudah terkenal sebagai obat alternatif yang kaya akan antioksidan. Sarang semut di Habema ini berbeda dengan sarang semut yang kita kenal sebelum nya. Sarang semut di Habema berupa kaktus.  Kaktus ini berbentuk seperti bola, jika di potong bentuk dari rumah semut ini akan kelihatan. Rumah semut ini berbentuk seperti lorong-lorong labirin yang saling berhubungan.Image

Setelah hampir 30 menit menunggu, kesabaran saya di jawab oleh alam. Matahari dengan cerah nya bersinar. Tirai kabut  yang dari tadi menutupi danau. Pelan-pelan di buka. Di depan saya danau Habema dengan anggun nya menyambut. Di belakang nya, Gunung Trikora dengan angkuh nya berdiri. Gunung dengan ketinggian 4770 mdpl ini menunjukkan kegagahan nya. Puncak Trikora saat kedatangan saya di selimuti oleh salju. Fuji  Ishihara seorang fotographer berkebangsaan  Jepang yang sudah lama menetap di Wamena, dan ikut serta dalam perjalanan ini berkata “ ini adalah keberuntungan kita”.  Jarang sekali salju terlihat berada di puncak Trikora ini.Image

Gunung Salju dan danau, pikiran saya langsung melayang ke sebuah scene film 3idiot. Dimana salah satu scene film nya terdapat pemandangan seperti ini. Scene tersebut berlokasi di Tibet. Dan danau tersebut di kenal dengan sebutan Pagong Tso/Danau Pangong. Ternyata, di negara kita juga terdapat keindahan tersebut. Savana yang mengelilingi danau juga mengingatkan saya akan savanna di Dataran Tinggi Mongol.Negara kita memiliki pemandangan yang serupa Image

Setelah puas melihat pemandangan yang ada. Saya pun turun  ke arah danau. Perjalanan turun memiliki perjuangan tersendiri. Dalam perjalanan menuju danau, saya berjalan  di atas lapisan lumut bercampur dengan lumpur. Saya seperti sedang berjalan di kawasan gambut namun ditambah dengan dingin nya air. Langkah kaki di dalam perjalanan menuju danau menjadi pelan. Saya berhati hati memilih rumput dan lumut yang akan di pijak. Jika salah menginjak, maka kaki saya akan terjebak di dalam lumpur dingin. Setelah  1 jam  berjalan kaki, tibalah saya di danau Habema.  Image

Segera saya buka sepatu tracking saya, dan merendam kaki saya air danau. “ Brrrrrr”, dingin nya. Ampun. Pak Anderson yang ikut menemani dalam perjalanan pun tertawa sembari berkata “ Ko su gila kaaah?” perkataan dalam logat papua yang berarti “ Kamu sudah gila kah?”.Image

Setelah merendam kaki dan berfoto sebentar, saya pun kembali menuju mobil four wheel drive yang sudah menunggu. Untuk melanjutkan kembali perjalanan saya di bumi  Papua.

 

 

Notes:

  1. Untuk menuju danau ini, kita harus bangun pukul 03.00 WIT, hal ini untuk mengejar matahari terbit
  2. Pake lah jaket dan baju beberapa lapis. Karena sudah menyentuh ketinggian 3200 mdpl maka suhu di sekitar danau menjadi dingin.
  3. Selain danau, di Habema kita juga bisa melihat sarang semut, edelweiss,lumut dan berbagai macam keunikan fauna lain nya
  4. Kegiatan illegal loging mulai masuk ke zona kawasan Taman Nasional ini, banyak pondok pondok kayu mereka berada di sepanjang jalan menuju danau ini. Jika ini tidak di hentikan maka keberadaan danau Habema akan terancam
Advertisements

4 thoughts on “Menuju Danau Habema, “ Ko su gila kah?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s