Mengintip Ke’te’ Kesu’

 “A good traveler has no fixed plans and is not intent on arriving.”
― Lao Tzu

        Tanpa terasa, sudah 5 jam bus  berjalan. Sebenar nya, ini adalah perjalanan dengan tujuan yang salah. Berawal dari kota Makassar, tujuan awal saya adalah Tanjung Bira di Selayar, namun karena melihat billboard wisata Tanah Toraja yang menampilkan kuburan-kuburan tua, kerbau albino, dan tongkonan tua. Insting saya mengambil alih, seolah-olah berkata “ sudah, ke sini saja, lebih menantang”. Rencana awal berubah, saya beli tiket dan sekarang on the way  menuju Toraja.

         Kata kakak di sebelah saya, 3 jam lagi akan sampai di Toraja. Menuju Toraja dapat dikatakan perjalanan yang penuh adrenalin. Jalanan khas pegunungan. Dengan tikungan –tikungan rapat,tanjakan,dan papasan dengan truk-truk besar di antara tikungan tersebut semakin menambah rasa penasaran saya, seperti apakah kota ini. Pada awal nya saya masih bingung turun di mana.Karena,dari obrolan dengan para penumpang bus. Toraja sekarang sudah menjadi dua kabupaten yaitu Toraja dan Toraja Utara. Dengan masing masing ibu kota nya Makale dan Rante Pao.Image

      Karena gambar tongkonan tua yang terus di putar di kepala saya dan pertanyaan itu yang saya tanyakan, mereka menyarankan Rante Pao. Karena di Rante Pao ini terdapat beberapa tongkonan tua.

Dan. Tiba lah saya di Rante Pao, saya turun dari bis lalu mencari penginapan. Tidur adalah pilihan yang bijak karena  esok  petualangan saya dimulai.Image

       Keesokan hari, dengan menyewa motor saya pergi  ke tempat yang di kenal dengan nama Ke’te’ Kesu. Ke’te’ Kesu’ ini terletak di kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kurang lebih  empat kilometer sebelah selatan kota Rantepao. Kete Kesu adalah sebuah area di mana beberapa tongkonan berdiri berjajar, dilengkapi dengan lumbung padi (alang sura), area upacara pemakaman (rante), dan tempat pertemuan adat.

        Patokan menuju Ke’te’ Kesu’ ini mudah, dari penginapan. Saya mengikuti jalan Poros Toraja – Makassar, ke arah Makale. Begitu tiba di  persimpangan dimana ada Patung Sapi berwarna merah jambu, ambil kiri. Dan lurus saja,sampai ketemu dengan papan petunjuk lokasi Ke’te’ Kesu’  lalu belok kanan. Tibalah saya di kawasan Ke’te’ Kesu’Image

       Ke’te’ Kesu’  terkenal karena terdapat Tongkonan yang sudah berumur 400 Tahun,. Tongkonan ini merupakan peninggalan Puang Ri Kesu’. Tongkonan berfungsi sebagai tempat musyawarah, mengolah dan menetapkan aturan adat baik itu aluk maupun pamali yang di gunakan sebagai aturan hidup di Masyarat Kesu’.

     Atap di tongkonan  sudah di tumbuhi dengan tumbuhan paku dan lumut. Ornament -ornament yang ada di tongkonan sudah tidak jelas karena lapuk di makan usia. Namun tongkonan ini  masih berdiri dengan kokoh. Tongkonan  di hiasi dengan tengkorak kerbau yang menunjukkan status  mereka. Semakin banyak tengkorak maka status mereka di masyarakat semakin  tinggi. Selain Tongkonan, di kawasan ini juga terdapat lumbung  padi. Lumbung padi ini sebagian ada yang berumur sama dengan tongkonani, dan sebagian juga ada yang baru.Image

        Dari tongkonan dan lumbung padi, saya berjalan ke belakang dari kawasan ini, di sini saya melihat kuburan para bangsawan Toraja. Saya melihat kubur batu yang tinggi nya menyerupai bangunan tiga lantai. Kubur ini adalah kuburan buatan. Jika pada zaman dahulu para bangsawan di kuburkan di kubur batu yang berada di tebing- tebing batu yang berada di kawasan ini. Pada masa sekarang, ada yang ber inisiatif dengan membuat kuburan seperti rumah. Prinsip nya sama hanya berbeda “bungkus” nya saja.Image

        Selain itu,di sini  saya juga bisa melihat peti mati tua dan tengkorak para bangsawan Toraja yang di kuburkan dengan adat Toraja. Ada pemandangan unik yang saya lihat di sini, Terdapat barang barang seperti rokok, kopi, uang dan lain sebagai nya di sekitar tengkorak tersebut. Saya tidak mengerti apa fungsi nya. Tengkorak ini ada yang berada di dalam tebing dan ada juga yang berada di luar. Selain itu, saya melihat Tau-Tau. Tau-Tau adalah patung tiruan dari bangsawan yang sudah meninggal. Karena sudah sangat tua, peti mati ini lapuk sehingga ada beberapa tulang belulang yang keluar dari peti.Image

      Setelah dari  tongkonan dan kubur batu. Saya menuju bengkel kerja para perajin kerajinan Toraja. Di sini, terdapat para seniman pahat yang dengan sangat teliti dan cekatan mengerjakan kerajinan tangan. Tedong ( kerbau ), matahari, dan ayam jago adalah motif- motif pahatan  yang umum. Motif ini di warnai dengan warna merah, dan  hitam. Warna yang merupakan warna khas Toraja. Jika ingin mencari ukiran dan perlengkapan dapur seperti talenan,tatakan gelas,ukiran kayu dan lain sebagai nya. Di Ke’te’ Kesu’  kita bisa menemukannya. Dimulai dari Rp 25.000  kita  sudah bisa membawa buah tangan khas Toraja.Image

       Karena saya berada di sini sampai sore, maka saya bisa melihat kegiatan mengukir yang dilakukan oleh para pengrajin ini. Biasa nya kegiatan ini dimulai pada pukul  14.00 WITA sampai selesai.Image

      Tanpa terasa, sudah dua jam saya di kawasan ini, sungguh merupakan pengalaman yang menarik. Saat nya saya meninggalkan kawasan Ke’te’ Kesu’ ini, dan melanjutkan perjalanan menuju objek wisata yang menarik di sini.

Notes:

  1. Jika ingin ke Toraja, dari Makassar. Mennggunakan bus. Banyak terdapat operator bus menuju kawasan ini, Bintang Prima,Litta adalah beberapa operator yang melayani perjalanan dari Makassar Toraja. Dengan harga tiket dari Rp 80.000,- sampai dengan Rp 150.000, kita bisa menuju Toraja.
  2. Jika ingin mendapatkan informasi mengenai ketersediaan tiket bus. Kita bisa menelepon agen agen yang ada. Dan mereka akan dengan sigap nya memberikan informasi
  3. Banyak terdapat hotel dan guest house di kawasan ini, dimulai dengan harga Rp 100.000.
  4. Harga tiket masuk  di Ke’te’ Kesu’  Rp 10.000,-
  5. Jika kita menginap di Rante Pao, kita bisa mencari motor yang di sewakan Rp 100.000,- per hari. Ini merupakan pilihan yang sangat menarik.
  6. Membutuhkan waktu sekitar 8 jam dari Makassar menuju Toraja dan selama perjalanan kita akan di suguhi pemandangan indah. Di mulai dari Tebing-tebing batu di Kab. Maros,Pantai di Kab Baru, hingga gunung dan lembah di Kabupaten Enrekang. Dan jika  cuaca cerah. Maka kita dapat melihat Gunung Nona.Image

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s