Biru Toska Laut Penongkat

“ Brrrrt.. brrrrt” suara kipas mesin boat 80 pk/paardekracht terkena pasir akibat alur kapal yang kami lewati terlalu dangkal. Joki speed boat yang ada di bagian belakang dengan sigap menggangkat sedikit mesin agar speed boat yang saya tumpangi bisa lewat. “ Nama daerah ini, Batu Begaram. Jika sudah surut, boat kita tidak sulit lewat sini. Lihat, terumbu-terumbu karang terlihat dengan jelas dari atas kapal” ujar joki.

Lima belas menit dari Batu Begaram, dengan kondisi mesin masih terangkat. Warna air laut semakin berwarna biru muda, pasir-pasir putih di dasar laut terlihat dengan jelas. Warna biru muda dan putih berbaur dengan warna hijau dari terumbu karang. Batu-batu granit berukuran besar yang seolah olah disusun dengan tangan mencuat dari permukaan laut. “Ini tujuan kita. Pulau Penongkat”.

This slideshow requires JavaScript.

Pulau Penongkat adalah salah satu mutiara tersembunyi dari 250 gugus pulau di Kabupaten Kepulauan Anambas. Provinsi Kepulauan Riau. Pulau Penongkat berjarak satu jam dari kota Terempak, ibukota kabupaten Kepulauan Anambas. Menuju pulau ini, bisa dengan menyewa kapal pompong atau dengan menggunakan speed boat bermesin 80 Pk/paardekracht arah Utara. Kita akan melewati pantai Tanjung Momong sebelum tiba di pulau ini. Pulau Penongkat merupakan tempat yang pas untuk berlibur. Terdapat dua bangunan yang berada di tepi pantai. Bangunan ini merupakan resort yang dipersiapkan oleh pemilik pulau. Pulau Penongkat memiliki sumber air tawar, sehingga, untuk membersihkan badan setelah berenang di laut bisa dilakukan. Cukup membayar uang kebersihan suka rela kepada penjaga pulau, kita sudah bisa menyandarkan kapal dan bermain di pulau Penongkat.

This slideshow requires JavaScript.

 

Speed boat yang saya tumpangi bersandar pada batu granit yang berada di kiri pantai. Saya turun dari boat, kondisi laut saat itu sedang pasang, namun, kedalaman pantai tempat kapal bersandar sedalam setengah meter. Tidak perlu panik saat turun, Pantai Penongkat aman didatangi untuk orang-orang yang takut dengan air. Saat menginjak pasir pantai, tekstur halus seperti gula tabur diatas donat terasa ditelapak kaki. Warna air laut pulau Penongkat yang bening kebiruan dan berkilat seperti kristal, mengingatkan saya akan pantai-pantai di Timur Indonesia, seperti pantai Ora di Maluku.

Tekong/nahkoda kapal, mengajak saya untuk kembali ke Batu Begaram. Dia menawarkan untuk melihat terumbu karang di kawasan ini. Ajakannya ini tidak bisa untuk tidak saya tolak. Batu Bergaram, adalah kawasan terumbu karang yang dekat dari pulau Penongkat. Sayangnya, saat saya snorkeling di kawasan Batu Begaram, saya melihat kondisi batu-batu karang yang sebagian besar sudah rusak. Menurut tekong/nahkoda kapal. Rusaknya terumbu karang di kawasan Batu Begaram karena pada tahun 1980-1990 an, nelayan -nelayan asing dan juga lokal menggunakan bom dan racun untuk menangkap ikan. Saya membayangkan pada tahun 1980-an, terumbu karang di Batu Begaram berwarna-warni dengan ikan-ikan karang yang bermain disela sela karang.

This slideshow requires JavaScript.

Di pulau Penongkat, waktu terasa berjalan lama. Saya menghabiskan waktu dengan berenang, bermain pasir, dan snorkeling. Mata saya dimanjakan dengan batu granit dan awan-awan yang bergerombol seperti barisan domba. Jika anda sedang berkunjung ke Anambas, pulau Penongkat adalah salah satu mutiara tersembunyi di Kabupaten Kepulauan Anambas yang layak untuk anda datangi.

Zapin Api, permainan masyarakat pulau Rupat

“ braaak” bara dari sabut kelapa yang dibakar sebelumnya berhamburan, pemuda yang tadi memukul tumpukan sabut kelapa berjalan santai kearah bara api, dengan mata tertutup, dia mengambil bara dan dengan santai menggosok badannya dengan bara. Dari arah belakang, terdengar suara petikan gitar gambus, dan suara pukulan marwas . Ketiga alat music ini menjadi pengiring kegiatan ini.

Malam itu, saat bulan masih tertutup awan, ditepi pantai pesona, kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis berlangsung tradisi yang sudah empat puluh tahun tidak dimainkan. Masyarakat Rupat Utara menyebut tradisi ini dengan nama Zapin api. Zapin api merupakan permainan tradisional dari masyarakat pesisir Riau. Menurut cerita dari Pak Abdullah ( 70 ) yang merupakan pemimpin grup zapin api ini, permainan zapin api, pada zaman dahulu merupakan permaian yang biasa dimainkan pada saat sunatan dan pernikahan. Namun, seiring pertunjukan musik ramai, tradisi ini dilupakan.

Para pemain zapin api, adalah laki-laki. Ahmad, Udin.Samin,Iwan,dan Agus. Setiap malam, mereka berlatih di rumah pak Abdullah bersama dengan para pemain marwas dan gambus. Pak Abdullah merupakan pemain gambus dari grup zapin ini. Permainan zapin api, berbeda dengan zapin yang biasa kita tahu. Pada zapin api, mereka menggunakan perantara makhluh gaib.

Sebelum memulai pertunjukan, kemenyan terlebih dahulu dibakar, lima orang pemain zapin mengelilingi kemenyan sembari menutup telinga. Saat inilah, Abdullah mulai memetik gambus, mulutnya sibuk bergumam mengucapkan syair. Lima belas menit setelah Abdullah memetik gambus. Samin, menghempas-hempaskan badannya dengan mata tertutup. Kemudian, dia berjalan sembari menepukkan kedua tangannya mengikuti irama marwis yang dipukul. Baru dua orang yang bangun sembari menepuk nepuk tangannya, sedangkan tiga orang pemain zapin, mereka masih terbaring diatas rumput.

This slideshow requires JavaScript.

Dalam keadaan tidak sadar, Samin langsung berlari kearah tumpukan sabuk kelapa yang dibakar, dia memukul sabuk dan mengambil sabuk dengan tangannya. Hanya dua orang yang melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Samin, dua orang lagi masih terbaring. Para penonton yang berada di sekitaran pagar tali, riuh rendah melihat hal yang dilakukan oleh para pemain zapin ini. Hal yang paling menarik adalah, saat Samin menarik salah satu Marwis yang dimainkan, dia memukul marwis dengan sangat keras, seolah olah mengatakan dia ingin ketukan marwis nya seperti itu. “ Pang,pang,pang”.

Dipikiran saya, zapin api malam itu akan berlangsung lama. Namun, hal ini tidak sesuai dengan yang saya pikirkan. Satu persatu para pemain zapin api, terbaring diatas tanah. Abdullah, terus memainkan gambus, berusaha memancing agar para pemain zapin, bangun dan bermain di api. Usaha ini sia- sia, para pemain hanya sanggup menggeliat kan badan mereka yang basah oleh keringat.

This slideshow requires JavaScript.

Abdullah memutuskan untuk menyadarkan pemain zapin api. Satu persatu pemain zapin sadar dan duduk di pinggir pentas yang berupa lapangan berukuran 40 kali 20 meter. Samin menuturkan kepada saya. “Saat mereka menutup telinga dan fokus mendengarkan suara gambus. Mereka melihat penampakan perempuan yang mengajak mereka untuk menari bersama. Mereka memainkan bunga yang ada di dekat perempuan itu”. Bunga yang mereka mainkan itu adalah bara dari sabut kelapa yang dibakar.

Zapin api, malam itu tidak berlangsung lama karena pemain marwis ketakutan saat melihat lima orang pemain zapin mulai tidak sadar. Saat itulah, Samin menarik marwis dan meminta mereka memainkan seperti yang dia lakukan.

This slideshow requires JavaScript.

Muka-muka letih para pemain zapi api menjadi penutup dari permainan tradisional ini.

Godaan Lima Pantai dari Pulau Bengkalis.

Berada di pesisir pulau Sumatera, pulau Bengkalis memiliki pantai-pantai unik yang menarik untuk dikunjungi. Jika selama ini, yang dikenal dari pulau Bengkalis hanya pantai Selat Baru. Kali ini, lensawisata akan mengenalkan lima pantai di pulau Bengkalis yang pada saat libur lebaran nanti, layak untuk anda kunjungi.

  1. Pantai Pesona, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis.

Pantai Pesona Pulau Rupat adalah nama yang diberikan masyarakat kepada pantai yang berada di utara pulau Rupat, letak dari pantai ini berada di kecamatan Rupat Utara,Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Ria. Pantai ini memiliki panjang 12 km dan berhadapan langsung dengan Selat Malaka. 38 km dari pantai Pesona, kita sudah bisa mencapai negara Malaysia.

Pantai Pesona memiliki pasir berwarna putih keabuan dan dengan sebagian tekstur pasir menyerupai tanah liat. Untuk mencapai pantai ini kita bisa menggunakan dua moda transportasi. Pertama dengan menggunakan speed boat dari kota Dumai atau dengan menggunakan jalur darat, dengan menyeberang dengan menggunakan Roll On Roll Out/ roro dari Dumai.

Di pantai Pesona, kita bisa melihat matahari terbit dan terbenam, dua fenomena ala mini menjadi tujuan para pejalan jika berkunjung ke pantai. Untuk melihat matahari tenggelam di pantai Pesona, berjalanlah kearah barat pantai, hingga bertemu dengan mercusuar. Di pantai ini, kita bisa melihat pemandangan matahari kempali peraduannya, dengan latar belakang. Selat Malaka. Dan jika ingin bermain pasir atau sekedar ingin bermain air laut. Kita bisa melakukannya di pantai Pesona.

 

This slideshow requires JavaScript.

 

2. Pantai Pulau Beting Aceh.

Beting Aceh, merupakan salah satu pulau terluar yang ada di provinsi Riau. Penamaan beting aceh, karena pada zaman dahulu, ada masyarakat berasal dari Aceh yang terdampar di pulau ini. Beting adalah timbunan pasir yang panjang di tepi laut, pasir yang membentuk Beting Aceh berasal dari pasir-pasir yang dibawa oleh ombak Selat Malaka.

Pasir bertekstur halus seperti bedak terasa di telapak kaki saat menjejakkan kaki di bibir pantai. Sengatan sinar matahati yang membakar tengkuk menyambut kedatangan saya. Saya mencoba menelusuri pulau seluas kurang lebih 5 Ha ini. Pada bagian depan pantai, pantai landai dengan pasir putih yang halus menjadi daya tarik utama. Sedangkan untuk halaman belakang Beting Aceh, terdapat pantai dengan tekstur tanah lempung berwarna putih dengan beberapa tanaman bakau berukuran sepaha orang dewasa menjadi pemanis.

Untuk menuju pantai di pulau Beting Aceh,dibutuhkan waktu tiga puluh menit menggunakan speed boat dari Teluk Rhu, Kecamatan Rupat Utara. Di pantai pulau ini, kita bisa mandi-mandi dan bermain pasir putih yang halus.

This slideshow requires JavaScript.

 

3.Pantai Sepahat.

Siapa yang menyangka, di tepi jalan lintas Dumai –Pakning. Tepatnya di kecamatan Bukit Batu. Terdapat pantai yang memiliki pemandangan indah. Pantai ini berada di desa Sepahat, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Pantai Sepahat tidak sulit untuk dicapai. Dari Kantor Desa Sepahat. Berjalanlah 50 meter ke arah utara sampai bertemu simpang dua. Jika belok kanan, kita menuju kota Sungai Pakning, Kabupaten Bengkalis. Jika kita belok ke kiri menelusuri jalan desa sampai bertemu gang pertama berbelok ke kanan. Inilah arah menuju pantai Sepahat.

Pantai Sepahat pantai yang memiliki tekstur pasir yang unik, Pasir pantai ini berwarna coklat dan sedikit lengket. Pada bagian belakang pantai, terdapat turap-turap yang terbuat dari batu-batu koral. Kita harus turun dari turap untuk bisa mencapai tepi pantai.

Pada bagian belakang turap, terdapat gazebo-gazebo. Gazebo-gazebo ini menjadi tempat yang ideal untuk berteduh. Di tepi pantai Sepahat, terdapat reruntuhan pelantar pelabuhan. Reruntuhan ini mempermanis lanskap pantai. Pemandangan menarik disini adalah terdapat tanaman api-api yang berdiri kokoh sendiri di tepi pantai.

This slideshow requires JavaScript.

 

4. Pantai Tenggayun.

Pantai ini berada di desa Tenggayun. Letak dari desa Tenggayun berada di tepi jalan lintas Dumai- Sungai Pakning. Pantai Tenggayun memiliki tekstur berpasir abu abu dengan sedikit lumpur tanah liat

Karena berada di sisi timur pulau Sumatera, pantai Tenggayun merupakan pantai untuk melihat matahari terbit.. Pohon-pohon dan tunggul bakau mempermanis pemandangan matahari terbit di pantai ini.

Di sore hari di pantai Tenggayun, cobalah menuju bagan yang bejarak dua ratus meter dari bibir pantai Tenggayun. Setiap hari, dibagian atas bagan-bagan ikan, nelayan-nelayan desa Tenggayun sibuk dengan kegiatan pegolahan ikan. Ikan-ikan tangkapan nelayan sebagian besar dijadikan ikan asin. Ikan-ikan asin ini akan dibawa menuju Pekanbaru dan Medan. Kita bisa belajar langsung dengan para nelayan desa Tenggayun proses membuat ikan-ikan asin ini. Biasanya, mereka akan menawarkan kita untuk menginap di bagan mereka. Jika anda ingin merasakan sensasi tinggal diatas rumah berlantai kayu setinggi 20 meter, bagan di desa Tenggayun adalah pilihan yang menarik untuk dicoba.

This slideshow requires JavaScript.

 

5. Pantai Prapat Tunggal

Pantai ini berjarak 30 menit dari kota Bengkalis. Pantai prapat Tunggal berada di desa Meskom, desa yang dikenal sebagai penghasil terasi dan juga sentra zapin.

Pantai Prapata Tunggal menghadap ke timur. Di pantai ini,kita bisa melihat pemandangan matahari tenggelam. Dengan latar belakang. Bagan-bagan tempat ikan-ikan bahan baku terasi dikumpulkan. Jika kita datang ke pantai ini pada bulan Februari sampai dengan Maret, kita bisa mencicip kerang khas yang dipanen dari pantai Prapat Tunggal. Masyarakat menyebut kerang ini dengan nama sepahat. Bentuk dari sepahat menyerupai kerang bambu. Pipih, namun dengan ukuran yang lebih besar.

This slideshow requires JavaScript.

 

Belajar Keberagaman di Masjid Jami’ Muntok

Sinar matahari yang masuk dari jendela memberikan efek garis garis berwarna kuning kemerahan di atas sajadah berwarna hijau di depan saya.  Disebelah kanan, seorang pengurus mesjid terlihat sedang menarik kabel dari mesin penyedot debu, kemudian, suara mesin penyedot debu membelah keriuhan suara anak anak yang sedang bermain di halaman samping mesjid. Sore itu, mesjid ini ramai.

1
Tampak depan dari Masjid Jami, Muntok.
2
Bagian dalam mesjid Jami Muntok, kayu hitam yang menyangga mesjid bantuan dari Mayor Tionghoa.

Mesjid Jami’ Muntok, Bangka Barat adalah tujuan saya. Mesjid yang berdiri sejak tahun 1883 merupakan salah satu bukti perkembangan agama islam di kota yang di zaman Belanda menjadi kota industri timah yang maju. Selain sebagai simbol perkembangan agama islam, mesjid ini menjadi saksi pembauran antara tionghoa dan melayu di Bangka sejak abad ke 18.

3
Bagian atap masjid Jami Muntok.
4
Pintu dengan kaligrafi arab yang berada di masjid Jami, Muntok.

Menurut ceritanya, mesjid Jami’ dibangun pada masa pemerintahan H.Abang Muhammad Ali wakil Kesultanan Palembang yang  bergelar Tumenggung Karta Negara II.  Pembangunan mesjid ini dibantu oleh tokoh masyarakat Muntok, H. Nuh dan H. Yakub. Masjid Jami’ memiliki ukuran 21 meter x 23 meter. Dengan tinggi masjid 6 meter, diukur dari lantai masjid yang posisinya lebih tinggi dari permukaan tanah 160 sentimeter.

5
Tiang yang bergaya ionia di Masjid Jami Muntok.

Masjid Jami’ Muntok memiliki lima pintu, yang mengartikan lima rukun Islam. Ketiga pintu utama masjid setinggi 2,7 meter memiliki lubang angin berbentuk kaligrafi ayat-ayat al-Qur’an.  Dengan ukuran pintu yang besar, kondisi di dalam mesjid menjadi lebih sejuk karena sirkulasi angin yang keluar masuk lancar. Selain itu, lantai marmar berwarna putih keabuan yang berukuran besar menambah kesan sejuk dari masjid ini.  Di depan pintu masuk masjid, terdapat enam pilar. Karena dibangun pada tahun 1883, ada sentuhan aliran neo klasik pada mesjid ini, Aliran neo klasik adalah aliran arsitektur yang dibawa oleh Gubernur Hindia Belanda yang ke 36, Maarschalk en Gouverneur Generaal Herman William Daendels yang memerintah dari tahun 1808 sampai dengan 1811. Gaya aliran ini bisa dilihat pada enam pilar bergaya ionic yang berada di bagian depan mesjid.  Enam pilar ini merupakan penggambaran dari enam rukun iman.

Bagian luar dari masjid Jami Muntok, Kota Bangka.

Di saat pembangunan masjid, masyarakat melayu dan para pekerja timah yang sebagian besar adalah  warga  Tionghoa bergotong royong membangun. Selain dibantu  para pekerja timah yang saat itu dikenal dengan sebutan orang parit. Seorang major Tionghoa juga ikut membantu dalam pembangunan mesjid ini. Mayor yang bernama Tjoeng A Thiam  merupakan perwakilan dari Belanda yang mengatur warga Tionghoa, para pekerja timah. Mayor Tjoeng A Thiam yang memerintah di pulau Bangka pada tahun 1863 sampai 1896 memberikan bantuan dalam bentuk sumbangan empat kayu hitam/ kayu ulin yang berfungsi sebagai tiang utama penyangga atap masjid. Bantuan para pekerja timah dan Mayor Tionghoa dalam membangun mesjid memperliatkan wujud keberagaman yang sudah dari dahulu ada di  kota yang berjuluk Sejiran Setason ini.

7
Bagian atap dari mesjid Jami, kota Muntok.
8
Klenteng Kong Fuk Miao yang berdampingan dengan mesjid Jami, kota Muntok.

Dibagian atap masjid, ada insipirasi dari bentuk limasan masjid- masjid yang ada di pulau Jawa. Dari halaman masjid, saya melangkahkan kaki ke bangunan yang berada di sebelah kiri masjid. Sebuah jalan beraspal menjadi pemisah antara dua bangunan ini. Bangunan ini bernama Klenteng Kong Fuk Miao. Klenteng ini dibangun sebelum mesjid.  Kira-kira  83 taun sebelum mesjid didirikan. Salah seorang pengunjung mesjid dengan bangga menjelaskan kepada saya      “ inilah contoh dari keberagaman di Pulau Bangka pak, klenteng dan masjid bisa berdampingan”. Hari itu, halaman Klenteng Kong Fuk Mioa, sepi, tidak ada kegiatan sama sekali.

9
Mesjid Jami yang menjadi cagar budaya kota di Kota Muntok
10
Pintu penguhubung antara Klenteng Kong Fuk Miao dan mesjid Jami, kota Muntok.Mesjid dan Klenteng ini merupakan simbol keberagaman di Kota Muntok.

Karena sudah berumur lebih dari lima puluh tahun, mesjid Jami dan Klenteng Kong Fuk Miao menjadi benda cagar budaya di kota Muntok. Hal ini sesuai dengan UU no 11 tahun 2011. Mesjid Jami Kota Muntok dan Klenteng Kong Fuk Miao, salah satu wujud keberagaman  di Indonesia.

Museum Timah Bangka dan Kisah Sultan Ismail Siak.

Silahkan masuk Pak”,suara ramah dari Taufik, petugas meseum menyapa saya. “ Selamat datang di museum Timah, Bangka Belitung”.  Baju seragam dengan emblem PT Timah yang digunakan lelaki berperawakan sedang ini terlihat mencolok, saat dia menyambut kedatangan saya.  Pulau Bangka dan Belitung yang berada di timur Sumatera Selatan ini, selain memiliki pantai yang indah, kuliner yang menggoda lidah, adalah pulau penghasil timah terbesar di dunia. Pulau Bangka, pulau Belitung, bersama dengan pulau Kundur, Singkep, dan Anambas di Kepulauan Riau tergabung dalam gugusan sabuk timah/ tin belt yang sejak abad ke 17 sudah dieksplorasi..

1
Tampak depan dari museum Timah, Bangka.
DSC_0080
Replika dari prasasti batu kapur .

Meseum timah, menempati gedung administrasi dari Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning ( BTW ) yang berada di jalan Ahmad Yani no 179, Pangkal Pinang. Museum ini menyimpan sejarah perjalanan timah yang ada di Pulau Bangka. Museum ini dahulunya adalah rumah singgah dari Soekarno dan Agus Salim.  Pada tahun 1949, museum ini menjadi tempat perundingan Soekarno dengan UNCI (United Nations Commission for Indonesia) sehingga lahirlah perundingan Roem-Royen tanggal 7 Mei 1949.  Di tahun  1959, rumah ini dijadikan museum dengan tujuan mencatat sejarah pertimahan di pulau Bangka Belitung dan memperkenalkannya di masyarakat. Museum ini resmi dibuka sekaligus diresmikan pada 2 Agustus 1997.

2
Lokomotif buatan Inggris yang dahulu digunakan sebagai alat transportasi pengangkatan timah.
4
Logam tanah langka yang sekarang dipertahankan oleh pemerinah. Logam logam ini menjadi bahan baku pembuatan komponen elektronik dll.

Taufik menjelaskan kepada saya, sejarah penemuan Timah di pulau Bangka, dimulai sekitar tahun 1709 di Sungai Olin, Kecamatan Toboali, Bangka Selatan, oleh orang-orang Johor  yang saat itu juga sudah menambang timah di Semenanjung Malaka. Dengan temuan timah ini,   pelan-pelan pulau Bangka disinggahi  kapal-kapal dari China maupun Eropa untuk membeli komoditas ini. Saat tambang timah semakin maju, Sultan Palembang, Sultan Muhammad Mansur Jayo Ing Lago ( 1706-1714 ) mengutus orang orangnya ke negeri China untuk mencari tenaga tenaga kerja ahli dalam mengolah timah.

3
Buket/ timba yang digunakan oleh kapal keruk timah di laut sekitar Pulau Bangka dan Belitung.
9
Peta persebaran potensi geologi pulau Bangka di museum Timah.

Setelah melihat hasil timah di Pulau Bangka yang saat itu mulai menjanjikan, sekitar tahun 1722 VOC mengadakan perjanjian  monopoli  perdangangan timah dengan  Sultan Ratu Anum Kamaruddin.  Pada tahun 1700-an ini, penambangan timah di Bangka masih bersifat sederhana. Mengandalkan alat alat sederhana berupa cangkul, bor kayu, dan saringan tanah. Meskipun begitu, dalam perjalanannya, timah yang berasal dari pulau Bangka ini menjadi komoditas andalan. Bahkan para bajak laut yang dahulu berada di gugusan pulau tujuh, kepulauan Riau, ikut mengincar timah-timah ini.

5
Alat alat tambang sederhana yang digunakan di abad ke 17.
8
Alat survei Geologi yang digunakan di PT TImah.

Dalam buku Contesting Malayness: Malay Identity Across Boundaries, sub judul Raja Ismail and Siak Violence, Siak and the transformation of Malay Identity in the Eighteen Century yang ditulis oleh Timothy P Barnard. Dijelaskan, Sultan Ismail atau yang dikenal dengan nama Sultan Ismail Abdul Jalil Syah yang merupakan sultan ketiga dan keenam dari kerajaan Siak.  Sebelum dinobatkan menjadi raja adalah  bajak laut yang ditakuti di Semenanjung Malaka. Pada tahun 1767, Sultan Ismail mendapatkan bantuan dari Sultan Palembang sebesar 1000 pikul perak. Satu pikul perak saat itu seberat 67.5 kg, Sultan Ismail mendapatkan bantuan sebesar 67500 kg perak. Perak ini adalah imbalan kepada Sultan Ismail sebagai uang jaminan karena armada laut Sultan Ismail menjaga perairan disekitar pulau Bangka dari serangan para bajak laut. Selain mendapatkan imbalan, Sultan Palembang juga mengizinkan bangsawan kerajaan Siak, untuk membuka tambang tambang timah di Pulau Bangka.

11
Taufik menjelaskan diorama dari orang orang parit, atau para pekerja timah yang didatangkan langsung dari China pada abad ke 17.
10
Timah batangan hasil dari PT Timah,

Dari koridor pertama yang  menjelaskan perjalanan timah di Pulau Bangka. Taufik membawa saya ke koridor tengah museum. Di koridor ini terlihat alat-alat yang dahulu digunakan oleh penambang timah. Mereka dinamakan orang-orang parit. Istilah ini berasal dari  para pekerja timah dari China yang berkerja di saluran saluran tambang timah yang berukuran seperti parit atau selokan. Para pekerja ini  menggunakan alat alat sederhana seperti cangkul dan serok yang terbuat dari kayu.  Di koridor ini, saya juga melihat bor Bangka, bor ini merupakan bor temuan dari ahli Geologi Belanda, J. E Akkeringga.  Dia seorang geolog dari perusahaan Belanda, Banka Tin Winning ( BTW ). Alat temuan dari J. E Akkeringga menjadikan alat bor tusuk dari Tiongkok tergantikan.

7
Foto foto perjalanan dari kapal keruk timah.

Selain alat bor, di koridor tengah juga terdapat alat survei geologis yang sudah maju. Bagian  paling menarik dari koridor tengah ini adalah bahan-bahan tanah jarang atau logam tanah jarang yang merupakan hasil sampingan dari industri timah.  Bahan-bahan seperti zirkon dan monasit dengan gamblang diperlihatkan dalam rak yang ditutup oleh kaca. Menurut Taufik, bahan bahan ini yang sekarang berusaha diselamatkan oleh negara. Bahan tanah jarang memiliki potensi yang besar. Zirkon dan monasit merupakan bahan baku untuk industri elektronik seperti pembuatan papan sirkuit, komponen elektronik, bahkan bisa menjadi sumber bahan baku industri radio aktif. Jika tidak diamankan dan diolah di smelter, bahan tanah jarang ini akan keluar begitu saja menuju ke negara negara  industri elektronik. Taufik menjelaskan kepada saya, sambil tersenyum lebar, “Bahan bahan ini, sebelum diselamatkan seperti sekarang, hanya bernilai kurang dari Rp 50.000,- per kg nya. Padahal di luar negeri bisa mencapai jutaan rupiah per kg”, entah apa maksud dibalik senyum Taufik.

DSC_0052
Timah timah yang dijadikan suvenir di Museum Timah, Bangka.

Koridor ketiga yang merupakan koridor terakhir dari museum, terdapat sebuah diorama yang menceritakan perjalanan orang orang parit selama di Bangka. Para pekerja laki laki yang berasal dari Tionghoa ini dibawa Belanda saat mereka mulai diberikan izin monopoli industri timah. Menurut buku Coolie Labour in Colonial Indonesia, jumlah populasi orang orang parit ini pada tahun 1921 dipulau Bangka saja sebanyak 21.000 jiwa.  Mereka datang dan berkerja sebagai buruh di perusahaan Belanda. Baik itu di Banka Tin Winning ( BTW ) dan juga di Gemmenschappelijke Mijnbouwwonderneming Billiton ( di Pulau Belitung ). Orang orang parit yang datang ke Pulau Bangka ini dibawa dari Hongkong menggunakan kapal ke Singapura. Di Singapura, mereka akan “disalurkan” ke Bangka. Para pekerja ini membawa hutang yang harus mereka bayar kepada para “ sponsor “ sebesar 51.20 Gulden,bahkan di tahun 1920, nilai ini meningkat menjadi 176 gulden. Sesampainya di Bangka, mereka tidak dibayar dengan uang melainkan dengan candu dan perempuan. Orang orang parit inilah cikal bakal akulturasi  antara Melayu dan Tionghoa di Provinsi Bangka Belitung. “Itulah mengapa, kami orang orang Bangka terlihat mirip orang Tionghoa” Ujar Taufik.

Sebelum meninggalkan museum, Taufik mengajak saya melihat replika dari mesin penggalian timah yang sejak tahun 1892 sudah beroperasi di perairan Bangka dan Belitung. Mesin besar yang bekerja 24 jam dengan sistem shift per delapan jam, dibuat di Werf Condrad & Stock Hiijsch ( Harlem, Belanda), J & K Smit ( Kinderjik, Belanda ), dan Verschure & Co ( Amsterdam, Belanda). Dengan ukuran timba yang besar sampai 14 kubik feet. Timb-timba ini mengeruk timah dari Pulau Bangka dan sampai hari ini. Replika mesin penggali timah yang ada di museum ini bernama Kundur satu.

Meninggalkan museum yang dikelola oleh PT Timah, memberikan pertanyaan pada diri saya. Jika di Sawah Lunto ada museum orang orang rantai, di Bangka ada museum Timah, apakah mungkin di Riau, ada museum minyak bumi dan romusha?.

Cerita Dari Komplek Masjid Syahabuddin Siak

“ Allaahuakbar, Allahuakbar” suara azan penanda waktu Zuhur sudah masuk berkumandang. Langkah kaki bergegas menuju bangunan yang berdiri kokoh di tepi Sungai Siak. Lantai marmer bewarna putih terlihat mencolok, sama seperti tembok bangunan yang dicat bewarna kuning. “ Brrrr” dingin nya air wudhu terasa di kulit muka. Panas terik kota Siak siang itu menjadi ternetralisir.

DSC_0311
Halaman depan masjid Syahabuddin, Siak.
DSC_0336
Bagian depan dari Masjid Syahabuddin. Siak.

Bangunan ini sudah berdiri dari tahun 1882, pada zaman pemerintahan Sultan Siak X, Sultan Syarif Kasim yang bergelar  Sultan Assyaidis Syarif Kasim Abdul jalil Syariffuddin. Beliau mendirikan masjid ini dimasa pemerintahannya 1864-1889.  Sebelum seperti sekarang, mesjid ini dibangun dengan aristektur sederhana yang terbuat dari kayu. Pada zaman pemerintahan Sultan Siak terakhir, Syarif Kasim II. Masjid yang dahulu berada di  jalan Sultan Syarif Kasim/ Sultan Syarif  Kasim straat dipindahkan ke Jalan Sultan Ismail / Sultan Ismail straat yang berada di tepi Sungai Siak.  Dari zaman mesjid masih berasitektur kayu sederhana sampai menjadi bangunan beton. Masjid ini bernama Syahabuddin. Saat pemindahan bangunan ini oleh Sultan Syarif Kasim II, masjid ini dibangun kembali. Proses pembangunan masjid ini berlangsung dari tahun 1926 sampai dengan tahun 1935. Syahabuddin  adalah penggabungan dua nama.  Menurut buku Mesjid Mesjid Bersejarah di Nusantara, karangan Abdul Baqir Zein, Syahabuddin berasal dari dua bahasa. Syah merupakan bahasa Parsi/Persia yang berarti penguasa dan Ad-din merupakan bahasa Arab yang memiliki arti agama

DSC_0317
Bagian belakang dari mesjid Syahabuddin, Siak.
DSC_0322
Pintu masuk mesjid Syaabuddin, Siak.

Dana pembangunan kembali masjid ini didapatkan dari dana kerajaan Siak dan partisipasi masyarakat Siak.  Ada yang unik dalam pembangunan masjid yang memiliki bentuk arsitektur pencampuran antara Eropa Barat dan Turki ini. Dalam pelaksanaan pembangunan masjid, pembuatan  pondasi dilakukan secara gotong-royong oleh kaum ibu.  Para ibu ibu kerajaan Siak, setiap malam menimbun tapak yang akan dijadikan sebagai pondasi mesjid. Meskipun dalam masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim II berlaku adat pingitan, dimana perempuan tidak boleh keluar dari rumah sembarangan, namun sultan tidak melarang kaum perempuan untuk terlibat dalam pembangunan mesjid.

DSC_0324
Bagian atap dari masjid Syahabuddin. Siak.
DSC_0326
Bagian dalam dari masjid Syahabuddin, Siak.

Di dalam mesjid, udara dingin penyejuk ruangan menyapu kulit muka saya. Suasana yang berbanding terbalik dengan keadaan di luar masjid.  Pilar-pilar masjid yang diselimuti beton terlihat sangat kokoh. Sebelum melaksanakan solat Zuhur, sebuah mimbar menarik perhatian saya. Mimbar bercat coklat ini, didatangkan langsung oleh Sultan Syarif Kasim II dari kota Jepara. Mimbar yang terbuat dari kayu jati ini sudah ada sejak masjid mulai digunakan pada tahun 1935. Mimbar ini  menjadi saksi perjalanan kegiatan yang dilakukan oleh Sultan Siak terakhir di masjid sampai Sultan menyerahkan kedaulatan kerajaan ke Indonesia.

DSC_0329
Mimbar dari masjid Syahabuddin. Siak.

Pada masa pemerintatahan Sultan Syarif Kasim II, yang menjadi takmir dari masjid ini adalah Mufti Haji Abdul Wahid, beliau adalah seorang mufti di Kesultanan Siak dan juga tercatat sebagai deklarator pembentukan Provinsi Riau. Selanjutnya beliau digantikan oleh Fakih Abdul Muthalib.  Dari tahun 1935 hingga tahun 2015, masjid ini mengalami beberapa kali renovasi. Pada tahun 1963, dan pada tahun 2003. Renovasi masjid sebatas menambah teras di kiri dan kanan masjid dan perbaikan ringan masjid.

DSC_0374
Kuburan Sultan Syarif Kasim II yang berada di samping mesjid Syahabuddin.
DSC_0373
Pintu masuk dari kuburan Sultan Syarif Kasim II

Sebelum meninggalkan komplek masjid Syahbuddin, saya bergeser ke kanan   masjid. Disini, terdapat bangunan berbentuk miniature istana Siak. Di dalam bangunan ini terdapat kuburan dari Sultan Siak terakhir yang bernama Sultan Syarif Kasim II. Syarif Kasim adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak. Syarif Kasim II dipercayai sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia.

DSC_0351
Kuburan Sultan Syarif Kasim II dan kerabat yang berada di sebelah kanan mesjid Syahabuddin. Siak.
DSC_0356
Peziarah berkunjung ke kuburan Sultan Siak II yang berada di sebelah kanan mesjid Syahabuddin. Siak

Tidak lama setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945. Syarif Kasim II menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia. Beliau menyumbang harta kekayaannya sejumlah tiga belas juta gulden, jika dikonversi saat sekarang, Sultan Syarif Kasim II menyerahkan harta pribadinya sebesar Rp 1.03 Trilyun untuk pemerintah Republik Indonesia saat itu. Bersama Sultan Serdang dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatera Timur lainnya untuk turut memihak Republik Indonesia. Perjuangan Sutan Syarif Kasim II dapat dikatakan sama dengan perjuangan yang dilakukan oleh Sultan Yogyakarta dalam membantu Republik ini saat Indonesia baru merdeka. Sehingga, Presiden Sukarno mempercayakan Sultan Syarif Kasim II sebagai penasihat pribadi beliau saat itu.  Sultan Syarif Kasim II wafat di Rumah Sakit Chevron, Rumbai, pada tanggal 23 April 1968.  Di samping makam beliau, juga terdapat makam isteri dan keluarga kerajaan.

DSC_0362
Kuburan sultan Syarif Kasim II.

Panas terik sinar matahari mengantarkan saya meniggalkan kompleks mesjid Syahabuddin. Mesjid Syahabuddin dan makam Sultan Syarif Kasim II, salah satu saksi sejarah kerajaan Siak yang masih berdiri dengan kokoh.

Penunggang Sang Raja

Mahot adalah para penunggang gajah. Istilah ini kemungkinan berasal dari bahasa India. Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia. Hubungan antara gajah dan manusia sudah terjalin sejak lama. Cerita ini dapat dilihat dalam cerita armada tentara gajah dari Raja Abrahah yang hendak memindahkan Kakbah.Dan juga armada perang tentara gajah dari kerajaan Persia.

Kisah penunggang gajah ini terus berkembang dari berbagai zaman dengan cerita yang berbeda. Saat sekarang, para mahot atau penunggang gajah berperan sebagai tentara terakhir dalam pengusiran gajah liar. Para penunggang ini dikenal  dengan sebutan Flying Squad. Mereka adalah anak anak muda yang berdedikasi tinggi dalam menjaga gajah-gajah liar untuk tetap di dalam alur imigrasi mereka. Perubahan tutupan hutan di Riau yang dahulunya adalah daerah imigrasi dari gajah menjadi kawasan perkebunan, kawasan hutan industri, dan kawasan pertambangan menyebabkan konflik antara manusia dan gajah tidak bisa dihindari.  Banyak gajah liar yang mati sia-sia karena dibunuh oleh tangan-tangan manusia, pada tahun 2013 saja sudah terjadi 15 kasus gajah liar yang mati diracun.

Hidup sebagai mahot berat. Mereka tidak mengenal libur dan bersenang senang. Gajah gajah yang mereka tunggangi adalah tanggung jawab dari mahot. Memberi makan, memberi vitamin, merantai gajah,dan memandikan adalah kegiatan sehari hari yang dilakukan oleh mereka. Sekali mereka alpa, akibat nya berbahaya. Bisa kematian dari gajah mereka atau gajah kabur

Untuk mengantisipasi masuknya gajah liar ke perkampungan biasanya para mahot akan berpatroli. Hal ini dilakukan seminggu sekali. Luasan patroli tergantung kesepakatan antara para mahot. Saat mereka patroli, satu gajah akan ditunggangi oleh dua mahot. Sudah biasa bagi mahot dan gajah mereka untuk tidur di hutan saat mereka patroli.  Pada dasarnya, penunggang gajah adalah manusia biasa. Jika gajah tidak masuk ke dalam kawasan, mahot akan kembali ke rutinitas harian mereka.

Kamar kamar para mahot dan kamar para gajah.
Mahot dan Gajah yang mereka tunggangi. Anak anak muda ini adalah para penunggang gajah yang berani.
3a
Mahot dan Gajah yang mereka tunggangi. Anak anak muda ini adalah para penunggang gajah yang berani.
4a
Mahot dan Gajah yang mereka tunggangi. Anak anak muda ini adalah para penunggang gajah yang berani.
5a
Mahot dan Gajah yang mereka tunggangi. Anak anak muda ini adalah para penunggang gajah yang berani.
6a
Mahot dan Gajah yang mereka tunggangi. Anak anak muda ini adalah para penunggang gajah yang berani.
Gancu yang digunakan oleh mahot dalam menanggani gajah, dan curahan hati mereka.