Festival Musik Rimbang Baling.

Pada tanggal 22 sampai dengan 28 Januari 2018. Di hutan Suaka Margasatwa Rimbang Baling, Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. berlangsung festival musik.  Program ini digagas oleh Rumah Budaya Siku Keluang, disokong oleh Koalisi Seni Indonesia atas dukungan Kedutaan Besar Denmark. Festival ini berlangsung di tiga titik tepian sungai Bio.

Kawasan Perkemahan #saverimbangbaling, Pulau Tongah, dan sarana lapangan bola voli  masyarakat. Di lapangan ini juga ditampilkan tiga kelompok musik calempong warga setempat.  Selama sepekan, desa yang tidak memiliki jaringan listrik dan jaringan seluler ini riuh rendah oleh gradasi musik dan ragam seni yang memiliki warna tersendiri. Riau Rhtym Chamber, Iksan SKuter, Sisir Tanah, Ujung Sirih, Agus Salim, Beni Riaw, Teater Lorong, Rusli Keleeng, Boy Hendra Wijaya, Young Onyai, serta musisi-musisi lainnya. Bergerak dan berkarya di Rimbang Baling.

Festival musik ini bertujuan untuk mengkampanyekan pelestarian, menjaga adat dan hutan di Rimbang Baling agar tetap lestari.

01_19
di Pulau Tonga, Kenegerian Koto Lamo, Suaka Marga Satwa Rimbang Baling, Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. 

 

This slideshow requires JavaScript.

This slideshow requires JavaScript.

This slideshow requires JavaScript.

 

Advertisements

Halimun pada Bukit Perjanjian

Suara mesin perahu membelah sore saat itu, perahu yang saya tumpangi meninggalkan Desa Gema melewati sungai Subayang menuju kawasan Suaka Margasatwa Rimbang Baling, suaka margasatwa yang memiliki luas 130.000 Ha dengan wilayah berada di dua Kabupaten, Kabupaten Kampar dan Kabupaten Kuantan Singingi. Sebagai rumah dari harimau sumatera, kucing hutan, bunga bangkai, dan berbagai flora fauna yang unik, di dalam kawasan suaka marga satwa terdapat 12 desa. Sebelum penetapan kawasan Rimbang Baling menjadi kawasan Suaka Margasatwa. 12 desa ini sejak ratusan tahun yang lalu sudah ada. Bahkan di dalam catatan perjalanan Thomas Diazs, seorang utusan VOC menuju Kerajaan Pagar Ruyung, pada abad ke 16, cerita desa-desa ini sudah ada.

01_1
anak anak di desa Tanjung Belit bermain di Sungai Subayang. 
01_4
pohon-pohon di Suaka Margasatwa Rimbang Baling. 

“Bang foto, bang foto” teriak anak-anak yang bermain di tepi sungai saat melihat perahu kami melewati mereka. Sungai Subayang sore itu sangat jernih. Sudah satu minggu tidak turun hujan di hulu sungai, akibatnya, batu-batu yang berada di dasar dapat terlihat dengan jelas dari atas. Perahu yang ditumpangi delapan orang baru saja melewati desa bernama Tanjung Belit, desa ini adalah desa terakhir sebelum masuk ke dalam Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Lanskap perbukitan dengan hutan rimba serta sungai yang sedikit berjeram menemani perjalanan kami. Beberapa kali baling-baling mesin perahu yang kami tumpangi tersangkut batu. “ Beban kita berat” ujar Datuk Marlan yang memegang kemudi perahu, menyengir lebar ke arah saya. Perjalanan ini istimewa, seorang pemimpin adat menjemput kami.

01_3
monyet-monyet di tepian Sungai Subayang. 
01_5
berperahu di sungai Subayang di sore hari. 

20 menit dari Desa Tanjung Belit, perahu atau dalam bahasa lokalnya disebut piau melewati desa Muara Bio. Muara Bio adalah percabangan dari dua Sungai, sungai Subayang dan Sungai Bio. Kedua sungai ini adalah sungai besar di dalam kawasan suaka margasatwa. Saat kerajaan Gunung Sahilan masih memerintah di Kampar Kiri, Muara Bio merupakan tempat dimana sumpah sote/ sumpah adat masyarakat Kampar Kiri berlangsung. Dari desa Muaro Bio, jika perahu diarahkan ke kiri. Kita melewati sungai Subayang dan masuk kedalam zona inti Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Terdapat enam desa di dalam zona inti kawasan. Hulu dari sungai adalah desa Pangkalan Serai, Kabupaten Kampar, desa ini berbatas langsung dengan Kabupaten Lima Puluh Koto, Provinsi Sumatera Barat.

01_6
Muara Bio di Sore Hari. 

Tujuan kami adalah sisi kanan Muara Bio, kami menuju desa Koto Lamo, tempat Datuk Marlan tinggal. Raungan mesin perahu semakin keras saat berusaha menaiki beberapa jeram di sungai Bio, saya menghitung ada empat jeram yang kami lewati terlebih dahulu sebelum tiba di desa. Azan maghrib menyambut kedatangan kami di desa Koto Lamo. Kami menginap di area perkemahan yang berada dekat dengan sungai. Sambal bekacau, sambal khas dari ikan sungai yang digoreng terlebih dahulu kemudian diaduk dengan cabe rawit, nasi panas, dan sayur rebus menjadi penutup perjalanan. Hampir satu jam setengah kami menelusuri sungai. Suara jangkrik menjadi musik pengiring tidur.

01_7
di tepian sungai Bio tidak jauh dari tempat meletakkan tenda. 
01_8
camp site di desa Koto Lamo, Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. 

Keesokan paginya, dengan tertatih tatih saya menyeberangi sungai Bio. Arus sungai menjadi tantangan dalam menyeberang. Untuk tiba di desa Koto Lamo, saya terlebih dahulu harus menyeberangi sungai Bio. Dari Desa Koto Lamo, dilanjutkan dengan menyebrangi jembatan gantung setinggi 30 meter dengan panjang 500 meter. Saya merasakan jembatan bergoyang ke kiri ke kanan saat motor melintas di samping.

01_9
pagi hari di desa Koto Lamo, kabupaten Kampar, Provinsi Riau. 
01_13
pagi hari dari desa Koto Lamo, di dekat camp site. 

Bukit Perjanjian atau dahulu dikenal dengan nama Bukit Rumput Manis adalah tujuan perjalan pagi ini. Menurut Datuk Bandaro, pemuka adat masyarakat Koto Lamo, penamaan rumput manis berasal dari nama rumput yang memiliki rasa manis jika dimakan. Rumput ini hanya tumbuh di puncak bukit. Perubahan nama menjadi Bukit Perjanjian, karena pada tahun 2015 ada perjanjian di puncak bukit antara ketua adat desa Koto Lamo bersama beberapa penggiat konservasi alam di Riau untuk menyelamatkan kawasan hutan di Koto Lamo.

01_11
Desa Koto Lamo di lihat dari Bukit Perjanjian,

Dibutuhkan waktu satu jam dari desa Koto Lamo berjalan kaki menuju puncak bukit. Saya meenelusuri jalan tanah dan jalan semen. Topografi tidak terlalu menanjak pada mulanya, namun setelah keluar dari desa, saya disambut dengan tiga tanjakan panjang bersudut 50 derajat. Beberapa masyarakat yang naik kendaraan motor menyapa saya saat sedang beristirahat sebentar. “ Ke ateh?” Tanya mereka, ke ateh merupakan bahasa lokal untuk puncak bukit. Saya hanya bisa membalas pertanyaan itu dengan anggukan. Bernapas saja rasanya sulit.

01_17
halimun di bukit perjanjian dengan latar belakang hutan. 

Di puncak bukit terdapat pelataran dari kayu. Pelataran ini berada di puncak tebing, dengan sisi sebelah kiri adalah jurang sedalam kurang lebih sepuluh meter. Pelataran ini dibuat oleh masyarakat Koto Lamo bersama penggiat konservasi alam. Dari atas pelataran kayu, saya bisa melihat halimun yang menutupi desa Koto lamo, pelan-pelan terbuka. Bukit-bukit pegunungan Bukit Barisan terlihat dengan hamparan hutan rimba yang terlihat mencolok. Seolah olah tidak mau kalah, semburat warna kuning dari sinar matahari yang naik dari peraduan ikut bergabung. Lelah mendaki bukit terbayarkan.

01_10

 

01_12

01_14

01_15

Saya memutuskan untuk turun setelah halimun pergi dan digantikan oleh sengatan sinar matahari yang membakar kulit. Perjalanan turun sama saja dengan perjalanan naik. Tanjakan panjang bersudut 50 derajat berganti dengan turunan tajam. Langkah harus diperhitungkan dengan matang agar tidak terpeleset. Teriakan siamang, kera berbulu hitam terdengar dari arah hutan. Lengkingan siamang menjadi musik hiburan saat saya turun menuju desa Koto Lamo.

 

Selusur Sungai Kopu Kabupaten Kampar

“Sungai ini menjadi satu-satunya transportasi dari dan ke Sumatera Barat, sebelum jalan lintas Sumatera Barat-Riau selesai” ujar salah seorang pemuda desa yang ikut di sampan. Sampan yang kami tumpangi berukuran besar, muat untuk dua puluh orang. Arus sore itu deras dengan air berwarna kecoklatan . “ Agaknya hujan di hulu” gumamnya. Raungan mesin 15 PK dari perahu terdengar keras, kami berjalan pelan melawan arus sungai.

01_12

01_2

Sepuluh menit dari pelabuhan tempat kami naik, haluan perahu berputar kearah kiri. Sinar matahari yang akan naik keperaduan menembus rimbun daun pepohonan ditas perbukitan. Lanskap di depan saya penuh warna. Alur sungai yang tadinya lebar pelan-pelan menyempit. Namun, lebar sungai ini masih bisa dilewati perahu dengan berpapasan. Lanskap perbukitan berubah menjadi tebing-tebing setinggi 30 meter. Tebing ini menjadi pagar pembatas antara sungai dan daratan. Saya masuk di sungai Kapur atau dalam bahasa Kampar, Sungai Kopu.

01_4

01_3

Sungai Kapur adalah anak dari Sungai Kampar, sungai ini mengalir dari Kecamatan Kapur IX Payakumbuh menuju Sungai Kampar di desa Tanjung Muara Takus kecamatan XIII Koto Kampar. Desa Tanjung berjarak lima kilometer kearah barat dari Candi Muara Takus. Sungai Kapur, pada zaman dahulu, sebelum jalan Lintas Sumatera Barat-Pekanbaru dibangun menjadi jalan utama dari dan ke Sumatera Barat. Para pedagang emas, gambir, dan karet pada zaman dahulu menyusuri sungai hingga sampai di Pekanbaru untuk menjual barang dagangan mereka. Setelah jalan lintas Payakumbuh-Pekanbaru diresmikan. Jalur ini pelan-pelan mulai dilupakan, hanya beberapa perahu yang melewati sungai ini.

01_10

Warna dari sungai Kapur juga berbeda dengan sungai Kampar yang menjadi muara dari sungai. Sungai kapur berwarna kehijauan. Karena batu-batu yang berukuran besar dan air sungai yang berwarna kehijauan, maka menurut sebagian besar masyarakat yang berkunjung ke sini. Sungai kapur memiliki julukan “ Green Canyon Riau”. Mereka menganalogikan sungai Kapur dengan Green Canyon di Pangandaran, Propinsi Jawa Barat. Menurut pemuda desa Tanjung yang ikut bersama rombongan, ada 34 batu besar yang memiliki nama di sungai Kapur.Penamaan batu-batu ini karena bentuk dari batu yang unik. Diantara nama itu adalah, batu kodok. Batu kodok, karena batu ini memiliki bentuk seperti mulut kodok. Batu kodok berada di kiri pintu masuk sungai Kapur.

01_6

01_7

Lima menit berperahu dari batu kodok, diantara suara mesin perahu yang memekakkan telinga. Samar-samar terdengar gemuruh air yang jatuh ke sungai.          “ Itu suara air terjun batu hidung” teriak pemuda dikanan saya. Dikiri sungai kapur, terdapat air terjun yang mengalir di batu yang seolah olah dipahat menyerupai hidung manusia. Air terjun ini dinamakan air terjun batu hidung. Ada kepercayaan yang dipercaya masyarakat yang tinggal di desa Tanjung, jika air mengalir dari bagian kanan hidung, maka hasil panen akan melimpah. Air di sekitar batu hidung menggoda saya untuk terjun dari perahu,, sekedar untuk berenang.

01_8

Tidak jauh, dari air terjun batu hidung,berjarak lima menit menggunakan perahu, terdapat air terjun yang jatuh dari batu yang berbentuk seperti senjata tajam. Mereka menamakan batu ini dengan nama batu Parang, dalam bahasa tempatan, disebut dengan batu lodiong. Air terjun batu parang memiliki ketinggian 30 meter. Dengan debit air yang tidak sederas air terjun batu hidung.

Dari batu parang, sayangnya, perjalanan menuju hulu sungai Kapur tidak bisa dilanjutkan. Perahu yang kami gunakan tidak bisa melewati jeram-jeram yang ada. Cobalah berkunjung ke Sungai Kapur, sepulang anda berkunjung dari Candi Muara Takus untuk merasakan sensasi menelusuri tebing-tebing.

Segelas Es Kopi dan Godaan Mie Tiaw di Indah Ria.

Riuh rendah suara para pengunjung pagi itu, kalah oleh suatu suara keras dari seorang perempuan. “ Teh susu, cieeek meja limo”. Dengan logat Sumatera Barat, ia menyampaikan pesanan salah seorang pengunjung ke bagian dapur. Semua meja bulat di kedai kopi sudah penuh terisi pelanggan, ragam masakan menggoda lidah yang berada di atas meja tertangkap mata. Seperti nya, pagi ini harus sedikit menunggu untuk menyesap segelas kopi nikmat. Sebelum sempat keluar. Punggung saya terasa perih, sebuah tepukan keras hinggap. “ Ayo, ke dapur saja, masih ada satu meja disana”. Pemilik suara, mengajak saya untuk duduk di dapur. Sebuah meja bulat, dengan kursi berjumlah lima menjadi tempat singgah.

01_14
Bagian depan kedai Kopi Indah Ria, Jalan Juanda, Pekanbaru.
01_5
Kedai kopi ini buka dari pukul 05.00 Wib hingga 11.00 WIB. semakin siang, semakin sepi.
01_10
Edy Lawalata dan tanda jasa veteran di dinding kedai Kopi Indah Ria.

Pemilik suara ini bernama, Kristin Lawalata, dia adalah salah seorang anak dari Edy Lawalata. Pemilik kedai Kopi Indah Ria, salah satu kedai kopi tua yang ada di kota Pekanbaru. Edy Lawalata, adalah salah seorang veteran perang kemerdekaan di Riau. Saat perang melawan Jepang, dengan menggunakan sepeda onthel miliknya, Edy menyelundupkan senjata. “ Karena Papa putih dan sipit, Jepang tidak curiga. Mereka mengira papa adalah pedagang yang membawa kain  kata Kristin “Padahal, dibalik kain itu ada senjata-senjata yang diselundupkan” sambungnya. Sertifikat bintang jasa veteran di dinding atas meja kasir menjadi bukti pergulatan Edy Lawalata di Rokan Hulu saat itu.

01_1
Ibu Ana, Indah Ria, menjelaskan kopi yang digunakan.
01_6
bagian dapur di Kedai Kopi Indah Ria. Pekanbaru.

“Sudah 40 tahun umur kedai kopi ini” ujar Kristin, mantan manajer perusahaan asing di Surabaya yang biasa dipanggil  Ana. “ Setelah Papa, dilanjutkan oleh abang saya” ujarnya, “ di tahun 2008, pengelolaan kedai kopi saya ambil alih” kata Ana. Kedai kopi Indah Ria, berada di Jalan Juanda, kota Pekanbaru. Ruko berwarna kuning cerah menjadi penanda kedai kopi ini.

01_16
mempersiapkan segelas es kopi

“ Mau minum apa?” Tanya nya, “ Es kopi hitam”. Dengan lincah, dia mengambil kopi hitam dari dandang alumunium. Bau harum dari bubuk kopi tertangkap hidung. Dia memasukkan dua sendok bubuk kopi kedalam saringan yang menyerupai kaus kaki. Sebagian besar kedai-kedai kopi di Pekanbaru yang dikelola oleh warga Tionghoa membuat segelas kopi menggunakan saringan menyrerupai kaus kaki. Metode ini, di Malaysia dan Singapura disebut dengan Hainam style. Hainam style adalah metode pembuatan kopi yang dimiliki oleh para perantau yang berasal dari daerah Hainan, Tiongkok. Mereka membawa tradisi ini masuk ke Indonesia, di pantai Timur Sumatera, dari Sumatera Utara hingga Sumatera Selatan, gaya ini mengakar kuat hingga sekarang.

01
Persiapan membuat segelas es kopi.
01_12
menyaring kopi untuk mendapatkan rasa terbaik.

Penyajian segelas kopi Hainam style menggunakan gelas keramik berukuran kecil. Gelas Keramik membuat kopi yang disajikan tetap panas. Sebelum kopi diseduh, gelas keramik disiram terlebih dahulu dengan air panas, tujuannya agar rasa kopi semakin mantap. Dari tempat penyimpanan, kopi akan dimasukkan kedalam saringan. Kemudian, disiram dengan air panas. Tunggu selama dua menit agar kopi mengendap. Kemudian air panas disiram kembali agar cita rasa kopi semakin dapat.

01_13
gelas retak seribu, gelas yang digunakan untuk menyajikan kopi.

“ Saya menggunakan kopi robusta. 2.5 kg kopi bisa habis untuk satu hari” Ujar Ana. Dengan menggunakan sendok alumunium, dia memperlihatkan kopi yang baru diseduh. “ Warna coklat keemasan ini merupakan penanda kopi sudah siap untuk disajikan”, “ Setelah lima gelas kopi, endapan kopi akan dibuang dari saringan kemudian diganti. Agar citra rasa segar kopi terjaga.” Sambungnya. Saya semakin tidak sabar untuk menyesap es kopi.

01_20
warna kecoklatan dari kopi. Tanda kopi siap untuk dinikmati.

“ Slurup”, indra perasa saya menerjemahkan rasa kopi. Ringan, rasa ini yang pertama tertangkap lidah, dilanjutkan dengan sedikit rasa asam, ditutup dengan rasa pahit yang samar. Rasa asam dan pahit ini berbaur dengan rasa manis yang pas. Sensasi ini membuat saya terus meminum es kopi ini hingga tandas. Pagi yang segar untuk kota Pekanbaru yang panas. Selain es kopi, teh susu merupakan minuman rekomendasi di kedai kopi ini. Ana menggabungkan dua teh dari tanah yang berbeda, Sumatera dan jawa untuk mendapatkan rasa teh susu yang nikmat. Bau harum teh, dan rasa kelat yang ringan dapat dirasakan pada segelas teh susu Indah Ria.

01_8
Mie tiaw Abeng saat dipersiapkan
01_18
Es Kopi dan Mie Tiaw Abeng, salah satu kuliner yang layak dicoba di Kedai Kopi Indah Ria.

Selain es kopi, saya juga memesan mie tiaw. Mie tiaw, menjadi salah satu menu unggulan dari kedai kopi. Abeng, koki yang memasak mie ini berasal dari Bagan Batu, Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir. Langgam mie tiaw Abeng, sama dengan mie tiaw kota Bagan Siapiapi. Mie tiaw dengan tekstur kenyal, berbaur dengan telur orak arik, toge, sawi, dan daging ayam yang ditumis. Karena menggunakan cabe kering, rasa pedas dari mie tiaw ini khas. Jangan khawatir, masakan di kedai kopi Indah Ria, Halal.

Harga minuman di kedai kopi ini tidaklah mahal, Rp 8.000 untuk es kopi, dan Rp 10.000 untuk teh susu. Datanglah ke kedai kopi Indah Ria, untuk merasakan sensasi kuliner nikmat di Pekanbaru.

Gereja Tua di Kota Cahaya

Kota Bagan Siapiapi, pada tahun 1900-an awal, mendapat julukan “ Via Lumiere” atau kota Cahaya, julukan terjadi  karena kelap kelip lampu kota Bagan Siapiapi di malam hari memberikan warna. Industri perikanan yang berkembang pesat saat itu menjadi sebab musabab kenapa julukan ini ada. Berbagai macam fasilitas dasar dibangun Belanda seperti pembangkit listrik, air bersih, dan rumah sakit untuk menunjang kota Bagan Siapiapi.

01_3
bagian depan gereja santo petrus kota Bagan Siapiapi.
01_4
bagian atap gereja Santo Petrus kota Bagan Siapiapi.
01_2
Goa bunda Maria di samping kanan gereja. 

Berdasarkan data sensus tahun 1930, Bagan Siapiapi saat itu memiliki jumlah penduduk 15.321 jiwa. 3266 primbumi, 11.998 Tionghoa, 28 Eropa, dan 29 Asia lainnya. Karena jumlah penduduk yang besar saat itu, kebutuhan akan sekolah semakin mendesak. Pada tahun 1 April 1928, Bagan Siapiapi, kedatangan empat orang suster. 4 suster ini adalah Moeder Kostka Maas, Sr Marie, Laurentia Hamelijcnk, dan St Margaretha Pijnapples.

01_10
bagian dalam gereja
01_19
bagian dalam gereja
01
sisi sebelah kanan dari pintu masuk gereja. 

Empat suster ini berasal dari Congregatie der Zuster van Liefde te Schindel dalam bahasa Indonesia nya Kongregasi Suster Kasih dari Yesus dan Maria Bunda Pertolongan Baik/KYM. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk mendirikan HCS/ Hollandsch-Chineesche School. Pendirian sekolah ini atas permintaan pemerintahan Belanda saat itu. Mereka akan memberikan subsidi ke HCS yang dibangun. Sebelum kedatangan 4 suster, seorang pastur dari Belanda, Benetius Pijnenburg sudah datang dan menetap di kota Bagan Siapiapi pada awal tahun 1928.

01_8
kaca patri di bagian dalam gereja yang didatangkan langsung dari Eropa.
01_21
Detail kaca patri di dalam gereja. 
01_17
patung yesus yang didatangkan langsung dari Eropa. 
01_18
kaca patri dan salib yang juga didatangkan dari Eropa di bagian dalam gereja. 

Pastur dan empat suster mendirikan sekolah dan gereja di kota Bagan Siapiapi. Berdasarkan buku “Gereja dan Karya Misi Katolik di Paroki Santo Petrus dan Paulus” pada saat HCS dibuka, hanya terdapat 27 orang murid, diantaranya adalah 8 orang murid Tionghoa. Gereja dan sekolah menjadi penanda masuknya katolik di Bagan Siapiapi. Tahun depan, gereja ini akan berumur 90 tahun.

Pintu gereja setinggi lima meter terbuat dari kayu kulim/ ulin yang dicat putih dibuka. Yusuf, salah seorang jemaat gereja mengajak saya masuk ke dalam. Dia memperlihatkan suasana di dalam gereja kepada saya. “Kaca patri ini didatangkan langsung dari Eropa” ujar Yusuf. Dengan bangga dia menunjuk kaca patri berukuran besar . Kaca patri ini berjumlah enam dan berada di sisi kiri dan kanan gereja. Di kaca patri, terdapat simbol-simbol yang unik. Selain kaca patri, patung jesus dan bunda maria juga didatangkan langsung dari Eropa. Gereja Paroki Santo Petrus Bagan Siapiapi berada di jalan Mawar, di depan sekolah Yayasan Bintang Laut. Kontruksi gereja terbuat dari kayu kulim. Lantai, dinding, hingga ke atap gereja, semua menggunakan konstruksi kayu. Sejak berdiri di tahun 1928 hingga sekarang, tidak ada perubahan dari bentuk gereja.

01_15
tangga kayu menuju lantai dua. 
01_11
mesin jam yang didatangkan langsung dari Jerman. 
01_12
detail mesin jam

 

Yusuf mengajak saya naik ke lantai dua. Derit kayu terdengar saat tangga kayu dipijak. Di lantai dua, terdapat bagian yang unik. Sebuah mesin jam yang dibawa langsung dari German berada di sini. Jam tua ini dicat hijau dengan jantung jam di pendulum mekanis dan pemberat. Pergerakan jam bergantung dengan gravitasi. Suara “ trak, trak” dari mesin tertangkap telinga saat saya berdiri di sebelah jam. Menurut Yusuf, jam ini sudah ada sejak tahun 1930. Untuk melihat wujud jam, Yusuf mengajak saya ke halaman depan gereja. Dia menunjuk ke bagian puncak gereja. “ Lihat, itu jam nya”. Sebuah jam tua klasik dipayungi atap seng terlihat. Angka-angka romawi yang berukuran besar serta jarum besi terlihat jelas.

01_20
jam yang berada di bagian puncak gereja dengan detail angka angka romawi. 

Misa di gereja ini berlangsung di hari Jumat. Bangku-bangku kayu di gereja akan berisi umat pada pagi hari. Siapa yang menyangka, di kota yang berada di utara Provinsi Riau terdapat Gereja yang beregister langsung ke Vatikan.

Menikmati Pekanbaru Tempo Dulu di Pangsit Akun.

“ Saya jualan sejak tahun 1978”. Ucap Akun, membuka pembicaraan kami pagi itu. Beliau merupakan pemilik warung pangsit yang berada di Jalan Kuras III, Pekanbaru. Akun adalah penjual mie pangsit pertama di kota Pekanbaru. Sebelum berjualan di halaman Rumah Toko/ Ruko yang sekarang ditempatinya. Akun berjualan di Jalan Karet, kemudian pindah ke Jalan Junda, tepatnya di Kedai Kopi Indah Ria. “25 tahun saya berjualan di kedai Kopi Indah Ria, sebelum pindah ke sini”.

01_3
Warung Akun yang berada di bagian depan Ruko. 

“Mie pangsit ayam dan pangsit goreng”. Dua menu ini yang saya pesan. Mie keriting dikeluarkan Akun dari wadah penyimpanannya. “Mie ini saya buat sendiri” ujarnya. Semangkuk mie pangsit Akun terdiri dari mie, pangsit, dan ayam suir. Semua bahan-bahan ini diracik sendiri oleh Akun. Dengan cekatan, tangan lelaki yang tahun ini berumur 75 tahun mempersiapkan menu pesanan saya.

01
Semangkuk mie pangsit Akun dan es kopi
01_1
semangkuk mie pangsit Akun.

Akun adalah generasi kedua dari perantau Tionghoa di kota Pekanbaru, Generasi pertama perantau Tionghoa yang masuk ke kota Pekanbaru sekitar tahun 1920-an. Beberapa perantau membawa keahlian bidang kuliner ke kota Pekanbaru.  Keahlian itu adalah meracik kopi dan memasak. Ilmu ini nantinya mereka wariskan ke anak-anak mereka. Di tahun 1960-an sampai 1990-an akhir, di kota Pekanbaru terdapat restoran besar yang bernama Glass Mas. Di restoran ini, terdapat 100 menu masakan yang bisa dinikmati. Para pegawai Caltex/Chevron sekarang, pejabat-pejabat Provinsi Riau, pejabat negara yang datang ke Pekanbaru saat tu, dan Tauke-tauke merupakan pelanggan restoran ini. Pendiri Glass Mas adalah tiga orang perantau dari Tiongkok. Akun merupakan keponakan dari salah seorang pendiri rumah makan ini. Akun mendapatkan ilmu membuat mie pangsit dari generasi pertama perantau Tionghoa.

P_20170315_104059
Akun meracik mie pangsitnya.

Bau harum dari kuah kaldu tercium saat mie pangsit dihidangkan. Mie pangsit Akun memiliki penyajian yang unik. Biasanya mie pangsit Tionghoa menggunakan daging merah. Akun mengganti daging merah ini menjadi daging ayam yang sudah disuir. “ Saat saya pertama kali menjual mie pangsit, orang sering mengira daging merah itu daging babi” katanya, “ Lalu, saya coba ganti dengan daging ayam yang disuir, agar pelanggan bisa menikmati mie saya.“. Para pelanggan menyukai inovasi yang dilakukan Akun, sehingga, sejak tahun 1978 hingga sekarang Akun menggunakan daging suir. Jangan khawatir, mie pangisit Akun halal. Dengan menggunakan sumpit bambu saya menarik mie dari mangkuk. “ Sluruuup”. Nikmat. Kekenyalan mie yang dibuat Akun pas, bau harum dari tepung tertangkap hidung, bau ini memancing saya untuk menarik kembali mie dari mangkuk. Rasa kuah kaldu yang ringan dan segar terasa di lidah. Mie keriting berpadu di dalam mulut dengan pangsit. Tidak ada prosesi yang rumit dalam menyiapkan semangkuk mie Akun. Sederhana namun dengan rasa yang lezat.

01_2
semangkuk mie pangsit yang sedang dipersiapkan oleh Akun.
P_20170315_104756
Akun, penjual mie pangsit pertama di Pekanbaru. 

Es kopi dingin menjadi minuman pagi itu, ada sedikit rasa pait yang tertinggal dilidah dari kopi es racikan isteri beliau. Rasa ini seolah olah menjadi pengobat lidah setelah tanpa ampun dihajar rasa nikmat dari mie pangsit. Pasangan suami isteri ini membuka warung mereka dari pukul 07.00 WIB sampai 11.00 WIB. Sayangnya, kedua anak mereka belum  tertarik meneruskan keahlian ini. Jika anda sedang berada di Pekanbaru, cobalah nikmati semangkuk mie pangsit Akun. Cukup dengan Rp 15.000,- anda sudah bisa menikmati kuliner tempo dulu di Pekanbaru.

 

Ngabuburit Asik di Tepi Sungai Siak.

sembilu yang dulu
biarlah berlalu
bekerja bersama hati
kita ini insan
bukan seekor sapi

 

Reff dari lagu berjudul Zona Nyaman oleh band Fourtwnty, grup band Indie asal Jakarta mengalun dari halaman rumah tua berlanggam Melayu yang berada di tepi sungai Siak, kota Pekanbaru. Suasana sore menjelang buka puasa yang terik tidak menghalangi grup musik ini untuk bernyanyi bersama 60 orang. Kampung Bandar sore itu menjadi semarak.

01_2
sebelum memulai bisik musik
01_6
check sound sebelum memulai bisik musik

Fourtwnty band pengisi sound track film Filosofi Kopi 2 menjadi band pertama dalam bisik musik. Bisik musik merupakan kegiatan yang melibatkan tiga komunitas. Pekanbaru Heritage, Musiccorner.id, dan Rekanada. Tiga komunitas dengan latar belakang berbeda, membuat konser bersifat rahasia dengan undangan yang sangat terbatas. Para undangan yang hadir dalam kegiatan bisik musik diseleksi terlebih dahulu. Untuk bisa hadir dalam konser ini mereka diberikan tantangan untuk membuat video yang diupload di sosial media mereka. Team dari bisik musik akan menyeleksi mereka. Selain undangan. Blogger dan media sore itu turut hadir di kawasan heritage Pekanbaru yang dikenal dengan sebutan Kampung Bandar. Tujuan diadakan bisik musik untuk membangun kepedulian akan kawasan heritage Pekanbaru serta membangun “ rasa” ke para penikmat musik di Pekanbaru.

01_8
Freza menjadi pembuka Bisik Musik
01_9
undangan hadir dalam bisik musik

“Sudah oke bang?” Ari Lesmana, vokalis Fourtwnty yang berasal dari Pekanbaru, bertanya kepada teman-teman yang sibuk mempersiapkan sound system. Sembari menunggu sound system siap, Ari memainkan telepon genggam sembari duduk di bawah rumah panggung yang berumur hampir 200 tahun yang menjadi tempat konser musik sore itu. Di samping gang di depan rumah tua, Nuwi, gitaris fourtwnty duduk di emperan salah satu rumah di dekat tempat konser sembari memainkan gitar. Jendela rumah dibuka oleh pemilik rumah, dengan logat Sumatera Barat dia berkata “ nyio mencaliak” yang artinya ingin melihat konser. Kesederhanaan menjadi tema konser.

01_13
Ari dan Nuwi di rumah tua Kampung Bandar.
01_7
Para undangan dan media yang hadir dalam bisik musik

Pada pukul 17.00 Wib. Undangan, blogger, dan media sudah tiba di halaman rumah. Sebelum tiba di rumah, mereka berjalan sejauh 200 meter terlebih dahulu dari rumah Singgah Sultan Syarif Kasim II yang berada di tepi sungai Siak. Rumah yang terletak di bawah jembatan Siak III, Kota Pekanbaru yang sudah berumur hampir 150 tahun menjadi titik kumpul para undangan. Di rumah Singgah, mereka disambut oleh teman-teman dari Pekanbaru Heritage Walk/PH. PH memandu mereka menuju tempat konser.

01_5
Ari Lesmana bermusik di Kampung Bandar.
01_6
Nuwi di tangga Rumah di Kampung Bandar.

Setelah sound system siap. Bisik musik dibuka oleh Freza Musik, Reza memainkan single terbarunya yang berjudul “ Sepeda Tak Berlampu”. Lagu ini terinspirasi dari kerja keras Pekanbaru Heritage/PH mengetuk pintu-pintu bangunan tua di Kampung Bandar lalu meyakinkan pemilik bangunan tua untuk membuka pintu sebagai destinasi wisata sejarah. Setelah Reza selesai, sesi dari fourtwnty tiba. Sebelum mulai bernyanyi, Ari terlebih dahulu   melepaskan sandal bertali yang dipakainya. Hal ini sudah menjadi kebiasaan setiap dia manggung. Dengan santai, Ari berdiri di halaman rumah yang berlapis semen. Nuwi memilih untuk duduk di tepi tangga batu rumah tua. Pertunjukan dimulai,  suasana sore itu PECAH. 60 orang yang hadir tanpa malu-malu bernyanyi bersama fourtwnty. Tidak ada batas, tidak ada jarak. Semua berbaur.

01_1
Terima kasih four twnty untuk Bisik Musik.

Selama setengah jam, empat lagu dimainkan oleh fourtwnty. Puncak dari pertunjukan bisik musik adalah saat fourtwnty memainkan single terbaru mereka yang dua bulan lagi akan diluncurkan. Pekanbaru beruntung sore itu. Bisik musik, sebuah alternatif baru dalam mengenalkan dan mengajak penikmat seni di kota Pekanbaru.